Hendi Pernah Ditantang Budi Santoso Jadikan Semarang Bebas Banjir

17 Maret 2021

SEMARANG, suaramerdeka.com - Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi (Hendi) sedikit bercerita tentang awal karirnya menjabat Wali Kota pada periode sebelumnya. Saat itu dia meminta saran dari Ir Budi Santoso, mengenai apa yang prioritas dilakukan untuk Kota Lumpia ini.

“Jadi saat itu saya sowan. Pak Budi bilang ‘kamu kalau bisa membuat Semarang tidak banjir, kamu jadi legenda’. Tapi kok itu susahnya minta ampun,” jelas Hendi.

Sejak 2013, terang Hendi, Pemkot Semarang bekerja keras mencari solusi mengatasi banjir. Mulai membuat drainase dan sistem-sistem polder dengan pompa-pompa di banyak penjuru. Lalu revitalisasi sungai Banjirkanal Timur, Banjirkanal Barat sudah jadi. Tinggal revitalisasi Kali Beringin di wilayah Semarang Barat yang masih dalam tahap pembebasan lahan.

Hal itu disampaikan Hendi dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Mengokohkan Semarang Kota Internasional’ di Menara Suara Merdeka, Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Selasa, 16 Maret 2021.

Ketua Umum Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang, Ir Budi Santoso mempertanyakan ukuran kata “hebat” dalam slogan “Semarang Hebat”. Hal ini supaya lebih spesifik, dalam pemaknaannya yang sesuai dengan realitas kehidupan di kota ini.

“Slogan Semarang Hebat  bagi rakyat kecil itu ukurannya seperti apa. Karena bisa diukur secara kualitatif dan kuantitatif.  Yang paling bisa diukur itu indeks pembangunan manusia (IPM), seberapa? Meningkat atau tidak?,” jelas Ir Budi Santoso.

Adapun, lanjut, Ir Budi, yang diketahui publik, indeks kebahagiaan di Kota Semarang naik dalam tiga tahun terakhir. Lantas, cukupkah hal tersebut menjadi ukurannya.

“Nah yang kualitatif  gampang, sederhana. Ukurannya apakah sebagai warga Semarang bangga dengan kotanya atau tidak. Saya pribadi bangga karena ada peningkatan. Tapi pas lagi bangga-bangganya ‘mak bres’ hujan deras dan banjir di mana-mana (beberap waktu lalu),” ujarnya.

Melihat hal itu, Ir Budi lantas berfikir dan berdiskusi dengan para anggota DP2K. Ada fenomena yang bisa dilihat jelas, di mana saat pasang air laut di wilayah pesisir Semarang menyebabkan kerja pompa sistem polder menjadi sia-sia. Air kembali ke daratan karena laut sedang pasang.

“Istilahnya back water. Lalu kalau begitu kita tengok hal lain. Kerja sama dengan daerah hulu belum efektif. Hubungan dengan Kabupaten Kendal, Demak, dan Ungaran yang harus dijalin,” jelas dia.  

Menurut Ir Budi, kerja sama untuk menyusun tata-ruang yang tepat dan lain-lain yang berhubungan masih kurang. Kondisi seperti banjir akan memengaruhi indeks pembangunan manusia di sebuah kota.

“Indeks pembangunan manusia yang akan jadi indeks kebahagiaan. Sebuah kehidupan suatu wilayah itu menomorsatukan  kemanusiaan dan kesejahteraan keluarga. Ini yang jadi ukuran kebahagian warga. Maka ukuran slogan Semarang Hebat harus jelas,” bebernya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah, Kukrit Suryo Wicaksono, menjelaskan, Kota Semarang sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah akan menjadi pusat kehidupan pembangunan manusia. Mulai dari sisi ekonomi bisnis, pendidikan, dan kesehatan.

“Di Jawa Tengah ini, mulai banyak industri. Kalau Kawasan Industri di Kabupaten Batang itu jadi,  bayangkan mereka pengusaha stay-nya di mana? (pasti) Semarang.  Semarang akan jadi pusat penghidupan, pendidikan, dan kesehatan. Sekolahnya anak-anak para pengusaha dan banyak pekerja di sini, periksa kesehatan juga ke sini,” ungkap CEO Suara Merdeka Network.

Video Lainnya

\
X