• KANAL BERITA

Kejayaan Kopi Sumowono Patut Diketahui Khalayak

PRODUK KOPI: Salah satu warga Sumowono, Giyono menunjukkan produk kopi yang dihasilkan dari wilayahnya yang sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. (suaramerdeka.com / dok)
PRODUK KOPI: Salah satu warga Sumowono, Giyono menunjukkan produk kopi yang dihasilkan dari wilayahnya yang sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. (suaramerdeka.com / dok)

SUMOWONO, suaramerdeka.com - Kisah citarasa kopi asal Sumowono, Kabupaten Semarang yang sempat terkenal pada masa kolonial Belanda di tanah air masih membekas di ingatan Giyono, warga setempat. Bersama beberapa teman pecinta kopi, dia kemudian mendirikan Asosiasi Kasli Sumowono (Askas) dengan tujuan mengembalikan kejayaan kopi asal lereng Gunung Ungaran itu.

“Ada lebih dari 10 merek produk kopi Sumowono yang beredar di pasaran saat ini. Nantinya hanya ada satu merk Askas yang mewakili cita rasa tinggi kopi dari wilayah Kami,” katanya ketika ditemui di sela kegiatan “Sumowono Ngopi Bareng” di halaman Kantor Kecamatan Sumowono.

Sampai awal Februari 2020, lanjut Giyono, Askas yang beranggotakan 18 pengusaha kopi it uterus bergerak bersama dari hulu hingga hilir. Tidak hanya memperhatikan pemasaran, anggota ASKAS juga sudah bekerja sama dengan kelompok tani untuk melakukan edukasi bercocok tanam dan pengolahan kopi. Salah satunya penggunaan pupuk non-pestisida dan menghindari petik hijau, serta penjemuran biji kopi yang higienis. Sehingga mutu biji kopi akan benar-benar terjaga.

“Selama ini penjualan dilakukan secara langsung ke beberapa kafe di Kabupaten Semarang, Yogyakarta, Magelang, dan Purwodadi. Adapun penjualan daring, pesanan kerap datang dari pembeli di Sumatera hingga Kalimantan,” terangnya.

Giyono menjabarkan, jumlah luasan kebun kopi rakyat di Sumowono ada lebih dari seribu hektar. Rata-rata setiap hektarnya dapat menghasilkan lima ton biji kopi jenis Robusta.

Bentuk Korporasi

Untuk jenis Arabica hanya empat ton per hektare. Kopi Sumowono yang sudah diolah dan beredar di pasar, biasa menggunakan merek Kopi Lempuyangan, Esensa, KJlegong, Sukorini, Candisongo, Gumukdali, dan Kopi Biyung. “Harapannya jalinan kerja sama dengan pengusaha kopi dalam kelompok Askas dapat lebih luas lagi,” imbuh dia.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Pangan Kabupaten Semarang, Wigati Sunu yang hadir pada acara itu meminta para pengusaha kopi asal Sumowono untuk membentuk korporasi guna membuka pasar yang lebih luas. Dia mencontohkan produk Kopi Gunung Kelir dari Kecamatan Jambu yang sudah mampu menembus pasar ekspor hingga Timur Tengah dan Eropa.

Akhir-akhir ini, produk kopi telah menjadi tren pergaulan generasi muda. Terbukti dengan adanya puluhan barista atau penyaji kopi dari kalangan anak muda. Kondisi yang ada, mestinya menjadi peluang pasar tersendiri untuk produk kopi unggulan. “Kabupaten Semarang adalah salah satu sentra kopi terbaik di Jawa Tengah. Perlu kerja sama antara petani dan pengusaha lokal agar bisa berkomunikasi bisnis dengan para eksportir,” kata Wigati Sunu.


(Ranin Agung/CN26/SM Network)