• KANAL BERITA

Mencicipi Sate Legendaris di Kota Magelang

LAYANI KONSUMEN: Bagus Prasetyo melayani konsumen di warung sate peninggalan mertuanya. (suaramerdeka.com / Eko Priyono)
LAYANI KONSUMEN: Bagus Prasetyo melayani konsumen di warung sate peninggalan mertuanya. (suaramerdeka.com / Eko Priyono)

MAGELANG, suaramerdeka.com - Di tengah menjamurnya aneka warung makan saat ini, ternyata ada juga warung legendaris yang masih bertahan. Salah satunya warung sate H  Umar yang ada di Jalan Pahlawan 27, atau depan Gereja Bethel Kota Magelang.

Sate ayam tersebut beroperasi sejak 1948, awalnya dijual keliling kampung. Sejak 1984 berjualan di kios yang ditempati sampai sekarang. Bergulirnya waktu, penjualnya pun dilanjutkan oleh anak menantunya, yakni Bagus Prasetyo sejak 1995.

Istimewanya, suami Wismi Agus Wahyuningsih itu, bukan pedagang murni. Tetapi birokrat di Pemkab Magelang. Dengan demikian setiap pagi sampai siang dia ngantor di instansi pemerintah, dan tiap pukul 17.00 sampai.22.30 berdagang sate. "Sekarang saya sudah pensiun dengan jabatan terakhir sebagai kepala bidang di sebuah instansi. Kendati pejabat tetapi di kantor saya lebih dikenal dengan sebutan bakul sate," kata Bagus.

Alumnus Akademi Publisistik Pembangunan Dipanagara (APPD) Semarang tahun 1984 itu menuturkan, selama ini daging ayam yang digunakan sebagai bahan baku sate,
ayamnya dipotong sendiri. "Dijamin halal dan berkah, saya potong ayam dengan membaca bismillah," tuturnya.

Kini setiap hari dia mempersiapkan 600-800 tusuk sate ayam. Dahulu ketika belum banyak warung sate, setiap hari memotong 40 ekor ayam untuk dibuat sekitar dua ribu tusuk. "Sekarang kan banyak warung," ujarnya.

Kendati demikian jumlah pembelinya juga masih banyak. Dahulu, kata dia, Bupati Magelang Singgih Sanyoto juga sering pesan sate dia untuk konsumsi acara kantor. Sampai saat ini jumlah pelanggannya ribuan dan terus bertambah.

Bisa demikian, menurut dia, karena warung sate itu sudah dikenal sejak zaman dahulu. "Dahulu warung ini dikenal sebagai warung ampera yang merupakan kependekan dari amanat penderitaan rakyat," kata warga Kampung Tulung Nomor 176 Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang itu.


(Eko Priyono/CN26/SM Network)