• KANAL BERITA

Derai-derai Pinus Kalilo

foto: suaramerdeka.com/Diaz A Abidin
foto: suaramerdeka.com/Diaz A Abidin

ADA ketenangan di sana. Kabut, angin segar, cahaya yang menyusup, dan bayangan pohon-pohon pinus merabai kulit di sekujur tubuh. Tempat itu bernama Hutan Pinus Kalilo.

Kami bergerak dari pusat Kota Yogyakarta, DIY. Sekira satu jam waktu yang harus ditempuh menuju Dusun Kalilo Kalilo, Desa Tlogoguwo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Bila ditempuh dari pusat Kota Purworejo, Jawa Tengah, butuh waktu 45 menit saja. Maklum, letaknya berbatasan langsung dengan Kabupaten Kulonprogo, DIY.

Sepanjang perjalanan, keteduhan sudah menyejukkan hati. Mobil melintasi perbukitan dengan jalanan yang berliku dan naik turun. Pohon-pohon sengon, kelapa, dan tetumbuhan hutan mengayomi sepanjang  perjalanan. Di tambah anak-anak padi yang sedang menghijau di sawah-sawah terasering. Ini sedang musim tanam.

Sampai juga di Hutan Pinus Kalilo. Tidak terlalu ramai pada hari itu Kamis (12/12). Sedikit pengunjung di tengah pekan bisa menjadi pilihan hari bagi yang tidak terlalu suka keramaian. Akan berbeda kondisi ketika pada akhir pekan. Pengunjung cukup ramai menurut pengelola.

“Pengunjung sebulan bisa sampai  5.000 orang.  Kalau akhir pekan 500-an orang pengunjung. Kebanyakan pengunjung berasal dari Yogyakarta, Purworejo, dan beberapa kabupaten sekitar,” tutur David Priantoro, Bagian Promosi dan Sekretaris lokasi wisata Hutan Pinus Kalilo.

suaramerdeka.com / Diaz Abidin

Berdayakan Pemuda Desa

Lahan Hutan Pinus itu milik Perhutani dengan  ketinggian 700 meter di atas permukaan air laut (MDPL). Melihat potensi yang ada, pemuda desa dari Karang Taruna Makarti Muktitama, berinisiatif membukanya menjadi lokasi wisata sejak 26 november 2017.

Dengan sumber daya manusia (SDM) orang desa, mereka memiliki keterbatasan. Baik dana atau secara organisasi pengelolaan. Hal itu tak membuat patah arang para pemuda untuk berkreasi. Akhirnya pada 22 Oktober 2019, tempat itu diresmikan oleh Pemerintah Daerah setempat.

“Cari tahu di Perhutani, bagaimana (caranya, red) membuka temoat wisata.  Lalu kita bukalah area ini dengan 70 orang anggota Karang Taruna.  Butuh waktu tujuh bulan untuk babat alas (membersihkan semak belukar). Sambil jalan pengunjung mulai ada. Dengan uang itu, akan kita kembangkan terus,” katanya.

suaramerdeka.com / Diaz Abidin

Watu Tumpang

Hutan Pinus Kalilo memiliki spot utama Watu Tumpang. Sebuah batu besar yang numpang di batu kecil, namun posisinya seimbang. Menurut David, tempat itu awal mula orang yang membuka dusun itu. “Di bawah batu itu tempat pertapaan orang yang babat alas (membuka) desa ini. Kakek buyutnya Mbah Mojoyo sebagai Lurah pertama desa di sini,”  terangnya

Spot menarik lain yang dapat dinikmati bernama Titanic, Jembatan Kayu, Rumah Hobbit, dan Hammock. Melihat minat pada spot foto yang menurun, kini pengelola mengembangkan wahana dengan aktivitas, Di antaranya terdapat  outbond, golf, dan taman kelinci.

suaramerdeka.com / Diaz Abidin


Kambing Etawa

Daerah Purworejo ini subur. Salah satu wilayah di sepanjang pesisir pantai Selatan Jawa Tengah yang dikenal penghasil gula kelapa atau gula jawa. Potensi hutan nyatanya tak terbatas. Salah satu produk wilayah ini, Kambing Etawa. Menurut David, hampir semua warga Dusun bahkan Desa memiliki ternak Kambing Etawa. Pakam ternak berupa tanaman Kaliandra (Calliandra) melimpah dan di tanam di sepanjang jalan-jalan di wilayah itu.

“Kambing-kambing ini untuk kontes biasanya. Hargannya bisa belasan, bahkan puluhan juta. Tergantung kualitas kambingnya. Sudah terkenal sejak lama, era 1990 an mungkin. Potensi ini meningkatkan perekonomian warga desa,” terangnya.

Sakiman, Pembina wisata Hutan Pinus Kalilo, menerangkan bahwa warga setempat memang rata-rata peternak Kambing Etawa, dan petani palawija. Juga membuat nira atau gula kelapa, serta para pedagang. Khusus di Dusun Kalilo terdapat sekitar 250 keluarga. “Dengan wisata Hutan Pinus Kalilo ini tentu akan semakin menggerakkan perekonomian warga desa yang tak kalah saing dengan masyarakat perkotaan,” kata Kasi Pemerintahan Desa Tlogoguwo tersebut.

suaramerdeka.com / Diaz Abidin

Pertumbuhan Ekonomi dari Sektor Pariwisata

Ignatius Adhi, Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah menjelaskan, sudah saatnya sektor pariwisata berkontribusi besar menumbuhkan perekonomian. Sebab, selama ini pertumuhan ekonomi masih ditopang oleh investasi untuk industri di Jawa Tengah.

Padahal dengan potensi alam yang ada di Jawa tengah ini akan menjadi magnet wisata yang kuat. Sasaranya selain wisatawan lokal tentu mancanegara. Jawa Tengah sendiri sudah punya Candi Borobudur sebagai pariwisata prioritas. “Tinggal di integrasikan dengan pariwisata  penyangga ini. Fasilitas kami bisa bantu perbaiki. Kemudian segera membangun SDM kita. Harus siap,” jelasnya.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah juga siap bekerja sama dengan masyarakat serta Pemerintah Provinsi dalam memajukan sektor pariwisata di Jawa Tengah.


(Diaz Abidin/CN26/SM Network)