• KANAL BERITA

Melestarikan Jajanan Tradisional, Melestarikan Budaya Lokal

PUTU BUMBUNG : Wakil Wali Kota Achmad Purnomo membuka tutup putu bumbung menandai pembukaan "Festival Jajanan Tradisional" di lobi The Sunan Hotel Solo. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)
PUTU BUMBUNG : Wakil Wali Kota Achmad Purnomo membuka tutup putu bumbung menandai pembukaan "Festival Jajanan Tradisional" di lobi The Sunan Hotel Solo. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)

MAKANAN  tradisional tak sebatas kudapan untuk memanjakan lidah dan mengenyangkan perut. Makanan tradisional juga cerminan budaya lokal, karena di situ menyimpan banyak cerita. Mulai dari sejarah, bahan baku, cara pembuatan, dan bagi siapa saja makanan itu dihidangkan, apakah bagi raja atau untuk rakyat jelata.

"Makan makanan tradisional berarti ikut melestarikan budaya," kata Wakil Wali Kota Achmad Purnomo ketika membuka "Festival Jajanan Tradisional" di lobi The Sunan Hotel Solo, Senin (28/10).

Beragam makanan tradisional ditampilkan dalam festival itu. Seperti opak angin, putu bumbung, gulali, getuk, cetot, sawut, jamu, es gempol, cendol, dawet, brambang asem, sate kere, gendar pecel, kerengan, tengkleng, rujak, lotis, dan lainnya. Menurut Achmad Purnomo, banyaknya makanan tradisional itu mencerminkan beragamnya budaya Kota Solo dilihat dari sisi kuliner.

Cek penerbangan ke Solo dengan harga termurah

Beragamnya kuliner juga menjadi kelebihan Kota Solo untuk menarik banyak wisatawan yang ingin keplek ilat atau memanjakan lidah. Dengan beragamnya jenis kuliner maka akan banyak pilihan bagi orang yang ingin jajan. Bisnis kuliner juga berdampak luas. Tidak hanya penjaja kuliner saja yang untung, tapi juga para petani, pemasok/pedagang bahan baku, dan bumbu-bumbu.

"Untuk melestarikan makanan tradisional serta melindungi makanan tradisional dari serbuan makanan asing dan cepat saji, kata Purnomo, Pemkot mewajibkan makanan tradisional bagi para OPD dalam setiap pertemuan dan rapat dinas. "Makanan makanan tradisional itu seolah mengingatkan masa lalu kita sewaktu masih kecil," kata Purnomo yang tampak menikmati sekali makan putu bumbung, opak angin, dan es dawet.

Cek hotel di Solo dengan harga terbaik

Dalam gelar wicara sebelum festival jajanan tradisional digelar, akademisi dari Universitas Sebelas Maret Solo, Sri Hastjarjo Ph.D, sekaligus pengurus IMA Chapter Solo mengatakan, harga sebuah makanan atai makanan tradisional tergantung makanan itu dijual atau disajikan.

Ia mencontohkan, harga sepotong getuk yang dijual di pasar tradisional senilai Rp 1.000 bisa menjadi Rp 20.000 kalau disajikan di restoran besar atau hotel berbintang. "Selain tempat, bentuk kemasan juga mempengaruhi harga makanan tradisional," kata dia yang suka kulineran itu.

Presiden IMA Chapter Solo, Retno Wulandari, sekaligus general manager The Sunan Hotel Solo mengatakan, Festival Jajanan Tradisional digelar dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Selain festival jajanan tradisional, juga digelar fashion show (peragaan busaha) khusus klambi lurik, dihari kedua.

"Saya kira mementum ini sangat pas. Selain untuk mengingatkan kembali aneka ragam jajanan atau makanan tradisional juga untuk melestarikan. Melestarikan makanan tradisional juga berarti melestarikan budaya lokal," kata Retno.


(Langgeng Widodo/CN26/SM Network)