• KANAL BERITA

Pecinan Semarang, Bukti Perlawanan Orang Cina terhadap Belanda

Kelenteng Tong Pek Bio  atau biasa disebut Kelenteng Gang Pinggir. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Kelenteng Tong Pek Bio atau biasa disebut Kelenteng Gang Pinggir. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

PERLAWANAN terhadap penjajah Belanda bukan cuma dilakukan oleh warga pribumi. Orang-orang Cina yang tinggal di Indonesia pada saat itu juga tak mau ketinggalan melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Sehingga terjadilah Geger Pecinan yang meletus di Batavia (Jakarta) pada tahun 1740, hingga akhirnya melebar ke daerah lain di Pulau Jawa, salah satunya kota Semarang.

Untuk memudahkan pengawasan terhadap orang-orang Cina, Belanda lalu membangun kampung pecinan di Semarang, terutama setelah pemberontakan orang-orang Cina berhasil dikalahkan oleh Belanda. Sementara benteng pertahanan Belanda sendiri berada di Jalan H Agus Salim Semarang.

Kisah Kampung Pecinan Semarang, menarik minat wartawan sekaligus editor suaramerdeka.com, Nugroho Wahyu Utomo, untuk diolah dalam bentuk tulisan. Maka, dengan ditemani story teller dari Bersukaria Walk, Astrid, melakukan kegiatan Private Tour khusus Pecinan baru-baru ini, sembari mengunjungi kelenteng-kelenteng, pusat kuliner, hingga pembuatan rumah kertas. Hingga akhirnya dirangkum dalam tulisan ini.

Story Teller Bersukaria Walk, Astrid, tengah menjelaskan sejarah Kelenteng Tay Kak Sie. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Story Teller Bersukaria Walk, Astrid, tengah menjelaskan sejarah Kelenteng Tay Kak Sie. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

Siang itu, udara kota Semarang terasa terik. Namun hal itu tak menghalangi kegiatan private tour yang sebelumnya telah direncanakan. Perjalanan dan cerita dari story teller Astrid, diawali dari Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, Semarang. Menurut Astrid, Kelenteng Tay Kak Sie awalnya adalah kelenteng pertama secara historis di pecinan Semarang. Tetapi awalnya berada di Gang Gambiran, bukan di Gang Lombok.

"Berawal ketika seorang pedagang kaya Cina, Khow Ping yang memiliki altar untuk Dewi Kwan Im di Gambiran. Namun karena di lokasi tersebut pernah terjadi perkelahian orang mabuk pada 1753, maka Khow Ping memindahkan altarnya ke daerah yang lebih strategis dan lebih besar. Sehingga pada tahun 1771, Khow Ping membangun Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok," kata Astrid.

Selain strategis, lanjut Astrid, juga ada sungai didekat kelenteng yang masih dilalui oleh kapal-kapal. Klenteng Tay Kak Sie dipindahkan di pinggir sungai karena orang Tiongkok percaya bahwa sungai membawa keberuntungan. Kelenteng Tay Kak Sie merupakan klenteng aliran Tri Dharma yaitu gabungan antara Budha, Kong Hu Tju, dan Tao. Terbukti di kelenteng ada patung Budha, di dalam dan luar.

Sisi lain yang menarik dari Kelenteng Tay Kak Sie adalah pergelaran budaya berupa wayang potehi. Wayang Potehi biasanya digelar pada saat ulang tahun para dewa sebagai hiburan bagi para dewa.

Sementara tak jauh dari Kelenteng Tay Kak Sie, yaitu di sebelahnya ada rumah abu yang juga mengurusi makam milik Oei Tiong Ham (raja gula). Sayangnya, rumah abu ini terbakar pada Maret 2019 yang lalu, dan masih tersisa puing bangunannya.

Kelenteng Dewa

Sejenak memasuki ruang Kelenteng Tay Kak Sie, di dalam terdapat tiga patung Budha. Serta di depan patung Budha, ada patung Dewi Kwan Im sebagai Dewi Welas Asih. Di sebelah kanannya, terdapat patung Dewa Laut, di sisi kiri ada patung Cheng Ho.

"Patung Cheng Ho ini biasanya patungnya diarak ke Sam Po Kong untuk merecharge kembali energinya setahun sekali," jelas Astrid.

Karena di kelenteng ini banyak patung dewanya, terang Astrid, maka di sini disebut sebagai Kelenteng Para Dewa. Di sebelah kanan Kelenteng ini ada altar dewa untuk meminta air kesembuhan, sebelahnya adalah dewa kekayaan, dewa kehidupan. Juga ada raja yang memberikan berkah yang melimpah, dan sebelahnya adalah dewa untuk agama Tao. Kemudian menuju ke sebelah kiri kelenteng, ada dewa yang disebut sebagai dewa kesabaran dan seolah tengah memancing tanpa kail, karena kalau menggunakan kail akan melukai hewannya. Di belakangnya ada dewa neraka, di sebelahnya adalah dewa keadilan. Juga ada dewa Kong Hu Tju, serta dewa obat untuk penyakit hitam.

Di sekitar Kelenteng Tay Kak Sie terdapat penjaja kuliner, mulai dari Lunpia Gang Lombok yang kalau memesan harus antre terlebih dulu, karena lebih diutamakan pembeli yang menyantap di tempat tersebut. Juga di depan kelenteng Tay Kak Sie terdapat penjual Liang Teh yang ramuannya dari alang-alang, krisantium, dan beberapa racikan bahan lainnya. "Warnanya seperti teh sehingga disebut sebagai teh liang. Ramuannya beda dengan yang di Prembaen, karena di Prembaen sudah dimodifikasi. Aslinya Liang Tea itu rasanya tidak manis, dan fungsinya untuk mendinginkan panas dalam," ujar Astrid.

Di dekat Kelenteng Tay Kak Sie, terdapat sungai yang biasa disebut Kali Kuping, meski pun bagian dari Kali Semarang. Dinamakan dengan Kali Kuping karena di sekitarnya terdapat gudang milik Khow Ping. Selanjutnya di seberang Kali Kuping, ada toko obat Panca Jaya atau Ngo Hok Tong, yang menjual obat tradisional Cina terkenal di Semarang.

Bukan Kelenteng

Perjalanan kemudian berlanjut ke Rumah Rasa Dharma. Ketika Astrid hendak menjelaskan sejarah Rumah Rasa Dharma, tiba-tiba seorang wanita tua datang menghampiri dan menawarkan bertemu dengan Staf Sekretariat Rumah Rasa Dharma, Indriyani Hadi Sumarto atau akrab disapa Cik Lingling. Selanjutnya Cik Lingling mengantar ke depan altar yang dipenuhi Sinci. Menurut Cik Lingling, sinci dalam budaya Cina adalah patok dari kayu yang digunakan untuk menghormati orang yang telah meninggal dan memberi pengaruh bagi negara serta dunia. "Jadi nggak sembarangan orang namanya diabadikan dalam sinci," kata Cik Lingling.

Yang menarik, di antara sinci tersebut adalah sinci Gus Dur dan diletakkan di tengah. Bentuknya berbeda dengan sinci yang lain, karena ornamen di atasnya ada yang menyerupai atap masjid Demak. Dipilihnya Gus Dur sebagai tokoh yang dihormati orang Tiong Hoa di Indonesia, karena Gus Dur adalah tokoh plural dan berjasa bagi orang Tiong Hoa.

Menurut Cik Lingling, ihwal menjadikan Gus Dur sebagai bapak Tion Hoa berawal dari ide Sugiri di Bandung. Ide itu kemudian diteruskan ke Haryanto Halim, tentang bagaimana menghormati sosok mantan presiden ke-4 itu. Selanjutnya menghubungi Sapto yang dikenal dekat dengan keluarga Gus Dur untuk membahas ide ini. Kepada keluarga Gus Dur, dijelaskan tentang rencana pembuatan Sinci untuk menghormati Gus Dur dan apa itu Sinci. Oleh Shinta Wahid (istri Gus Dur), disarankan untuk berkonsultasi pula ke Gus Mus, karena dikenal dekat dengan Gus Dur. Ketika bertemu Gus Mus, telah dibuat rencana sinci yang berbentuk kubah masjid. Oleh Gus Mus, bahwa sinci berbentuk kubah masjid bukan ciri khas Gus Dur. Sehingga akhirnya dipilih bentuk atap limasan mirip atap masjid Demak. Atap limasan tiga tingkat ini juga mengandung makna Tuhan, alam, dan manusia.

Pembuatan sinci Gus Dur ini juga mendapat dukungan dari Ketua NU saat itu, Abu Habsin. Bahkan saat peletakkan di tahun 2014, Shinta Wahid juga hadir bersama putri bungsu Gus Dur. "Sempat ada yang bertanya, mengapa Gus Dur disembahyangi? Ini bukan disembah, tetapi dihormati," tegas Cik Lingling.

Terkait Rumah Rasa Dharma, Cik Lingling juga meluruskan anggapan masyarakat yang keliru tentang keberadaan Rumah Rasa Dharma sendiri. "Rumah Rasa Dharma ini bukan Kelenteng, tetapi perkumpulan Tiong Hoa yang juga untuk perkumpulan budaya dan kesenian Cina. "Sehingga di lantai dua gedung Rumah Rasa Dharma, terdapat patung dewa musik, Long Koen Ya," jelasnya.

Sedangkan bangunan Rumah Rasa Dharma memang sudah terlihat modern. Bangunan tersebut memang tidak terlihat mirip dengan bangunan khas Cina. Menurut Cik Lingling, bangunan Rumah Rasa Dharma direnovasi tahun 1973. Dia juga menunjukkan semacam prasasti renovasi bangunan di dekat tangga.

Perjalanan berikutnya adalah mengunjungi Kelenteng Tong Pek Bio. Menurut Astrid, kelenteng ini punya status cukup prestise. Karena meski pun banyak klenteng yang ada di Gang Pinggir, klenteng inilah yang disebut sebagai Klenteng Gang Pinggir. Selain itu ada logo swastika yang selama ini selalu dianggap sebagai logo Nazi, padahal logo tersebut sudah ada sebelum Nazi dan menandakan kebajikan.

"Selain itu kelenteng ini juga menyembah dewa bumi. Terdapat spekulasi ada banyaknya klenteng dengan dewa utama dewa bumi karena Indonesia adalah negara agrikultural atau mata pencaharian utamanya adalah bertani," ungkapnya.

Ciri khas lain dari kelenteng ini juga beda. Astrid menambahkan, biasanya di atap kelenteng terdapat lambang naga dan matahari, tetapi di Tong Pek Bio justru menampilkan burung phoenix dan bunga peoni yang membuat klenteng ini terkesan lebih feminin. Burung phoenix melambangkan kebahagiaan, sedangkan bunga peoni melambangkan cinta.

Kue Bulan

Kunjungan berikutnya ke toko makanan Pia Bayi. Usaha pembuatan pia ini dimulai ketika pemiliknya baru saja melahirkan. Sehingga bayi yang baru saja dilahirkan, dianggapnya memberi keberuntungan usaha pembuatan kue pia. Selain menjual kue pia, tersedia pula kua bulan atau moon cake.

Astrid menjelaskan, pada masa penjajahan, kue bulan dianggap sebagai kue yang selalu dipersembahkan kepada dewa. Sehingga tidak berani ada yang mengutak-atik. Karena itulah, orang Cina memanfaatkan kue bulan sebagai alat untuk menyampaikan pesan rahasia. "Kue bulan itu bentuknya seperti mangkok, dan diisi dengan ketan hitam. Bahkan yang unik diisi dengan biji bunga lotus dan telur asin," paparnya.

Gerbang Pecinan

Uniknya pada masa orang-orang Tionghoa atau Cina dikonsentrasi oleh Belanda pasca Geger Pecinan tahun 1740-an, warga yang akan keluar dari pecinan diwajibkan memiliki paspor atau dikenal dengan istilah sistem passenstelsel. Maka dibangunlah gerbang pecinan dengan bentuk pagar jeruji besi cukup tinggi. Namun setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia, gerbang itu dihancurkan. Selanjutnya dibangun lagi tahun 1998.

Gerbang Pecinan. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Gerbang Pecinan. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

Tepat di seberang gerbang pecinan, terdapat Kelenteng Teng Hok Bio. Arti dari Teng Hok Bio adalah bersyukur pada hidup. "Pada awalnya kelenteng ini adalah untuk ibadah keluarga. Namun pada tahun 1999, mulai dibuka untuk umum. Tiap awal bulan berdasarkan penanggalan Cina, kelenteng ini selalu menyelenggarakan acara tertentu. Bahkan kini ada kantin kebajikan dengan menyajikan makanan gratis," kata Astrid, sembari menambahkan bahwa kelenteng ini menyembah dewa bumi.

Tak jauh dari Kelenteng Teng Hok Bio, terdapat Kelenteng Tek Hay Bio. Kelenteng Tek Hay Bio bisa dikatakan sebagai kelenteng tertua kedua dan berdiri tahun 1750-an. Menurut Astrid, kelenteng ini dewa utamanya adalah dewa laut, Kwi Lak Wa. Uniknya Kwi Lak Wa ini adalah orang Indonesia yang merupakan pedagang asal Palembang dan dia adalah pemimpin dari Geger Pecinan. Pada akhirnya, Kwi Lak Wa ditangkap, namun menghilang di Tegal.

Kelenteng Tek Hay Bio. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Kelenteng Tek Hay Bio. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

"Pada saat itu ada nelayan yang tengah berlayar, tiba-tiba diterjang badai. Tiba-tiba nelayan itu melihat sosok Kwi Lak Wa yang menolong mereka dari amukan badai," kata Astrid.

Tak jauh dari Kelenteng Teng Hok Bio terdapat papan informasi berbentuk seperti pilar besar. Uniknya di atas papan informasi ini terdapat patung ayam. Akan tetapi bangunan papan informasi ini bukan menara ayam. "Patung binatang ayam di atas papan informasi ini menunjukkan shio. Jadi kalau shionya berganti binatang lain, ya diganti pula patung binatang itu. Namun hingga kini justru di atas bangunan itu justru tetap memajang patung ayam," ujar Astrid.

Kursi Arwah

Perjalanan kemudian berlanjut ke daerah Kampung Gabahan. Kampung yang terletak di tepi sungai itu juga memiliki dua kelenteng kuno. Salah satu kelenteng itu adalah kelenteng milik keluarga Tan yang didirikan tahun 1814, yaitu Kelenteng Hwe Kwi Kiong.

"Pada masa penjajahan Belanda, keluarga Tan sangat dekat dengan Belanda. Tak heran jika di dalam kelenteng terdapat foto keluarga Tan yang mengenakan busana khas eropa. Selain itu, di bagian belakang kelenteng masih ada keluarga Tan yang tinggal dan sudah masuk generasi ke-8," terang Astrid.

Foto keluarga Tan yang berbusana khas eropa. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Foto keluarga Tan yang berbusana khas eropa. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

Biasanya, kata Astrid, kalau di altar kelenteng itu bagian tengah adalah patung dewa yang utama. Namun di kelenteng ini terutama di altar utama, justru ditempatkan keturunan keluarga Tan, yaitu Gay Tjiang Seng Ong. Di bagian dalam kelenteng ini terdapat kursi-kursi kecil yang dipersembahkan untuk menyambut arwah keluarga Tan yang datang pada masa tertentu.

Deretan kursi arwah di Kelenteng Hwe Kwi Kiong. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Deretan kursi arwah di Kelenteng Hwe Kwi Kiong. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

Kelenteng kedua yang ada di Kampung Gabahan adalah Kelenteng See Hou Kiong. Kelenteng ini dianggap sebagai kelenteng termuda di daerah pecinan. Awalnya menghadap ke kali. Kelenteng ini meski lebih besar dibanding Tay Kak Sie, namun dia punya dewa yang lebih sedikit. Sebelum 2015, bangunannya tidak secantik ini. Karena baru direnovasi tahun 2015, sejak dibangun tahun 1881.

Mengapa? Karena tempat ini sakral sekali, dan pengelola kelenteng ini harus melakukan ritual khusus kepada dewa, dan baru diizinkan pada 2015. Namun pada tahun 2005, Kelenteng See Hou Kiong justru mendapat best cultural heritage di Semarang. Bahkan tahun 2006 Bubi Chen melakukan konser di tempat ini dan berkolaborasi dengan wayang potehi.

Pabrik Kopi

Di kawasan pecinan juga terdapat bangunan kuno dua lantai dengan pagar selalu tertutup. Bangunan tersebut merupakan pabrik kopi rumahan dan produknya sudah diakui oleh coffee shop Blue Lotus. "Kalau mau beli kopi pada pagi hari bisa memesan biji kopi. Sehingga tak heran jika pagi-pagi melintasi depan rumah ini selalu tercium aroma kopi. Tak jauh dari bangunan tersebut ada Stasiun Kopi yang buka pada jam 4 sore, tetapi tutupnya sesuai kehendak pemiliknya," ungkap Astrid.

Tak jauh dari pabrik kopi rumahan, terdapat Kelenteng Siu Hok Bio. Kelenteng ini secara bangunan adalah kelenteng tertua di Pecinan. Tetapi secara historis yang tertua adalah Tay Kak Sie. Karena pada tahun 1746, cikal bakal Tay Kak Sie sudah muncul meski pun hanya sebuah altar. Sedangkan kelenteng ini didirikan tahun 1750-an. "Kata penjaga di sini, biasanya kalau ada pengunjung berbuat negatif maka tidak akan bisa keluar dan merupakan kelenteng yang menyembah dewa bumi," papar Astrid.

Astrid kemudian mengajak suaramerdeka.com menyusuri sebuah gang yang disebut sebagai Gang Baru. Gang Baru, meski pun berada di daerah Pecinan, namun pedagangnya adalah orang Jawa. Karena pada masa itu orang Tionghoa susah keluar, sehingga mereka mengundang orang Jawa untuk melayani kebutuhan warga Tionghoa di Pecinan.

Orang Miskin

Di kawasan pecinan juga terdapat kelenteng bagi orang miskin, yaitu Kelenteng Hoo Hok Bio. Kelenteng ini menyembah dewa bumi, dan ketika ada ultah dewa, patung diarak keliling Pecinan. Selain itu di dinding ada tiga figur yang menggambarkan filosofi Tionghoa.

"Seseorang bisa dikatakan memiliki hidup sempurna jika mengikuti figur yang ada di dinding tersebut, yaitu panjang umur, memiliki kemakmuran, dan punya keturunan. Sementara tulisan Cina yang menempel  di sisi kanan kelenteng adalah daftar para donatur untuk kelenteng ini," terangnya.

Tepat di depan Kelenteng Hoo Hok Bio, terdapat tempat pembuatan rumah kertas. Pemilik Usaha Market Kertas ini adalah Ong Bing Hok. Bersama dua-tiga karyawannya, mengerjakan pesanan rumah kertas. Menurut Ong, umah kertas adalah rumah arwah yang dikirimkan oleh keluarga kepada kerabat yang sudah wafat supaya ada tempat tinggal di alam sana. "Pesanan tidak tentu. Rata-rata tidak bisa dipastikan, biasanya setiap bulan ada tiga-empat rumah. Untuk satu rumah bisa satu minggu, yang sederhana dari Rp 2 juta hingga puluhan juta," kata Ong.

Tempat pembuatan rumah kertas. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Tempat pembuatan rumah kertas. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

Untuk desain, lanjut Ong, digambarnya sendiri. "Rumah itu cuma simbol, jadi nggak bisa dibuat semaunya. Karena nanti dampaknya nggak bagus. Sehingga di dalam rumah ada gangguan. Jadi harus ada komunikasi dengan arwah," pungkasnya.

Tak jauh dari pembuatan rumah kertas, terdapat pembuatan nisan makam orang Cina. Untuk nisan ini, tidak boleh menggunakan bekas nisan. Karena tujuannya untuk menghormati arwah itu.

 


(Nugroho Wahyu Utomo/CN40/SM Network)