• KANAL BERITA

Dalam Lena di Pantara

Foto Istimewa
Foto Istimewa

KAPAL cepat belum lagi merapat di dermaga, jorokan pantai dengan serakan pasir putih di tepian sudah mendatangkan keriangan para penumpang. Cumbuan ombak yang begitu perlahan menyentuh daratan menambah detak hati yang tak sabar untuk segera labuh jangkar. 

Bersegera untuk menikmati suasana di Pantara, satu dari sekian gugus di Kepulauan Seribu, Jakarta. Sejurus kemudian, kami berjalan manja di kolom dermaga. Mengecek sekeliling dengan lagak bos besar. Semua arah ditatap menyelidik. Panas yang menyengat di siang hari diabaikan demi merekamnya dalam memori. 

Cakrawala dengan jajaran pulau-pulau di seberang luas membentang, laut mengepung daratan dengan kilauan yang menggoyang, sementara rerimbunan pohon berderet rapih di belakang pantai yang seperti meminta untuk dijelajahi. 

Minuman dingin dengan rasa kecut-kecut tipis, sebagai representasi ucapan selamat datang, seperti menjadi booster. Sedikit lelah usai menempuh perjalanan dengan kapal cepat selama dua jam lebih, mendadak tercampakan. Inginnya menyelami dan menapak langkah untuk blusukan di pulau yang relatif tak terlalu luas itu.

Rerimbunan pepohonan seperti kelapa, waru, kedongdong, menawarkan keteduhan ketika diarahkan sejenak untuk beristirahat di pondokan.  Pondokan yang memanjakan. Pantai sebagai halaman. Menikmatinya dari kursi pantai di bawah teduh teras dan pepohonan. 

Segar pun didapat apalagi hari menjelang sore. Saatnya untuk bergembira ria. Salah satunya berkecipakan di pantai yang landai. Memandangi beningnya air. Ombak sendiri tak terasa karena gelombangnya tertahan di jajaran karang. Pasir putihnya yang lembut lumayan sebagai tempat berjalan santai. 

Di ufuk barat, matahari tampak akan tenggelam. Sejumlah rekan bergegas memburunya dengan naik perahu dengan bergerak ke tengah laut melalui dermaga di belakang pulau. Rombongan lainnya bertahan di sekitar pantai karena kadung keranjingan bermain kano. Hilir mudik di sekitar dermaga. Mengayuh perlahan, mengayuh cepat guna berkejaran dengan kano lainnya.

Tawa membuncah ketika seorang rekan terjerembab dari kanonya sehingga harus bermandi air laut pada semacam kolam yang tak terlalu dalam. Jika tak hati-hati, goyangan ombak selepas karang pemecah memang bisa bikin kano menjadi oleng. So, jangan sampai meleng di saat menyenangkan termasuk pada saat memasang pose guna memenuhi kebutuhan pokok berwisata, foto-foto di kawasan itu.

Tak terasa malam turun membalut. Istirahat pun menjerat. Gelap yang sepi sebelum terbangun untuk semburat memulai hari menjadi akselerator yang manjur untuk segera membugarkan tubuh di keesokan hari. Suara angin yang terdengar kencang, menyelip di antara ranting dan dedaunan menjadi musik pengantar.

Pagi lantas menyapa. Surya belum menampakan diri. Kami berniat menyanggongnya di awal hari yang belum sepenuhnya terang. Dalam temaram, di antara bibit mangrove yang tengah di tanam di tepian pantai, ufuk timur kemudian terlihat memerah. Tebalan awan perlahan menyingkir sebelum kemudian bulatan merah itu menjejak jelas. Matahari tengah beranjak memancarkan nur-nur optimisme. Hangat. 

Seperti biasa, jiwa untuk foto-foto kami menyalak. Baik untuk sekadar selfie maupun keroyokan, wefie. Sayang untuk sekadar melewatkan moment seperti itu. Beragam pose pun dijabanin. Di antaranya diselingi dengan gelak tawa, canda ria sehingga suasananya menyenangkan guna melupakan rutinitas yang tak jarang memantik kepenatan. Ujung-ujungnya kurang produktif.

Petualangan belum berakhir. Masih ada sajian-sajian yang sayang untuk dilewatkan. Bermain jetski. Bagaimana adrenaline dipacu dalam tunganggan yang melaju cepat di atas laut. Memantul-mantul menghajar ombak untuk sekadar bermanuver, dan menaklukannya melalui kelokan-kelokan di antara alur air dengan bermain mengandalkan kecepatan. Sebentar, tapi cukup untuk sekadar memicu keberanian.

Usai cukup menurunkan debar di dada, tawaran menyelam datang di areal sekitar dermaga. Dengan kedalaman yang terjaga, areal itu sudah menawarkan keindahan. Ikan berwarna-warni berkelebatan. Seperti jinak dari kejauhan, tapi mendadak lincah saat didekati apalagi bagi mereka yang ingin menangkapnya barang sejenak. Benar-benar menyenangkan. 

Sama halnya ketika sebagian dari kami dihadapkan pada pilihan untuk memancing. Diantar perahu, mereka menjelajahi laut di sekitaran pulau. Berpindah-pindah lokasi pemberhentian demi menabur joran guna secepatnya disantap sang ikan. Sensasi yang kadang membuat candu terutama ketika menarik hasil pancingan karena beradu kuat dengan ikan-ikan yang kadung menyantap umpan.

Kami benar-benar mereguk potensi kesenangan yang ditawarkan. Membuncahkan semua rasa kegembiraan. Untuk memerasnya kemudian dalam hati yang plong, guna membangun kembali sel-sel baru berupa energi kesegaran sebelum menyambut kembali rutinitas pekerjaan. Sehingga di Pantara, kami seolah terlena!


(Setiady Dwi/CN19/SM Network)

Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar