• KANAL BERITA

Keaneka Ragaman Kelenteng di Pecinan Semarang

Story Teller Bersukaria Walk, Tiwi, tengah menjelaskan sejarah Kelenteng Tay Kak Sie. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Story Teller Bersukaria Walk, Tiwi, tengah menjelaskan sejarah Kelenteng Tay Kak Sie. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Kelenteng-kelenteng yang ada di kawasan pecinan Semarang, memiliki keaneka ragaman. Baik bentuk, ornamen yang menghiasi, sampai sejarahnya. Dalam kegiatan Semarang Walking Tour untuk rute Pecinan yang diselenggarakan Bersukaria Walk, Sabtu (28/9), dua story teller yang bertugas, Astrid dan Tiwi menjelaskan secara detail tentang keanekaragaman kelenteng di kawasan pecinan.

Jumlah peserta yang melimpah, pada akhirnya harus dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dipandu story teller Astrid telah berangkat terlebih dulu, disusul kelompok kedua yang dipandu Tiwi. Kebetulan suaramerdeka.com ikut dalam kelompok kedua yang dipandu Tiwi.

Menurut Tiwi, pada kelenteng biasanya terdapat lukisan bergambar harimau di sebelah kiri dan naga di sebelah kanan. "Itu jika jumlah pintunya ada tiga. Jika hanya satu di kiri, berarti hanya ada lukisan harimau, bila cuma satu di kanan, berarti hanya ada lukisan naga. Semacam Feng Shui," kata alumnus Sastra Perancis Unnes ini.

Selain itu, kata Tiwi, di kelenteng juga terdapat sumur langit, yaitu ruang yang atasnya terbuka sebagai simbolisasi hubungan dengan Tuhan di atas.

Para peserta juga diajak masuk ke Kelenteng Tay Kak Sie atau biasa disebut Kelenteng Gang Lombok, karena berlokasi di Gang Lombok. Di dalam kelenteng terdapat patung Dewi Kwan Im, sedangkan di sisi kiri-kanan terdapat altar untuk fungsi yang berbeda-beda. Misalnya ada altar berwarna hitam sebagai tempat untuk mengobati dari penyakit hitam.

Peserta juga dikenalkan keanekaragaman kafe dan kuliner di kawasan pecinan. Misalnya ada kafe khusus menjual es krim jamu milik Nyonya Meneer. Diolah menjadi es krim dengan rasa tidak pahit, tujuannya agar generasi sekarang bisa mengenal dan menyukai jamu. Juga ada sentra penjualan Pia Bayi. "Disebut Pia Bayi, karena pemilik baru memproduksi kue pia setelah melahirkan dan dianggap sebagai pembawa rezeki. Produknya ada pia ukuran kecil dan besar. Kalau besar, bisa dibagi-bagi seperti irisan pizza," jelasnya.

Selain menjual pia, Pia Bayi juga menjual produk kuliner Kue Bulan. "Dulu pada saat pecinan masih menjadi kawasan tertutup, kue bulan kerap dimanfaatkan untuk alat berkomunikasi dengan warga luar pecinan. Pesan itu ditulis dalam kertas dan disisipkan pada kue bulan. Sehingga petugas keamanan tidak menaruh curiga pada kiriman kue bulan yang ternyata di dalam kertas berisi pesan," pungkasnya.


(Nugroho Wahyu Utomo/CN40/SM Network)