• KANAL BERITA

Mencecap Dingin di Perbukitan Lembang

Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi
Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi

PAGI menjelang ujung, menuju siang, saat kami tiba di antara perbukitan di kawasan timur Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Jentik-jentik dingin seperti langsung menempel. Beruntung, hamparan bentang alam membuat semuanya mendadak terlupakan karena mengemas sebagai sambutan penuh kehangatan.

Di seberang itu, Gunung Tangkuban Parahu kokoh dalam rebahnya. Bedanya, kami melihatnya dari sisi yang relatif baru. Selama ini, gunung itu lebih sering dipandang dari kawasan Kota Bandung sehingga lebih tergambar bentuknya sebagai perahu yang terbalik. 

Di titik baru itu, kesan tradisionalnya memang masih terasa, hanya saja ada bonus yang sayang untuk dilewatkan. Lekukan Kawah Ratu, kawah utama Tangkuban Parahu yang terpantau jelas. Dindingnya yang memagar sekilas terlihat. Tapi yang paling membedakan adalah hembusan asap putih dari kawahnya gunung yang belum lama ini berstatus Waspada. Tipis. Sempat agak tebal tapi itu tak sering. Kami ibarat di gardu pandang.

Bedanya, kami menyaksikannya bisa di bangku-bangku, saung, hingga ayunan termasuk di rentang hammock. Rindangnya pepohonan, terutama pohon pinus, membuat suasana yang terbangun begitu asri. Menjadikannya susah untuk "ngapa-ngapain", pinginnya leyeh-leyeh. Berdiam diri dalam bersantai, menghabiskan waktu untuk berleha-leha, penuh manja. Apalagi ada segelas jus mulberry yang siap diseruput.

Tak hanya gunung api, pandangan bisa diarahkan ke segala sudut yang ndilalah membuat mood menjadi segar, tenang, dan kalem. Bentang antara Lembang dan Tangkuban Parahu terjejer luas. Bukit-bukit melilit permukiman yang bersusunan di antara kebun-kebun yang  menggurat badannya. Pandang yang tak bikin bosan sepanjang digerayangi dari kanan ke kiri dan sebaliknya.

Mendadak ingatan melayang akan perjalanan terjal, menunggangi Landy jadul lewat paket fun offroad menapaki punggung Tangkuban Parahu. Memang treknya tak akan terlihat. Hanya saja, hamparan kerapatan pepohonan yang dilalui jelas terlihat, begitu asri dan tak pernah membayangkan bahwa kita pernah "memijiti"-nya melalui jalanan yang kasar.

Kenapa bisa hafal, padahal pemandangan ada jauh di seberang? Karena titik finish di Cikole bisa dikira-kira lokasinya dari kawasan dalam areal Bukit Mulberry ini. Karena itu, bayangan trek yang dilalui yang sukses membikin banyak goncangan itu tiba-tiba muncul. Keseruan saat itu pun berkelebatan, mengaduk memori di tengah semilir angin kemarau yang bikin terbuai. 

Dari sekadar teriakan kaget dan senang yang begitu tipis bedanya, instruksi untuk berpegangan kencang, dan keriuhan untuk sama-sama mengingatkan kondisi trek yang terjal hingga berlumpur di sepanjang rute offroad Sukawana-Cikole itu, seperti ingin diulang kembali. Nikmat mana yang kau dustakan. Hanya syukur yang bisa membuat itu semua berarti sekalipun sebatas kenangan.

Setelah beraktivitas, tak terasa sore menjelang. Waktunya istirahat. Hawa dingin makin menggigit. Namun suasana sekitar yang menentramkan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Bukit-bukit menjelang temaram. Lampu-lampu warga di kejauhan mulai berpijaran. Ranting-ranting menyapa dalam gerak di antara angin yang berdesir tak terlalu kencang.

Kami memilih untuk bersantai barang sejenak di serambi tenda. Sekadar menikmati obrolan sore sambil kembali meluaskan jejalan pandang di seberang dan sekitar. Di serambi lainnya, kumpulan ibu-ibu muda tampak antusias menggelar foto keroyokan alias wefie, diselingi mereka yang memilih untuk selfie. 

Tawa heboh menandakan keceriaan jelas terdengar. Entah berapa memori kamera yang sudah dihabiskan untuk kesenangan itu. Satu yang pasti, mereka menikmati dan bergembira. Di zaman sekarang, kegiatan foto-foto sepertinya sudah jadi bahan kebutuhan pokok.

Dingin kemudian semakin nyelekit. Jaket jadi barikade sebelum kemudian meninggalkan beranda yang sudah dalam baluran gelap, untuk masuk ke dalam tenda. Tenda yang menyenangkan, layaknya kamar hotel, karena konsepnya adalah glamorous camping, glamping. Sekilas bakal bikin nyenyak, tapi dingin yang menusuk tulang sepertinya merupakan sensasi tersendiri. Dan..., cecapan suhu rendah itu membalur semalaman sekali pun selimut sudah ditarik kencang.

Hanya saja, sebelum malam menjadi larut, kami menyibukan diri dengan merasakan jalaran kehangatan api unggun. Gemeretak kayu karena lumatan api, dan api biru yang kadang menghembus sesaat, plus kobaran kekuningan yang menjilat-jilat menemani kegembiraan yang berusaha ditebar di malam itu. Nyanyian, jogetan, hingga gelak tawa begitu mendominasi sehingga untuk sementara dingin tak menjamah. Di pojokan, aktivitas bebakaran daging dan olahannya banyak diserbu. Dingin memang kadang bikin lapar.

Tak terasa, pagi pun menjelang. Semburat surya meniti di balik perbukitan. Langit beranjak terang. Dari serambi tenda, lapis-lapis kabut tampak mengisi ceruk-ceruk bukit yang belum sepenuhnya tertimpa berkas mentari. Cakep untuk dipotret, karena kata orang, lanskap seperti itu memenuhi kriteria instagramable. Memang bagus. Suasana pagi yang hangat tambah menghangat karena kesan suasana yang tercipta sakral itu. Khas pagi di desa-desa, khas seperti yang banyak tersaji di gambar-gambar, dan ini nyata.

Ya, hamparan itu, sungguh membuat perasaan menjadi senang, dan membuat hati menjadi adem lan ayem. Masih dari serambi tenda, segelas air putih pun diteguk, dan tak lama kemudian tarikan nafas dalam-dalam diambil untuk kemudian melepaskannya perlahan secara berulang, akan betapa segarnya suasana itu, plus kompilasi suasana positif yang dibangun sejak kedatangan termasuk berbaur dengan mereka dalam sebuah permainan membangun tim, membangun kebersamaan yang lebih banyak diisi materi yang bersifat sersan, serius tapi santai sehingga lebih banyak gelak tawanya.

Lelah yang dirasakan, terutama akibat rutinitas sejenak, minggat. Rileks yang amat kuat, dan sesaat yang keramat. Kata orang, mungkin inilah perasaan di-charge itu setelah tenaga low batt, apalagi sampai nge-drop. Cukup menarik diri dari keramaian, dan nikmati suasana sekali pun kegiatan "mengasingkan" diri tak diikuti banyak orang. Menyegarkan! 


(Setiady Dwi/CN19/SM Network)