• KANAL BERITA

Kisah Garuda di Jelajah Kota Lama

Story Teller Bersukaria Walk, Icha, tengah menjelaskan sejarah Hotel Jansen di Jelajah Kota Lama Semarang. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Story Teller Bersukaria Walk, Icha, tengah menjelaskan sejarah Hotel Jansen di Jelajah Kota Lama Semarang. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jelajah Kota Lama sebagai bagian rangkaian Festival Kota Lama, tidak selamanya membahas hal terkait dengan Kota Lama. Adakalanya, story teller dari Bersukaria Walk sebagai pelaksana kegiatan Jelajah Kota Lama, juga membahas kisah lain dari salah satu objek yang ada di Kota Lama.

Salah satu hal yang menarik dari Jelajah Kota Lama untuk rute Het Noorden, baru-baru ini adalah, kisah tentang burung Garuda. Ini dijelaskan oleh story teller Bersukaria Walk, Icha, saat mengajak rombongan berjumlah 20 orang ke Taman Garuda.

"Diceritakan ada dua orang wanita yaitu Kadru dan Winata. Mereka berdua tengah bertaruh tentang kuda yang akan melintas itu warnanya apa. Jika kalah taruhan, harus mau menjadi budak. Kadru ini punya anak namanya Naga, dan Winata punya anak namanya Garuda. Kadru menebak kuda yang lewat warnanya hitam. Sementara Winata menebak kuda yang lewat warnanya putih. Kadru yang licik minta pada Naga untuk melihat dulu kuda apa yang akan melintas. Ternyata warnanya putih. Karena merasa kalah, Kadru menyihir warna kuda itu menjadi hitam," jelas Icha.

Icha menambahkan, lantaran tidak terima ibunya diperbudak Kadru, Garuda lalu minta syarat pada Kadru agar ibunya tak diperbudak. Kadru yang ingin umurnya panjang, minta dicarikan air dari mata air Tirta Amerta. "Tirta Amerta ini adalah milik Dewa Wisnu. Kemudian Garuda meminta Dewa Wisnu, air tersebut. Namun Dewa Wisnu minta pada Garuda agar mau menjadi tunggangannya. Saat istirahat di sebuah ilalang, tanpa sadar ilalang itu masuk ke dalam air yang dibawa Garuda. Ketika sampai ke Kadru, air tersebut juga diminum Naga yang ingin hidup lama. Namun karena air itu ada ilalangnya, sampai akhirnya melukai lidah Naga dan hingga lidah reptil selalu bercabang," jelasnya.

"Itu sebabnya Garuda menjadi lambang negara kita, karena berbakti pada orang tua," tambahnya.

Rombongan Jelajah Kota Lama rute Het Noorden juga dijelaskan tentang sejarah Hotel Jansen, Taman Srigunting, gedung Bank Mandiri, gedung Jakarta Loyd, gedung Pelni, GKBI. Selain itu juga diajak memasuki Gereja Blenduk, Gedung Marabunta, dan Pabrik Rokok Praoe Lajar. Mereka melihat kinerja pembuatan rokok Praoe Lajar dari pemberian saos pada tembakau sampai proses pengepakan.


(Nugroho Wahyu Utomo/CN40/SM Network)