• KANAL BERITA

Re-launching, Sate House Kini Tempati Desa Wisata Lembah Kalipancur

Iswanti Nugroho (kanan) pendiri Sate House "Sriwijaya" saat memberikan sambutan. (suaramerdeka.com/dok)
Iswanti Nugroho (kanan) pendiri Sate House "Sriwijaya" saat memberikan sambutan. (suaramerdeka.com/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Tren yang terjadi pada dunia kuliner dewasa ini adalah adanya ketergantungan teknologi online. Segalanya akan diatur oleh sistem pemesanan dan pengantaran melalui aplikasi, dan Sate House yang pernah menjadi ciri khas kuliner Semarang, telah mengikuti tren itu.

"Itu sebabnya kini Sate House Go! perlu melakukan peluncuran kembali, setelah lebih dari 35 tahun menjadi ikonnya kuliner di Semarang. Terutama untuk jenis makanan sate," kata Eko Nugroho MBA, saat menyambut acara re-launchng di Desa Wisata Lembah Kalipancur Semarang, Senin (19/8).

Peluncuran yang dihadiri para netizen, pecinta kuliner, komunitas online, dan para blogger itu menandai beroperasinya kembali Sate House Sriwijaya di Kalipancur. Sebelumnya pusat kuliner sate ini ada di jalan Sriwijaya (tahun 80-an) dan jalan Imam Bonjol (tahun 90-an). Meski demikian konsepnya tidak berubah yakni menyajikan spesial sate-satean, baik ayam, kambing atau sapi.

Apa yang spesifik dari "Sate House" dibandingkankan dengan usaha sate lain? Dari segi resep olahan tidak ada bedanya dengan sate-sate lain. "Tidak ada resep yang dirahasiakan. Semua resep sate seperti lazimnya resep untuk sate ayam dan sapi. Hanya saja, kami memakai ciri yang njawani. Jadi bumbunya dibuat lebih manis," kata Iswanti Nugroho, pendiri Sate House Sriwijaya.

 


(Bambang Isti/CN40/SM Network)