• KANAL BERITA

Kalau Senggang, Mampirlah ke Museum Sangiran

LIHAT BIORAMA: Seorang anak melihat biorama manusia purba, koleksi Museum Sangiran. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)
LIHAT BIORAMA: Seorang anak melihat biorama manusia purba, koleksi Museum Sangiran. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)

PAGI itu,  saya mengantar istri ke kantor di Solo. Anakku, Mitha, yang kebetulan libur sekolah, saya ajak. Istriku minta dijemput pukul 11.00 WIB, sesuai jam kantornya di hari Jumat. Lantaran waktunya tanggung kalau harus pulang dari Solo ke Karanganyar Kota, saya pun memutus untuk mengajak anak saya jalan-jalan, sambil menunggu jam pulang kantor istri.

Terbersit dalam benakku untuk mengajak anakku jalan-jalan ke Musem Purbakala Sangiran di Kalijambe Sragen yang jaraknya tidak jauh dari kampus Unisri di Joglo Kadipiro Solo. Tanpa persiapan, saya dan Mitha itu berangkat.

Ketika memasuki kawasan museum, Mitha yang masih bocah kelas dua itu kaget, takjub, dan takut, apalagi ketika memasuki ruang displai. Karena miniatur (patung) dan gambar yang ditemui/dilihat hanya berupa manusia purba dan binatang purba, selain narasi. Namun ketika diberi pemahaman, dia jadi berani, bahkan apa saja yang dilihat ditanyakan.

"Di Situs Sangiran ini, untuk pertama kali di tahun 1930 ditemukan fosil Pithecanthropus erectus oleh Profesor Von Koenigswald, seorang arkeolog Jerman. Coba baca penjelasannya yang tertempel di dinding," kataku, ketika menjawab pertanyaan anakku.

Dilihat dari hasil temuannya, Sangiran merupakan situs prasejarah yang berperan dalam memahami proses evolusi manusia dan merupakan situs purbakala paling lengkap di dunia. Dari situlah situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh Komite Heritage Unesco. Selain disimpan di Museum Sangiran, beberapa fosil manusia purba disimpan di Museum Geologi Bandung dan Laboratorium Paleoantropologi Yogyakarta.

Pada awalnya Museum Sangiran dibangun di lahan seluas 1.000 m2 di samping Balai Desa Krikilan, Kalijambe. Lantaran fosil yang ditemukan banyak, di tahun 1980-an museum yang representatif mulai dibangun di lahan seluas 16.675 dan selanjutnya terus diperbaiki dan dilengkapi fasilitasnya.

Cek tiket penerbangan ke Solo dengan harga termurah

Di antaranya, untuk ruang pamer, aula, laboratorium, perpustakaan, ruang audio visual (tempat pemutaran film tentang kehidupan manusia prasejarah), gudang penyimpanan, dan lainnya. Koleksi museum antara lain fosil berbagai jenis manusia purba, baik asli maupun replika, berbagai fosil binatang purba, serta batuan dan alat-alat untuk berburu.

Selain sebagai warisan dunia dan memiliki peran penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, keberadaan Museum Sangiran yang dikelola Pemkab Sragen itu juga sebagai destinasi wisata kelas dunia. "Kalau mau melihat-lihat koleksi sekaligus untuk belajar, datanglah pada hari biasa saat sepi pengunjung, Anda bisa menikmati. Jangan datang di hari Minggu atau hari libur saat ramai pengunjung," kata salah seorang penjaga museum.

Kepala seksi pemanfaatan Museum Sangiran, Iwan Setiawan Bimas mengatakan, meski kelas dunia dan telah masyur, namun belakangan ini kunjungan ke Museum Sangiran berkurang, yakni dari rata-rata 500.000 pengunjung di 2015 menjadi sekitar 400.000 orang di 2018.

Dia tidak bisa memastikan, apakah menurunnya tingkat kunjungan itu karena kurangnya promosi atau sulitnya akses ke museum itu, terutama jalan Solo-Purwodadi di sepanjang Palang Joglo Solo, Kaliyoso Karanganyar, hingga perempatan Kalijambe Sragen yang sebagian rusak dan perbaikan jalan tak kunjung usai.

"Tugas kami di museum ini adalah untuk konservasi dan menjaga kelestarian benda-benda purbakala  serta melakukan edukasi pada masyarakat khususnya bagi anak-anak sekolah dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Soal promosi dan akses ke museum, sudah ada lembaga tersendiri yang mengurusi," pungkasnya.

Dapatkan hotel di Solo dengan harga termurah


(Langgeng Widodo/CN26/SM Network)