• KANAL BERITA

Berjalan Kaki Menyusuri Rute Angkot

Story Teller Bersukaria Walk, Alifati Hanifa, tengah menjelaskan sejarah Kantor Pos Bangkong. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Story Teller Bersukaria Walk, Alifati Hanifa, tengah menjelaskan sejarah Kantor Pos Bangkong. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Angkot dengan kode C10 yang melayani trayek Pasar Johar-Banyumanik, rupanya menjadi nama rute bagi Bersukaria Walk dalam kegiatan Semarang Walking Tour, Minggu (28/7). Namun dalam kegiatan ini, bukan berarti para peserta diminta untuk menumpang angkot dan singgah ke beberapa titik tertentu. Melainkan berjalan kaki menyusuri rute angkot C10 itu.

Sebelumnya, jumlah peserta yang mencapai 62 orang, memaksa tiga story teller, Dewi Meinati, Astrid, dan Alifati Hanifa perlu membagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama dipandu story teller Dewi Meinati, kelompok dua dipandu story teller Astrid, dan kelompok tiga dipandu story teller Alifati Hanifa. Kebetulan suaramerdeka.com ikut dalam kelompok tiga. Mereka berangkat dari Bangkong Plaza di Jalan MT Haryono Semarang.

Objek pertama yang dikunjungi adalah Kantor Pos Bangkong. Menurut Alifati Hanifa, Kantor Pos Bangkong yang berdiri di perempatan Jalan MT Haryono-Jalan A Yani Semarang dulu disebut sebagai Kantor Pos Karangturi. "Pada awalnya di kota Semarang ada tiga kantor pos, yaitu Kantor Pos Besar di Jalan Pemuda, Kantor Pos Candisari, dan Kantor Pos Karangturi," kata Alifati.

Kunjungan lainnya adalah ke Gereja Keluarga Kudus Atmodirono Semarang. Gereja ini merupakan gereja ke-4, setelah gereja Gedangan, Gereja Katedral, dan Gereja Karangpanas. "Semula berdiri gereja ini, para jemaatnya melakukan ibadah misa di Kapel Sedes. Namun karena jemaatnya bertambah banyak, maka dilakukan pembangunan gereja di daerah Atmodirono pada tahun 1939 dan baru rampung tahun 1940. Di sebelahnya terdapat panti asuhan Mandala," kata Alifati.

"Di gereja ini yang membedakan dengan gereja lainnya adalah keberadaan tiga pelindung Yesus, Maria, Yusuf, dan Goa Maria. Selain itu gereja ini juga mengakulturasi dengan budaya Jawa," tambahnya.

Selain itu peserta juga diajak mengunjungi Omah Kendi, di mana di depan rumah tua tersebut disediakan pemiliknya kendi berisi air putih untuk yang membutuhkan. Juga komplek makam Bebeo Chuan yang kini menjadi kawasan permukiman penduduk. Sejumlah makam Cina masih ditemukan pada halaman rumah warga, termasuk tugu makam yang berdiri megah di tengah warung makan, tak jauh dari SMA Sultan Agung.

Peserta juga diajak mengunjungi Pasar Peterongan, Masjid tua pertama NU di Jomblang, dan berakhir di Java Supermall.

 


(Nugroho Wahyu Utomo/CN40/SM Network)