• KANAL BERITA

Kawasan Pecinan Diciptakan Belanda untuk Mudahkan Pengawasan

Story Teller Bersukaria Walk, Dewi Meinati, tengah menjelaskan sejarah Pecinan di Semarang. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Story Teller Bersukaria Walk, Dewi Meinati, tengah menjelaskan sejarah Pecinan di Semarang. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pada tahun 1740 terjadi geger pecinan yang kemudian berdampak bagi pemerintah Belanda saat itu membuat suatu wilayah kawasan pecinan. Tujuannya agar tidak terjadi geger pecinan dan Belanda dengan mudah melakukan pengawasan terhadap warga keturunan Cina saat itu. Hal itu disampaikan story teller Bersukaria Walk, Dewi Meinati, saat memandu peserta Semarang Walking Tour untuk rute Pecinan, Sabtu (27/7).

Sebelumnya, jumlah peserta Semarang Walking Tour yang cukup banyak, memaksa story teller membagi dalam dua kelompok. Kelompok I dipandu story teller Icha dan Kelompok II dipandu story teller Dewi Meinati. Mereka berkumpul di pelataran Kelenteng Tay Kak Sie.

"Kawasan pecinan di Semarang sendiri memang sudah tidak seperti di negaranya. Sejumlah bangunan telah mengalami perubahan. Umumnya bentuk bangunan di pecinan itu memiliki ciri mirip pelana kuda dan bangunan di kawasan pecinan mengandung elemen air, tanah, angin. Dan kawasan pecinan di Semarang sudah mengalami perluasan dan pembatasnya adalah kali," kata Mei, panggilan akrab story teller.

Selanjutnya para peserta diajak masuk ke Kelenteng Tay Kak Sie. Di dalam rumah ibadah tersebut, terdapat sumur langit yang saat ini tengah ditutup papan triplek, karena menurut pengelola, akan ada kegiatan keagamaan. Di sayap kiri dan kanan kelenteng terdapat altar-altar lengkap dengan patung dewa. Misalnya pada altar dengan patung Djing Tjoei Tjo Soe, berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit. Kemudian pada altar dengan patung Hian Thian Siang Tee berfungsi untuk menyembuhkan penyakit hitam.

"Penyakit hitam itu penyakit pada masa itu yang kalau dihirup dan menular bisa menyebabkan kematian," tambah Mei.

Pada Kelenteng Tay Kak Sie juga terdapat tiga pintu. Ketiga pintu itu di bagian bawahnya dipasang kayu untuk dilompati mereka yang hendak masuk. "Tujuannya, ketika masuk dengan kaki kiri yang diangkat, maka debu atau kotoran pada alas kaki bisa hilang tersapu angin," jelas Mei.

Selain berkunjung ke Tay Kak Sie, peserta juga diajak menyusuri objek-objek lain di kawasan pecinan. Seperti Kelenteng Tong Pek Bio, Kelenteng Tek Hay Bio, Rumah Rasa Dharma, dan lain-lain.


(Nugroho Wahyu Utomo/CN40/SM Network)