• KANAL BERITA

Mengungkap Kisah-kisah Kota Lama Semarang

Gereja Blenduk diambil gambarnya dari loteng Gedung Jiwa Sraya. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Gereja Blenduk diambil gambarnya dari loteng Gedung Jiwa Sraya. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

KOTA Lama Semarang dewasa ini sudah terlihat semakin cantik. Terutama setelah dilakukan penataan. Kawasan yang dulu sepi, gelap, bahkan terkesan angker jika malam hari, kini justru terlihat ramai. Banyak warga kota Semarang atau luar kota Semarang berkunjung ke kawasan ini sekadar untuk jalan-jalan, menikmati kuliner, atau swafoto. Namun kawasan Kota Lama Semarang masih menyimpan kisah-kisah yang belum pernah diungkapkan ke publik. Oleh sebab itu, editor sekaligus wartawan suaramerdeka.com, Nugroho Wahyu Utomo, mendapat kesempatan Privat Tour rute Kota Lama Semarang dan mendapat penjelasan dari story teller Bersukaria Walk yang bertugas, terkait kisah-kisah Kota Lama Semarang, terutama sejarah bangunan dan fungsinya.

Cuaca siang itu di kota Semarang cukup terik. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB dan suhu udara siang itu tercatat mencapai 35 derajat celsius. Namun sesuai janji dari story teller Bersukaria Walk, Nadine Himaya, titik pertemuan dilakukan di Taman Srigunting, tepat di depan Gereja Blenduk. Tak lama kemudian sosok wanita cantik berjilbab itu muncul menyapa dengan senyum khasnya. Mahasiswi tingkat akhir Sastra Perancis Unnes ini langsung memaparkan awal mula sejarah Kota Lama Semarang sedetail mungkin.

Kerajaan Mataram

Menurut Nadine, pada awalnya Semarang adalah bagian dari kerajaan yang ada di Yogyakarta, Kerajaan Mataram. "Kenapa bisa jatuh ke Belanda? Dulu waktu Sultan Agung punya musuh Belanda, dan Sultan Agung ingin menyatukan seluruh Jawa ini menjadi kekuasaan Mataram. Namun karena Belanda di Batavia saat itu sudah cukup kuat bercokol dan ini menjadi hambatan yang luar biasa bagi Sultan Agung," ujarnya.  

Sampai akhirnya digantikan Sultan Amangkurat I, lanjutnya, beliau mengaku belum bisa mengalahkan Belanda. "Namun di sisi lain saat itu Mataram mendapat serangan dari Trunojoyo yang berhasil menguasai Mataram. Bahkan berhasil Sultan Amangkurat I dan keluarga ke daerah Banyumas. Mau tidak mau beliau ngungsi ke Banyumas, dan masih berusaha mengembalikan Mataram. Sampai akhirnya Sultan Amangkurat I berpikir bagaimana Mataram bisa kembali ke tangannya," terangnya.

Tetapi pada akhirnya Belanda meminta imbalan yang cukup besar, dan tahu bahwa Mataram tidak bisa melakukannya. Karena harta tidak sebanyak itu dan pasukan yang kocar kacir karena peperangan. "Belanda akhirnya meminta sebagian wilayah Jawa dari setelah Batavia hingga Panarukan sebagai wilayah jajahannya. Semarang sendiri resmi jadi milik Belanda sejak 1708," paparnya.

Semarang jadi wilayah yang sangat diperebutkan karena hasil perkebunan, dan perdagangan melalui laut. Dulu Semarang menjadi gerbang perdagangan bagi Mataram dan sudah diincar Belanda. Akhirnya Belanda memindahkan ibukota Jateng dari Jepara ke Semarang.

Pemakaman Umum

Ketika membahas Taman Srigunting, Nadine menyebut, dulu sempat menjadi pemakaman umum. Tetapi lebih luas ke arah timur dan kemudian dipindah ke Pengapon. "Kemudian berubah menjadi tempat untuk menyiapkan barisan tentara, sehingga disebut Parade Plein," ujarnya.  

Di dekat Taman Srigunting terdapat Gereja Blenduk atau GPIB Emanuel disebut sebagai bangunan tertua di Kota Lama. Gereja ini dibangun 1753. Dulu gereja ini berada tepat tusuk sate jalan tersebut yang di depan. Sehingga disebut sebagai jalannya gereja atau disebut Kerk Straat (jalan gereja). Bangunan ini dulu berbentuk joglo dan kayu. Karena terbakar dan dibangun ulang sampai tahun 1800an ditambahkan Blenduk dan dua menara.

Tak jauh dari Gereja Blenduk ada gedung Oude Trap. Bangunan ini secara fisik sudah banyak berubah. Karena dulu tidak di tengah, tetapi ada sayap kanan dan kiri. Dan pada zaman dulu, orang bisa membeli bangunan secara parsial. Nama Oude Trap artinya Tangga Tua yang sebelumnya di belakang, tetapi kemudian dipindahkan ke depan. Bangunan ini dulu dibangun untuk sebuah bazar yang nyambung dengan Parade Plein.

Lift Pertama

Gedung lainnya adalah Gedung Nederlandsch Indische Levensverzekerings en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ) atau perusahaan asuransi jiwa. Di gedung ini terdapat lift pertama di kota Semarang, bahkan di Indonesia. Lift ini sudah bertenaga listrik, tetapi untuk pintunya harus ditutup dengan tangan, tidak otomatis. Menurut petugas keamanan di gedung tersebut, lift ini memang sudah tidak berfungsi dan dalam posisi menggantung. Lift ini mulai melengkapi gedung sekitar tahun 1920.

Lift di Gedung Jiwa Sraya. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Lift di Gedung Jiwa Sraya. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

Selain itu di gedung yang kini berfungsi sebagai Gedung Jiwa Sraya, juga dilengkapi tangga memutar mirip tangga di mercusuar. Ada tangga yang menuju ruang loteng atas yang terbuka dan menghadap bangunan Gereja Blenduk. Gedung yang diarsiteki oleh Thomas Karsten ini memang dibangun berbentuk letter L untuk mengawasi parade plein dan gereja. Juga merangkul gedung Borneo Sumatra Maatschappij (kini Perusahaan Perdagangan Indonesia) dan Gereja Blenduk dan Parade Plein.

"Bangunan Gedung Jiwa Sraja atau Nilmi merupakan ciri khas bangunan akhir abad 19 dan awal abad 20. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan pintu kupu-kupu. Yaitu pintu ada di sudut dan sayap kanan sayap kiri," jelasnya.

Gedung berikutnya, Borneo Sumatra Maatschappij (Borsumi) adalah perusahaan ekspor-impor dan memegang lisensi untuk frisian flag. Bangunan ini cukup unik karena bergaya art deco.

Di seberang Borsumij adalah gedung yang kini digunakan sebagai resto Ikan Bakar Cianjur. Sebelumnya adalah bangunan untuk rumah singgah para pendeta gereja Blenduk dan bangunan ini merupakan tua kedua. "Bangunan ini didesain dengan gaya arsitektur Belanda, di mana bercirikan tembok yang tebalnya mencapai 25-30 cm. Tujuannya agar dapat menyerap sinar matahari pada waktu pagi-siang hari. Selanjutnya panas dari matahari ini akan meresap masuk ke tembok dan baru dirasakan malam hari, mengingat di Belanda pada malam hari terasa dingin," urainya.

Namun yang terjadi, tambah Nadien, bangunan ini tidak cocok untuk kondisi cuaca di Indonesia khususnya Semarang. Karena di Semarang temperaturnya cukup panas. Uniknya bangunan ini didesain oleh arsitek Cina dan terlihat adanya atapnya yang sepintas mirip kelenteng.

Van Doof

Gedung Van Dorp adalah bangunan percetakan yang cukup terkenal saat itu. Van Doof buka cabang di Surabaya, Semarang, Jakarta, Van Doof pernah mencetak Babad Tanah Jawi. Van Doof ini juga memiliki bangunan yang selanjutnya digunakan untuk toko buku Ratna di Jalan Pemuda Semarang.

Di seberang Van Doof adalah kantor media cetak De Locomotif. Mengapa menggunakan nama De Locomotif? Karena locomotif adalah lanbang kemajuan dengan harapan berita yang tersaji bisa lebih cepat.

Kawasan Gudang

Di belakang bekas De Locomotif terdapat gedung Soesman Kantoor. Gedung ini yang menyediakan peralatan pertanian. "Nggak jauh beda dengan Monod Huiss. Kalau Monod juga untuk perdagangan dan dilengkapi gudang di belakangnya. Jadi gedung-gedung yang ada sekitar Soesman dan Monod lebih berfungsi untuk gudang industri. Bahkan Soesman sendiri sempat mengalami kemajuan di zamannya. Sempat muncul pula dugaan bahwa Soesman adalah milik Oe Tiong Ham, karena ada tulisan tahun 1866 sebagai tahun kelahiran Oei Tiong Ham, padahal sesungguhnya bukan," paparnya.

Namun kalau untuk aset milik ayahnya Oei Tiong Ham ada di sebelah timur. Yaitu yang kini digunakan untuk resto Pring Sewu. Dulu namanya Kiam Gwan Kongsi, dan ini menjadi head office eranya Oei Tiong Ham. Salah satu hal yang patut diteladani dari Oei Tiong Ham adalah dia mampu menghilangkan KKN di usahanya. Maka dalam pembukuan, dia justru melibatkan orang eropa, bukan saudara-saudaranya.

Bicara soal Monod Huis, terdapat dua pintu. Untuk pintu sebelah kanan ada ruangan yang mampu mencapai lantai atas. Sementara untuk pintu kiri tidak ada lorong untuk ke atas. Diduga pemilik Monod Huis ada dua orang pemiliknya. Karena ada satu pintu yang menuju ruang atas dan satu pintu tidak ke ruang atas. Bahkan kamar mandinya juga sendiri-sendiri.

Escompto Bank sudah berdiri sejak 1800an. Padahal di kota Semarang baru berdiri tahun 1912. Setelah diakuisisi Indonesia berubah nama menjadi Bank Dagang Negara. Cabangnya ada di Jakarta, Semarang, Surabaya. Pada bagian atas bangunan, terdapat logo Semarang dan Surabaya pada zaman Hindia Belanda. "Kalau dilihat dari logo kota Semarang berupa gambar perempuan, karena Semarang dianggap sebagai kawasan yang memberi berkah," ungkapnya.

Simbol Obelix

Di sebelahnya adalah gedung Spaar Bank, yaitu kantor yang digelar Belanda agar masyarakat mau menabung. Uniknya di bangunan atas terdapat obelix. Bisa jadi obelix itu hanya simbolisasi saja yaitu sebagai simbol pengetahuan.

Perjalanan privat tour berlanjut ke Nederlandsch Handel Maatschappij (NHM) dan kini digunakan untuk Bank Mandiri Empu Tantular. Dulu gedung ini sendiri sudah menjadi tempat pendistribusian barang impor. Termasuk membantu bangsa Indonesia yang sedang naik haji dalam hal pengiriman wesel. Karena saat itu melihat peluang orang Indonesia berhaji, maka membuka cabang di Jedah untuk pengiriman wesel. Arsitek dari bangunan ini adalah Klinkhamer, yang bentuknya mirip dengan Lawang Sewu. "Lucunya, arsiteknya tidak pernah datang ke Indonesia. Pada bangunan ini juga terdapat keunikan lainnya, yaitu tangga di kanan dan kiri. Bahkan di dalam bank ini terdapat dua brankas merek Lips. Brankas tersebut ada dokumen penting di dalamnya. Bahkan brankas itu sama sekali tidak bisa dibuka," jelasnya.

Tiket Kapal

Di sebelah kantor Bank Mandiri Empu Tantular terdapat gedung Pelni. Gedung ini menjadi tempat penjualan tiket kapal bahkan sampai kini. Gedung milik PT Pelni ini masih khas banget, terutama pada jendela terdapat gambar jangkar. Bangunan ini khas banget Belanda, karena dindingnya tebal. Fungsinya untuk merambatkan panas.

Gedung berikutnya Liverpool & London Insurance. Gedung ini dulu merupakan perusahaan asuransi dan ini menjadi bukti bahwa Indonesia bukan cuma dijajah Belanda, tetapi juga Inggris.

Story Teller Bersukaria Walk, Nadine Himaya, tengah menunjukkan bekas tulisan Liverpool & London Insurance di tembok gedung. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Story Teller Bersukaria Walk, Nadine Himaya tengah menunjukkan bekas tulisan yang terpahat di bekas gedung asuransi milik Inggris. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

Kunjungan berikutnya adalah ke Taman Garuda menjadi bukti bahwa pemerintah memberi nama jalan di daerah ini dengan nama unggas di Indonesia. Di dekat Taman Garuda terdapat gudang Borsumi (Borneo Sumatra Mascapaj). Di Borsumi ini sebagian untuk relokasi pasar Padangrani, untuk hall kedua digunakan penjualan batik, sedangkan untuk hall ketiga untuk food court yang transaksi menggunakan smart card.

Gudang Senjata

Perjalanan lebih jauh lagi ke arah utara, terdapat gedung Prau Lajar ini masih berfungsi hingga sekarang. Bahkan pada jam kerja, masih bisa mencium aroma tembakau. Namun pada bagian bangunan ini lantaran sering terjadi rob, maka tanah ini dinaikkan 10 cm dan pintunya hanya tinggal 1/3nya.

"Awal mula bangunan ini dibangun untuk kantor administrasi perusahaan listrik, dan pembangkit listriknya ada di tambak lorok. Setelah itu pada era Jepang digunakan untuk gudang senjata. Setelah lepas dari Jepang, beberapa tahun terbengkala dan kemudian digunakan untuk PT Prau Lajar. Tembakau yang diolah di pabrik ini diambil dari Temanggung dan yang digunakan kualitas 2 dan 3," terangnya.

Di depan Prau Lajar, terdapat selokan, dulu dibangun benteng dan ada dobel pengaman serta di batas luar terdapat parit. Untuk yang sebelah barat sudah ada Kali Semarang. Sementara parit sebelah timur berada di dekat Marabunta.

Gedung Marabunta sebelumnya digunakan untuk tempat pertunjukkan yang cukup berkelas. Bangunan ini di atasnya terdapat seperti lambung kapal yang terbalik. Selain itu ventilasi pintunya berupa tolak bala. Bisa dibayangkan penggabungan unsur Eropa dan Jawa. Termasuk kacanya menampilkan kisah putri salju.

Penari terkenal yang juga agen rahasia, Matahari, sempat menjadi penari di sini. Bicara soal Matahari, dia adalah sosok wanita multi talent hingga akhirnya direkut dua agen rahasia. Kecantikan Matahari itu bukan cantik rupawan, tetapi cantik secara aura.

Gedung berikutnya adalah Zikel adalah supermarket penyedia kebutuhan sehari-hari. Namun sempat beberapa lama terbengkalai dan berubah menjadi Filosofi Kopi. Filosofi Kopi menjadi pemantik, kopi Indonesia bisa dinikmati semua kalangan.

Di seberangnya terdapat Tecodeko, sempat menjadi tempat kost. Di belakangnya berubah menjadi Achterhuis dan juga menyediakan tempat peminjaman sepeda.

Ada satu bangunan di Kota Lama yang telah hancur dan menjadi tempat perdagangan. Bangunan tersebut adalah Hotel Jansen menjadi hotel yang cukup terkenal dan tua di Kota Lama. Di hotel ini, penari Matahari pernah singgah.

Di sebelah baratnya terdapat Gedung Herman Spiegel ada kaitan dengan Zickel juga. Untuk Spiegel ini skalanya adalah menjual kebutuhan dari barang import. Spiegel sendiri dalam bahasa Jerman berarti kaca. "Berbeda dengan bangunan lainnya, di gedung ini sengaja menampilkan suasana di dalamnya, termasuk ada peta kota lama," ujarnya.

Sementara Gedung yang kini digunakan untuk indomaret dulunya adalah Tiffin yang artinya menyeruput teh, yaitu kafe yang menyediakan menu breakfast gaya Inggris. Di sebelahnya adalah gedung Marba, dulu merupakan cabangnya Zickel. Salah satu keunikan dari Marba adalah warna merah. Gedung ini milik pengusaha asal Yaman dan bergerak dibidang ekspor impor.

 


(Nugroho Wahyu Utomo/CN40/SM Network)

Berita Terkait
Loading...
Komentar