• KANAL BERITA

Melestarikan Alam Lewat Budaya dalam Festival Sindoro-Sumbing

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Sebagai masyarakat dari negara yang terletak di Kawasan Cincin Api (Ring of Fire), kehidupan mayoritas penduduk Indonesia dapat dikatakan terkait dengan keberadaan gunung-gunung di lanskapnya. Gunung-gunung turut membentuk tradisi dan budaya masyarakat yang tinggal turun temurun di kawasan sekitarnya sedari dulu hingga kini, yang membentuk tradisi dan budaya adiluhung sebagai bagian dan identitas khazanah budaya Indonesia.

Sindoro-Sumbing sendiri merupakan dua gunung di Indonesia, yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir identik. Keidentikan tersebut tidak hanya berupa pada fisik gunung-gunung tersebut, namun juga tradisi dan budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya yang terletak di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung.

"Kekayaan-kekayaan tersebut merupakan potensi-potensi yang dapat dikembangkan untuk mengembangkan daerahnya masing-masing. Namun seperti pada daerah-daerah lainnya di Indonesia, permasalahan lingkungan juga turut menerpa Sindoro-Sumbing," ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Temanggung, Woro Anjani di Temanggung, Selasa (25/6).

Woro mengatakan bahwa masyarakat Temanggung dan Wonosobo kaya akan kearifan lokal dalam bentuk cerita dan seni pertunjukan rakyat, yang di dalamnya terkandung ajakan dan pesan untuk menjaga lingkungan. Salah satu folklore yang ada di lereng Sindoro-Sumbing, adalah cerita “Mapageh Sang Watu Kulumpang”.

Upaya Strategis

Tertuang dalam Prasasti Wanua Tengah ialah upacara penutup dari rangkaian “Manusuk Sima”, sebuah upacara penetapan suatu daerah sebagai tanah perdikan (terbebas dari pajak) karena ditetapkan menjadi daerah yang berkewajiban “Mangreksa Wana” (menjaga hutan). "Sebelum upacara penutup tersebut, masyarakat pada masa itu menggelar rangkaian acara pesta rakyat mulai dari pesta kuliner, pertunjukan kesenian rakyat, dan lain sebagainya, sebagai ungkapan rasa syukur," tuturnya.

Oleh karena itu, Woro menilai diperlukan sebuah upaya strategis melalui pendekatan kreatif dalam mengemas ajakan menjaga alam di kedua wilayah tersebut dan bersifat kolaboratif antara masyarakat, komunitas, pemerintah, swasta, dan akademisi.

Salah satu upaya strategis yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Temanggung berkolaborasi dengan Kabupaten Wonosobo adalah deklarasi dan penetapan wilayah Sindoro-Sumbing menjadi daerah yang wajib dijaga kelestariannya.  Kegiatan tersebut akan dikemas dalam rangkaian acara bertajuk Festival Sindoro-Sumbing 2019 (FSS 2019) dengan tema “Lestari”. Lestari alamnya, lestari budayanya, lestari masyarakatnya.

Menurutnya, festival tersebut dilakukan bersama dengan komunitas dan digelar di beberapa desa. Pemuda dari karang taruna juga terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. "Dengan ada festival yang berada di dalam wadah Indonesiana ini, diharap akan tercipta ekosistem kebudayaan. Kami harap ini dapat dilakukan di semua acara yang ada di Temanggung," tambahnya.


(Prajtna Lydiasari/CN26/SM Network)