• KANAL BERITA

Mencecap Rerimbunan Mangunan

Foto: suaramerdeka.com / Setiady Dwi
Foto: suaramerdeka.com / Setiady Dwi

DISAMBUT  kesegaran alam, kami sebenarnya langsung tergoda untuk mencoba hammock yang digantungkan di antara pinus yang berjajar intim. Hanya saja, niatan itu lebih baik disimpan terlebih dahulu. Saestu. Rasanya, santai-santai itu belum terlalu diperlukan. Nantilah kalau sudah capek bener karena berkeliling. Kenikmatan hakiki mengayun sambil memandang langit siang di antara pepohonan yang menjulang itu bisa dilakukan secara paripurna.

Memang jalan ke TKP menawarkan pula tantangan. Tanjakan plus kelokan tersaji relatif panjang, dan bikin konsentrasi mendadak kenceng. Meski demikian, ada kenikmatan yang bisa dirasakan. Jalannya mulus. Dari Yogyakarta Kota, jarak tempuhnya tak terlalu lama.  

Dan di pagi hari itu kami baru tiba di Hutan Pinus Mangunan, Dlingo, Bantul. Satu di antara sekian objek kunjungan di kawasan tersebut yang menjadi magnet bagi pelancong yang gandrung akan keelokan alam.

Apalagi, niatan itu diguyur pula keinginan pekat untuk menambah jumlah postingan di akun sosial media masing-masing. Syukur-syukur, postinganny itu kemudian mendapat like yang banyak dari pengikut atau mereka yang sekadar kepo alias stalking. Pose sebentar pun tak masalah. Toh itu bukti tak terbantahkan, pernah berkunjung ke TKP. Seperti habit baru dalam aktivitas pelancongan seiring demam sosmed.

Maka spot-spot cantik, lokasi yang berdaya tarik, dan tempat yang bikin kepincut alias instagramable di areal hutan pinus itu jadi kriteria utama alias jadi barang buruan yang laris dengan kesan yang tak jarang terasa manis.

Kamera hape seketika langsung menyalak begitu kriteria itu terpenuhi. Kepuasan, sejurus kemudian merebak penuh semerbak dan tak jarang diikuti senyum lebar dan bahkan canda. Penat pun seketika minggat.

Suasana asrep yang mengunci, berpendaran, mengisi ruang-ruang yang dijejaki ke mana pun pada saat melangkah. Jejeran hutan pinus yang sekilas ramping berdekatan begitu menebarkan ketenangan. Adem, bikin ayem lan tentrem. Kalau makan, ini bikin marem.

Hamparan Perbukitan

Memang ada lintasan yang agak menanjak untuk mencapai spot lainnya. Tapi tak apalah. Terlebih, begitu tiba, suasana yang ditawarkan memberikan tambahan kesejukan. Dari pinggir tebing, luas pandang tiba-tiba saja menyuguhkan hamparan perbukitan.

Alur lembah, punggung bukit, lekuk yang dibentuk pepohonan, dan bentang batuan yang memanjang, tak bosan-bosan untuk dijelajahi secara perlahan secara bolak-balik. Kebetulan cuaca saat itu begitu cerah sehingga aksi pandang itu seolah dipuaskan.

Background bentang alam itu memang bagus diabadikan. Dan apalagi kalau bukan untuk dibikin bahan postingan. Sepanjang memori hape berlimpah sehingga bisa tersimpan di galeri, selfie, foto oleh diri sendiri kemudian wefie, foto bareng-bareng, atau sekadar minta tolong orang untuk memotokan, bebas-bebas saja diumbar.

Kurang puas? Masih ada pilihan lain, dengan memanfaatkan studio berbayar. Tinggal daftar saja, tunggu giliran, perhatikan arahan sang juru potret, dan selebihnya meminta difotokan dengan gaya sendiri. Jadi deh gambar yang diinginkan.

Tak terasa, waktu sudah menjelang tengah hari, tiba-tiba saja bayangan ayunan hammock kuat memanggil. Sepoi angin yang cukup terasa, kondisi fisik yang butuh istirahat, dan keinginan untuk rebahan yang mendadak menguat, membuat hammock itu benar-benar makin diinginkan.

Dan benar saja, ayunan itu memanjakan. Sekejap, langsung terpejam. Apalagi, sebelumnya, pandangan mengarah ke langit, digoda pucuk-pucuk pinus yang bergoyang berirama karena sentuhan angin.

Bayang pepohonan yang menjadikan suasana di bawahnya rindang, merupakan doping lainnya di tengah kelelahan yang sebenarnya menyenangkan. Meski sebentar beristirahat, itu lebih dari cukup sebagai tambahan tenaga untuk menjelajah ke lokasi lainnya di kota yang entah kenapa selalu ngangenin itu.


(Setiady Dwi/CN26/SM Network)