• KANAL BERITA

Bersepeda, Mencari Batas Diri

Beragam Tujuan Gowes

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

GOWES  atau bersepeda kian tren. Baik untuk hobi, atau memang sudah sebagai keseharian. Tiap pesepeda memiliki beragam alasan. Mulai dari kalangan biasa hingga profesional. Sebetulnya sudah hal biasa bersepeda di pedesaan. Sementara di perkotaan, kalimat “Bike To Work”, membuat tren tersendiri untuk kembali bersepeda. Bisa dilihat saat jam-jam berangkat kerja di jalan-jalan Kota Semarang.

Umumnya, mereka ingin kembali pada pola hidup sehat dengan berolahraga. Olahraga ini dapat membakar kalori yang cukup cepat. Atau untuk kampanye mengurangi polusi udara.  Namun ada juga yang mencari tahu kemampuannya, dengan mencari batas dirinya.

Bagi Prahayuda Febrianto (30), bersepeda menjadi kesenangan tersendiri. Seperti apa mengenal batas kemampuan diri menggunakan sepeda.  Hobi bersepeda, belum lama dijalaninya. Sekitar awal 2019, ia memulai dengan memodifikasi sepeda Federal tua menjadi jenis touring. Hingga pertengahan tahun ini dia dua kali pernah gowes dengan jarak luar kota. Touring itu menaklukkan jalan datar dan pegunungan.

“Untuk jarak jauh saya dari Semarang ke Yogjakarta menggunakan sepeda touring. Pernah juga ke Kebun Teh pagilaran, Kabupaten Batang, pakai sepeda lipat,”  terang warga Jatingaleh tersebut.

Gowes ke Yogyakarta menjadi pengalaman touring berspeda ke luar kota yang pertama kalinya beberapa waktu lalu. Sebab ia biasa touring menggunakan motor vespa sebagai hobi yang lain. “Coba beranikan diri pakai sepeda. Karena penasaran kuat atau tidak. Kalau touring pakai vespa sudah sering soalnya,” jelas pria yang berkantor di jalan Menteri Supeno, Semarang itu.

10 Jam

Saat gowes itu, ia bersama salah satu komunitas sepeda di Semarang yakni TCC.  Butuh waktu kurang lebih sepuluh jam dari Semarang untuk sampai ke Yogyakarta. “Perhitungan saya, berangkat dari SPBU Gombel Semarang sekitar jam 07.00. Sampai di Jalan Diponegoro, Yogyakarta hampir waktu Maghrib. Agak lama, soalnya mampir di kawasan Candi Borobudur, magelang saat jam makan siang,” terang pria yang berencana menikah dalam waktu dekat ini.

Sebagai penggemar sepeda yang belum lama, ia harus mempersiapkan fisik dahulu. menyesuaikan pesepeda lain yang sudah memiliki kondisi fisik bagus. “Persiapan fisik sebelum berangkat, keliling Kota Semarang saat siang hari. Terus coba juga beberapa tanjakan. Soalnya baru-baru saja main sepeda. Fisiknya harus dilatih lagi. Kalau olahraga lain seperti sepakbola sudah terbiasa ya,” jelasnya.

Saat berangkat touring, beberapa benda wajib dibawa. Seperti pakaian ganti, alat-alat untuk sepeda seperti  ban dalam cadangan. lalu untuk keselamatan menggunakan kacamata, helm wajib, masker, dan pakaian tambahan yang menutupi kulit.

Ada banyak tantangan yang dialami. Mulai dari Jalanan di Semarang-Ungaran dan Ambarawa merupakan tanjakan dan turunan. Akan terasa berat dikayuh bila menggunakan sepeda touring standar. “Tantangan di Ambarawa itu ada banyak tanjakan. Alhamdulillah tanjakan terlewati semua. Sama pantat terasa panas hehe,” tukasnya.

Selain itu dia mengalami masalah pada shifter depan. Shifter tidak bisa digunakan lagi. Tidak bisa dipakai. Sehingga tidak bisa digunakan untuk mengoper gigi bagian depan. Padahal gigi juga vital untuk mengontrol tenaga kayuhan oleh kaki. “Masih pengan lagi touring. Mungkin sendiri. Saat mudik ke Kabupaten Blora tahun depan coba gowes,” tutupnya.


(Diaz Abidin, Eko Adi N/CN26/SM Network)