• KANAL BERITA

Semak Belukar Disulap Jadi Waterboom

SARASEHAN: Sarasehan di kompleks kolam renang dan waterboom di Desa Plesungan Kecamatan Gondangrejo  Karanganyar, Selasa (28/5), antara pengelola BUMDes Plesungan dengan LP2M Unisri Surakarta. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)
SARASEHAN: Sarasehan di kompleks kolam renang dan waterboom di Desa Plesungan Kecamatan Gondangrejo Karanganyar, Selasa (28/5), antara pengelola BUMDes Plesungan dengan LP2M Unisri Surakarta. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)

KARANGANYAR, suaramerdeka.com - Ada ide kreatif dari pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Plesungan Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Lahan semak belukar yang selama puluhan tahun mangkrak di desa itu  kini disulap menjadi tempat wisata, yakni kolam waterboom dan kolam renang. Adapun pembangunan destinsasi wisata itu menggunakan alokasi dana desa (ADD) dari pemerintah.

Menurut Kepala Desa Plesungan Waluyo, BUMDes yang didirikan pemerintah desa sejak akhir 2017 mampu membangkitkan potensi ekonomi desa. Misalnya, unit usaha waterboom dan kolam renang, yang didirikan bisa menyerap 20 tenaga kerja. "Rata-rata pendapatan kotor yang diterima desa dari usaha itu Rp 75 juta per bulan," kata dia di sela-sela sarasehan di waterboom setempat, Selasa (28/5).

Sarasahan itu tindak lanjut kerja sama LP2M Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta dengan Pemerintah Desa Plesungan dalam pengembangan dan penguatan kelembagaan BUMDes. Acara diikuti 30 pengurus dan pengelola Bumdes Desa Plesungan.

Tampak hadir  Kades Dayu, Selokaton, dan Jatikuwung. Kegiatan diakhiri buka bersama. "Kami berharap usaha BUMDes, khususnya Desa Plesungan, bisa berkontribusi positif terhadap pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa " ungkap Waluyo.

Dosen prodi Akuntansi dan MM Unisri, Suharno yang didatangkan sebagai narasumber mengingatkan, peluang jasa wisata saat ini prospeknya sangat bagus. Namun diharapkan pengelola tidak lengah.

Menurut dia, pengunjung tempat wisata kini didominasi kalangan millenial yang suka travelling, untuk sekedar selfie. Karena itu, pengelola harus kreatif dan inovatif dalam mengelola kawasan wisata seperti itu. Bila tidak, keberlangsungan usaha tidak lama. "Media sosial dan web harus dioptimalkan untuk memviralkan dan mempromosikan obyek wisata ini kepada generasi millenial," paparnya.


(Langgeng Widodo/CN26/SM Network)