• KANAL BERITA

Ketika Museum Menjadi Menyenangkan untuk Dikunjungi

SIMAK PENJELASAN: Para siswa siswi menyimak penjelasan pemandu saat mengunjungi Museum Gedung Sate Bandung. (suaramerdeka.com / Setiady Dwi)
SIMAK PENJELASAN: Para siswa siswi menyimak penjelasan pemandu saat mengunjungi Museum Gedung Sate Bandung. (suaramerdeka.com / Setiady Dwi)

MESKI  riuh, barisan anak-anak sekolah dasar itu tak melewatkan instruksi yang disampaikan sang petugas. Mereka, tengah bersiap menikmati sensasi yang ditawarkan Museum Gedung Sate (MGS) Bandung pagi itu.  "Kalian tidak boleh membawa makanan dan minuman ke dalam ya?" katanya manja yang dijawab siap khas anak-anak. Maka, masuklah mereka berduyun-duyun ke museum yang berada di basement bagian timur gedung peninggalan kolonial itu.

Di bawah temaram lampu, dan kepenasaran para bocah, sang petugas menjelaskan secara detail mengenai bagian per bagian di sudut-sudut museum, dan tentu saja, sejarah gedung hasil rancangan arsitek Belanda, J Gerber itu. "Siapa yang tahu nama bangunan bersejarah ini selain yang kita kenal sebagai Gedung Sate?" tanya sang petugas. Anak-anak itu terdiam. "Namanya adalah Gouvernements Bedrijven atau GB," jelasnya.

GB berarti pusat instansi pemerintahan. Pembangunannya berlangsung dimulai dari Juli 1920 hingga September 1924. Hal itu terkait dengan rencana Hindia Belanda yang ingin memindahkan ibukota dari Batavia ke Bandung. Para bocah itu pun manggut-manggut.

Selebihnya mereka mengeksplorasi semua sisi bangunan museum yang bersifat informatif namun penuh sentuhan digital. MGS memang mempunyai keunggulan dalam penyajian informasi karena didukung riset selama 1,5 tahun, termasuk penggalian data kesejarahan di Leiden dan Denhaag Belanda.

Tak hanya itu, kisah soal ornamen sate di menara gedung yang berjumlah 6 sate yang merepresentasikan biaya pembangunannya sebanyak 6 juta Gulden bisa juga ditanyakan. Inspirasi ornamen sate itu ternyata diambil dari bentuk jambu air meski versi lainnya menyebut dari melati.

Dengan penggunaan multimedia dan infografis yang berkelas, pesan-pesan dari masa lalu itu dicoba disampaikan secara renyah dan sederhana guna menjawab kebutuhan kekinian terutama generasi milenial.  Seorang siswa sekolah menengah atas, Widjan Khairul bersama teman-temannya pun tak bisa menyembunyikan kekagumannya, terutama dalam penyajian datanya. "Bagaimana menyajikannya seperti itu, padahal semacam arsip," katanya.

Menarik Minat

Semenjak pengunjung pada 8 Desember 2017, MGS telah didatangi oleh 148.143 pengunjung. Tren itu menunjukan bahwa suguhan museum semacam MGS menarik minat orang untuk berkunjung. Kemasan tampaknya berpengaruh karena berkunjung ke MGS seolah melihat kesegaran. Tak gampang jenuh.  Terlebih dengan keberadaan fasilitas berupa google virtual reality yang seolah menyajikan pemandangan Gedung Sate dari langit karena seperti menaiki balon udara.

Kemudian augmented reality, image aktivitas pembangunan Gedung Sate di masa lalu yang bisa diblender dengan pengunjung, architarium yang berisi informasi padat kearsitekan, dan interactive floor yang menjadikan pengunjung seolah melangkah di udara, plus ruang audio visual.

Dalam perayaan setahun MGS, Sekda Jabar Iwa Karniwa pun berharap banyak terhadap eksistensi museum di lingkup pusat Pemprov Jabar. Di antaranya kehadiran MGS dapat meningkatkan minat baca masyarakat terutama dalam pemanfaatan teknologi digital serta peran yang lebih luas.

Hal ini merujuk atas hasil survei most littered nation in the world pada 2016, posisi Indonesia hampir terbelakang, yakni si posisi ke-60 dari 61 negara. Posisinya berada di antara Thailand di posisi ke-59 dan Botswana di posisi bungsu ke-61. “Secara khusus, saya berpengharapan museum mampu menjadi salah satu sumber inspirasi bagi generasi muda untuk meningkatkan budaya baca. Hal ini penting mengingat tingkat minat membaca masyarakat kita sangatlah rendah,” katanya.

Ditambahkan, guna mendongkrak minat baca melalui museum, maka pemanfaatan teknologi terkini menjadi salah satu prasyarat utama yang perlu diperhatikan bagi seluruh pengelola museum.  Informasi dapat lebih mudah dipahami oleh generasi milenial saat ini. “Dengan mengedepankan informasi yang bersifat visual, akan lebih menarik dan mudah dipahami di kalangan generasi muda, khususnya kalangan millenial,” katanya.

Dalam kaitan itu, pengelola MGS mengundang 48 museum yang berada di Jabar untuk sama-sama unjuk gigi melalui sebuah festival bertajuk Museum Festivities (Muvies) pada akhir pekan lalu. Muvies menggelar pula beragam permainan dan lomba, di antaranya live-action ludo.

Festival dilengkapi pula dua big screen lengkap dengan insert penerjemah untuk teman-teman tuli, menjadikan Muvies ramah teman-teman tuli. Rangkaian kegiatan itu seperti menjadikan potensi museum termanfaatkan sebagai sarana pendidikan, rekreasi, hingga penguatan jatidiri bangsa.

Lebih dari itu, MGS bisa jadi pemicu untuk langkah revitalisasi museum lainnya yang juga merupakan bagian dari dinamika kebudayaan di Tanah Air. Bahwa kehadiran museum kemudian, bakal mengundang minat tinggi masyarakat sekitarnya guna mengakses informasi dan sajian yang memang mempunyai kadar akan nilai-nilai luhur.


(Setiady Dwi/CN26/SM Network)