• KANAL BERITA

Narasi-narasi Toleransi yang Tanpa Basa-basi

Oleh Amir Machmud NS

Foto: suaramerdeka.com / Amir Machmud NS
Foto: suaramerdeka.com / Amir Machmud NS

JALAN  Diponegoro di pusat Kota Singkawang, siang itu (19/2) menjadi arena "amuk" para naga. Dua belas naga dengan aneka warna saling berkejaran, menjadi pembuka jalan. Terkadang mereka berhenti di salah satu bagian tribune penonton, menyiapkan mulut untuk menerima angpao dari pengunjung. Setelah itu meliuk lagi, menerjang lagi, menyibak jalan, membersihkannya dari semua hambatan untuk rombongan berikut yang akan lewat.

Tetabuhan gong dan beduk ala Tiongkok menggaung bertalu-talu, dengan irama yang berasa mistis mengiris hati, berdengung-dengung menggetarkan dada siapa pun yang mendengar.

Naga yang meliuk-liuk terbang memamerkan kekuatan berada di kelompok barisan awal pawai Cap Go Meh di sepanjang Jalan Diponegoro. Setelah barisan instansi, komunitas, dan kelompok-kelompok kesenian dari sejumlah etnis lewat, inilah yang ditunggu-tunggu: iring-iringan para tatung (loya, orang sakti yang "membawa" arwah) dalam pengawalan pasukan pengusung tandu.

Aroma mistis terasa menebar. Tatung-tatung itu unjuk kekuatan magis kekebalan tubuh dengan berbagai model. Misalnya duduk dan berdiri di atas pedang, dan menusuk atau menggores bagian tubuh tanpa terluka. Dinas Pariwisata Olahraga Pemkot Singkawang mencatat, dalam parade Cap Go Meh tahun ini, lebih dari 1.000 tatung ambil bagian.

Pawai Cap Go Meh yang berlangsung 15 hari setelah Hari Raya Imlek ini, dalam balutan multikulturalitas Singkawang, memang kental dengan aksen-aksen Tionghoa, namun tetap mengetengahkan atmosfer toleransi yang menjadi kekuatan keberagaman di sana. Masyarakat Singkawang menyebut kemenyatuan etnis itu sebagai "Tidayu" atau Tionghoa, Dayak, Melayu. Inilah hakikat akulturasi yang menyatukan unsur-unsur etnis -- tercatat ada 17 etnis -- dalam sebuah adonan budaya dan kehidupan yang homogen secara alamiah.

Tanpa Basa-basi

Toleransi yang tanpa basa-basi. Hubungan itu mengalir secara alamiah tanpa harus dikondisikan atau didiktekan sebagai doktrin, karena "dari sononya" karakter relasinya memang sudah seperti itu.

Itulah yang tersimpulkan oleh kami, para peneliti Wisata Toleransi, yang pada 2018 juga meneliti kehidupan multikultur di Lasem, Rembang. Para peneliti dari Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang yakni Prof Dr Tri Marhaeni Pudji Astuti, Prof Dr Dewi Liesnoor Setyawati, Edi Kurniawan, dan saya sebagai mitra, secara kualitatif mewawancarai sejumlah informan di Singkawang, baik setelah maupun sesudah pawai Festival Cap Go Meh.

Andi Marsudi (Ketua STKIP Singkawang), Fajaratullah (Sekretaris Forum Komunikasi Guru IPS), Supardiyana, Rizki, Norman (Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga), serta Iwal seorang pekerja swasta, memberikan simpulan yang senada. Praktik toleransi di Singkawang, menurut mereka, tidak lahir dari bentukan, arahan, atau indoktrinasi, melainkan telah menjadi semacam darah dalam nadi kehidupan masyarakat yang multietnis.

Festival Cap Go Meh sebagai event internasional hanya merupakan satu di antara elemen ekspresi multikulturalitas di sana. Penyelenggarannya, menurut Norman dan Supardiyana menjadi produk kerja bersama antaretnis di Singkawang. Bukan hanya etnis Tionghoa, karena etnis Dayak dan Melayu dengan latar agama yang berbeda-beda juga ikut terlibat dan berperan.

Supardiyana dan Rizki sepakat apabila atmofsfer dunia pariwisata di Singkawang diberi label wisata toleransi, karena penghayatan keberagaman yang tidak ada duanya dibandingkan dengan di daerah mana pun di Indonesia. Kekuatan relasi toleransi di sini pantas dijadikan role model pendidikan karakter keberagaman untuk daerah-daerah lain yang kaya etnis.

Puluhan tahun mengamati relasi sosial yang berlangsung antaretnis dan agama di Singkawang, Andi Mursidi juga mencatat tidak pernah melihat terjadi friksi sensitif yang menciptakan insiden berbau SARA. Hubungan saling mendukung antaretnis dan agama, menurut intelektual asal Pontianak ini, seolah-olah mengalir begitu saja dan sudah menjadi kebutuhan.

Dengan demikian, dalam pandangan Fajaratullah, karakter toleran dalam relasi keseharian masyarakat Singkawang sebagai model ekspresi keberagaman, tidak harus dirawat melalui sebuah kurikulum di sekolah-sekolah. "Secara alamiah sikap toleran itu sudah kuat dan mengalir, antargenerasi sudah terbentuk penghayatan sikap seperti itu. Jadi menurut saya tidak harus diformalisasikan sebagai pelajaran, yang kalau itu dilakukan malah bisa menjadi tidak natural lagi," ungkap Fajar.

Narasi-narasi Toleransi

Kekuatan toleransi antaretnis dan agama di Singkawang ternarasikan antara lain lewat realitas fisik keberadaan Masjid Raya di pusat kota yang berdekatan dengan Kelenteng Tri Dharma Bumi Raya. Itulah salah satu masjid tertua di Kalimantan Barat, sementara Tri Dharma merupakan satu di antara kelenteng-kelenteng terpenting di Kota Singkawang. Dua tempat ibadah ini menjadi simbol kerukunan natural, secara posisi mirip sedang bergandeng tangan, yang keberadaannya tidak saling mengganggu.

Pada hari-hari ketika ribuan lampion menyemarakkan kota, cahaya malam di seputar Maajid Raya dan Kelenteng Tri Dharma mengetengahkan pesona keindahannya. Kalau kita resapi, eksotika itu terutama terletak pada nuansa kekentalan toleransinya. Lanskap gambar kelenteng, lampion-lampion, dan dua menara masjid ysng menjulang menggapai langit kota.

Menurut Supardiyana, mulai tahun ini akan digelar Ramadan Fair dengan rangkaian kegiatan mengisi Bulan Suci, yang diyakini juga bakal di-support oleh berbagai etnis dan warga  nonmuslim. Kemeriahan Ramadan Fair akan makin mengukuhkan Singkawang sebagai kota yang diakui paling toleran di Indonesia.

Kota 1.000 Kelenteng itu menjadi noktah terpenting untuk "menerjemahkan" Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan jiwa kehidupan bangsa. Dalam pandangan Iwal, seorang pekerja swasta di sektor transportasi, kondisi itu membuat kehidupan sehari-hari terasa nyaman dan aman. "Tanpa harus diarah-arahkan, masyarakat di sini sudah dengan sendirinya hidup rukun," katanya.

Bagaimana pula dengan eksistensi tatung-tatung dalam kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Singkawang? Ini juga menjadi bagian dari pernik multikulturalitas yang terbukti tidak menciptakan sorotan sensitif dari umat beragama lain. Tatung, dengan ekspresi memanggil roh leluhur, merupakan realitas kultural yang menyatu, dan pada beberapa segi, memperindah eksotika keberagaman di sana.

Yang menjadi menarik, pola merawat toleransi itu agaknya juga didorong oleh kesadaran bersama antaretnis dan agama, betapa event seperti Festival Cap Go Meh telah memberi dampak ekonomi yang secara simultan menjanjikan untuk seluruh unsur masyarakat Singkawang. Dan, potensi itu tentu harus mereka jaga bersama.

"Peredaran uang dan geliat perekonomian yang mudah terlihat  itu mencakup pendapatan hotel, transportasi, kuliner, hingga pernak-pernik suvenir. Bayangkan, untuk mendapatkan hotel yang representatif, para wisatawan harus reservasi selama setahun sebelum Festival Cap Go Meh," tutur Supardiyana.

Bukankah ini berkah dari narasi-narasi toleransi yang tanpa basa-basi?


(Red/CN26/SM Network)