• KANAL BERITA

Pengprov KBI Jateng Buru ‘’Pengakuan’’ KONI

RAMBO CAMP: Para atlet berlatih di Rambo 4294 Camp Semarang sebagai salah satu pusat pembinaan kick boxing. (suaramerdeka.com / I Nengah Segara Seni)
RAMBO CAMP: Para atlet berlatih di Rambo 4294 Camp Semarang sebagai salah satu pusat pembinaan kick boxing. (suaramerdeka.com / I Nengah Segara Seni)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Upaya Pengprov Kick Boxing Indonesia (KBI) Jateng untuk mendapatkan pengakuan dari KONI masih menemukan jalan buntu, lantaran syarat utama yakni terbentuknya 50 persen plus satu atau 18 pengkab/pengkot belum bisa terpenuhi.

Menurut Ketua Pengprov, Eko Firly, pihaknya terus berupaya memenuhi persyaratan itu. Saat ini di Jateng telah terbentuk 11 pengurus cabang, yakni Kabupaten Semarang, Temanggung, Kabupaten Magelang, Kabupaten Pekalongan, Boyolali, Solo, Karanganyar, Sragen, Purworejo, Rembang dan Kota Magelang.

Sementara pengcab yang masih dirintis adalah Brebes, Cilacap, Kebumen, Wonosobo, Kendal, Demak, Kudus dan daerah lain. ‘’Ya, kami memang terus bergerak cepat, mengingat perkembangan olahraga ini sangat pesat di berbagai daerah di Indonesia. Kalau tidak, Jateng pasti tertinggal jauh karena di Tanah Air sekarang sudah terbentuk lebih dari 20 pengprov,’’ kata Firly.

Satu hal lagi yang membuat dia optimistis kick boxing bisa berkembang bagus di Jateng, selain potensinya besar, karena cabang ini juga sudah dipertandingkan di olimpiade, Asian Games, SEA Games sehingga ‘’jalur’’ event internasionalnya jelas.

Di Tanah Air sendiri KBI sudah menjadi anggota KONI Pusat, dan kini masih merintis dan mengupayakan untuk pentas dalam eksibhisi di PON 2020. ‘’Sebagai cabang olahraga yang masih realtif baru, fokus kami memang ada dua bidang, yakni pengembangan organisasi dengan basis-basis pembinaan, serta membangun prestasi atlet, peningkatan kualitas pelatih, wasit dan juri di sisi lain.’’

Memacu Diri

Sementara Didik Hartanto, anggota Dewan Penasihat Pengprov KBI Jateng menyebutkan, pihaknya memang harus mengaktifkan tugas dan fungsi peronel pengurus agar olahraga ini bisa diterima di masyarakat. Walau belum mendapat pengakuan dari KONI Jateng, mereka tidak pernah berhenti, baik dalam proses pembinaan maupun pengembangan olahraga ini.

Di banyak daerah, tim dari KBI Jateng disambut dengan baik, terutama daerah-daerah yang memiliki potensi bagus di cabang bela diri, sebut saja daerah Wonosobo, Karanganyar, Solo, Rembang, Brebes, Purworejo dan lainnya. Firly dan Didik mengakui, proses ini merupakan tantangan bagi komunitas kick boxing. Di satu sisi berjuang untuk mendapatkan posisi legal formal dalam hal pengakuan KONI Jateng, dan di sisi lain pembinaan dan pengembangan harus tetap berjalan.

‘’Tentu dengan kemampuan kami yang sangat terbatas, khususnya soal dana operasional. Tetapi kami yakin, para pengurus tidak akan menyerah dengan adanya kepercayaan dan doa dari masyarakat,’’ kata Firly.

Didik, mantan petinju Jateng yang pernah merebut medali emas PON menyebutkan, perkembangan kick boxing di Jateng cukup bagus. Banyak berdiri camp atau sasana sebagai basis pembinaan atlet di lapis paling bawah. ‘’Karena itu, kompetisi lokal di Jateng sudah sering kami gelar. Para atlet juga tampil meyakinkan di setiap kejuaraan nasional, bahkan ada dua atlet kami yang dipanggil untuk masuk Pelatnas SEA Games 2019,’’ kata pemilik Rambo 4294 Camp Semarang itu.

Dalam kesempatan itu Didik juga sangat berharap kepada pihak terkait agar legalitas Pengprov KBI yang terbentuk berdasarkan SK PP KBI Nomor: 20/PP.KBI/V/2018 ini bisa segera diakui dan menjadi anggota KONI jateng. ‘’Saya kira ini semua demi pembangunan olahraga Jateng secara menyeluruh, termasuk di dalamnya bagi peminat kick boxing,’’ ujarnya lagi.


(I Nengah Segara Seni/CN26/SM Network)