• KANAL BERITA

Terpilih Aklamasi, Okto - Warih Fokus SEA Games 2019 dan Olimpiade 2020

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Raja Sapta Oktohari dan Warih Sadono yang terpilih secara aklamasi sebagai ketua dan wakil ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada Kongres KOI di Jakarta, Rabu (9/10), memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang tidak ringan. Menurut Oktohari, pekerjaan yang sudah di depan mata adalah mempersiapkan SEA Games 2019 yang akan berlangsung di Filipina, 30 November - 12 Desember mendatang.

"Tanggung jawab (sebagai ketua KOI) ini tidak mudah. PR yang sudah menunggu, utamanya adalah SEA Games. Kami mengalami proses transisi pemerintahan baru yang akan dilantik 20 Oktober mendatang. Setelah itu baru diketahui Menpora yang akan kerjasama dengan kita. Ini terkait dengan anggaran yang akan kita gunakan di SEA Games," jelas Oktohari didampingi Warih Sadono.

Selain itu, pekerjaan lain yang harus segera dipikirkan adalah Olimpiade Tokyo 2020. "Kami sama-sama sepakat bahwa Indonesia ingin jadi tuan rumah Olimpiade 2032. Proses ini harus kita raih pada Olimpiade 2020 untuk promosi, mengingat keputusan ada di 2024. Kita akan rebut emas sebanyak-banyaknya (di Olimpiade 2020) dan juga rebut hati negara lain agar Olimpiade bisa ke Indonesia, pada 2032," ungkap dia.

Mengenai dualisme cabang olahraga, seperti kempo dan tenis meja, Okto siap menyelesaikannya secara baik-baik. Bahkan, dia memiliki pengalaman terlibat pada pecahnya induk cabang olahraga balap sepeda Indonesia beberapa tahun lalu.

"Kami punya refrensi di balap sepeda, bukan hanya dualisme, tapi malah empatlisme (PB ISSI pecah jadi empat). Karena melihat untuk prestasi olahraga, akhirnya semua bisa kembali  bersatu. Tapi kalau cuma gontok-gontokan, orangnya harus diganti/ Kalau tujuannya adalah prestasi, pasti mau bersatu. Tapi kalau tidak mau prestasi, ya bubarin saja," imbuh Okto.

Jadi PR

Pekerjaan rumah soal dualisme cabang olahraga juga sesuai pesan Ketua KOI demisioner, Erick Thohir. "Masih ada dualisme di cabor, ini jadi PR. Saya bilang penting sekali perubahan UU. Jangan sampai menjebak, olahraga ingin maju, tapi malah terpecah," kata Erick.

Kongres KOI memang sempat diwarnai kericuhan akibat dualisme cabang olahraga kempo dan tenis meja. Di kempo, KOI mengundang Persatuan Olahraga Kempo Indonesia (PP Porkemi) menjadi peserta Kongres, namun Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PB Perkemi) memprotesnya hingga hendak adu jotos di antara mereka.

Sementara untuk PTMSI (tenis meja), KOI mengundang PB PTMSI pimpinan Lukman Edy. Sesungguhnya, Lukman Edy sudah mundur beberapa tahun lalu, kemudian digelar Munaslub dengan terpilih Dato' Tahir. Setelah itu, digugat ke BAORI dan dibatalkan. Lalu digelar Munaslub lagi, terpilih lah Peter Layardi.

Di arena Kongres KOI, Peter Layardi dan kawan-kawan hendak masuk ke ruangan, namun dihalangi petugas keamanan hingga adu mulut. Mereka tidak terima karena PTMSI Lukman Edy sudah tidak eksis lama, namun masih dilibatkan. Di sisi lain, sebenarnya masih ada PP PTMSI pimpinan Oegroseno.

Kepengurusannya dibekukan oleh KOI pimpinan Erick Thohir akhir Agustus lalu. "Kenapa Erick Thohir mengaktifkan kembali PTMSI Lukman Edy, karena Lukman Edy teman dekat Erick di TKN. Kami akan laporkan kepada Presiden untuk masalah ini," kata Oegroseno.


(Arif M Iqbal /CN26/SM Network)