• KANAL BERITA

PB Tarung Bebas Indonesia Gelar Munaslub

Foto: suaramerdeka.com/Dok
Foto: suaramerdeka.com/Dok

SEMARANG, suaramerdeka.com – Untuk keduakalinya tokoh-tokoh beladiri dari berbagai aliran berkumpul di Jawa Tengah demi kematangan organisasi olahraga baru di Indonesia, yakni Tarung Bebas Indonesia (TBI). Induk olahraga ini awalnya dibentuk tahun lalu di Vila Edelweis Baturraden, Purwokerto, Banyumas. Gelaran tarung bebas (free style) selama ini diikuti berbagai aliran, seperti  muaythai, kungfu, wushu, tinju, karate, judo, kickboxing dan lainnya.

Melihat perkembangan yang terjadi di masyarakat, para tokoh beladiri itu telah berkoordinasi, dan tidak kurang tokoh beladiri dari 20 daerah memberikan dukungan. Setelah tahun lalu, maka untuk yang keduakalinya, 14-15 September 2019, mereka bertemu kembali di River Walk Hotel, Boja, Kendal, Jawa Tengah untuk mengevaluasi perjalanan organisasi ini.

Peserta datang dari Aceh, Jambi, Riau, Merauke, Jatim, DKI, Kalimantan,  Jateng dan berbagai daerah lainnya. Pengurus Besar TBI  yang diketuai Mayjen TNI (Purn) Prihadi Agus Irianto dalam acara yang berlangsung dua hari tersebut menggelar tiga agenda sekaligus, yakni Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub),  Musyawarah Kerja nasional (Mukernas) serta pelatihan bagi pelatih nasional.

Munaslub digelar karena sebagai organisasi olahraga yang masih sangat muda memerlukan penyempurnaan di sana-sini, khususnya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Kalau harus menanti empat tahun sembari menunggu habis masa bakti (satu periode) kepengurusan, tentu itu sangat lamban dan bisa terlambat.

Sementara Mukernas memang diagenda digelar setiap tahun untuk menyusun program kerja tahunan sekaligus evaluasi kinerja semua sektor yang telah dilakukan. ‘’Ini penting, karena suatu organisasi jika ingin berkembang harus selalu berubah. Prinsipnya, jika ingin maju maka perubahan adalah sesuatu yang paling tetap harus dilakukan. Kita tidak ingin stagnan dalam upaya menggapai cita-cita,’’ kata Dewan Pembina PB TBI, Dr Drs Hananto Prasetyo SH, MH.

Dia menegaskan, organisasi ini milik bersama bukan punya perseorangan. Maka maju – mundurnya organisasi akan sangat ditentukan oleh tekad untuk bersama dan bersatu dari semua elemen dalam menjaga serta mengemban visi – misi organisasi.

‘’Sebagai sebuah organisasi olahraga, kami ibarat bayi yang baru lahir. Namun sejak masih dalam kandungan janin ini harus dirawat, diberi gizi dan dijaga dengan baik agar ketika lahir menjadi bayi yang sehat,’’ katanya kepada suaramerdeka.com.

Karena itu, Hananto mengajak semua pihak untuk tidak lagi melihat kebelakang, terganggu oleh krikil-krikil kecil agar tujuan bisa tercapai. Bahkan secara tegas Hananto mengajak siapapun yang ‘’menganggu’’ organisasi ini harus dipinggirkan, karena dalam organisasi olahraga hanya ada pengabdian, tombok duit, buang waktu, memeras tenaga dan pikiran.

Sementara itu Ketua Umum PB TBI, Prihadi Agus Irianto dalam pengarahannya kepada pengurus maupun pelatih menegaskan, TBI atau warga TBI harus memiliki karakter yang kuat. Makanya, dalam hal pembahasan AD/ART harus menghasilkan aturan yang cerdas dan tegas. Misalnya, apakah format struktur pengurus sudah baik dan baku? Kemudian bentuk dan warna logo maupun bendera apakan sudah paten?

Agus menginginkan harus semuanya tepat, karena ini akan menjadi warisan kita kepada generasi penerus. ‘’Kalau perlu soal logo dan bendera disayembarakan, dan kalau nantinya sudah terpilih semua pihak harus legawa dan sportif untuk mengakui itulah milik TBI,’’ katanya sembari mengharap peserta untuk benar-benar memanfaatkan waktu agar mampu menghasilkan produk TBI yang baik.

Sumbangsih

TBI merupakan organisasi atau lembaga olahraga beladiri yang mewadahi praktisi dan para atlet dari berbagai latar belakang beladiri yang berbeda (mix martial art) di Indonesia. TBI diharapkan mampu memberikan sumbangsih berupa pemikiran, tenaga dan kegiatan untuk menambah kemajuan perkembangan beladiri di Indonesia.

Jika melihat perjalanan wadah baru olahraga ini, semua pihak memang optimistis. Buktinya, ketika dirintis tahun lalu, hadir perwakilan dari Jatim, DKI, Jateng, Jabar, NTT, NTB, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan,  Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Bangka Belitung, Sulawesi Tenggara, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Utarat dan lainnya.

Secara bulat tokoh-tokoh beladiri itu setuju dengan terbentuknya Tarung Bebas Indonesia. Paling tidak dengan berdirinya TBI, maka Indonesia memiliki wadah resmi yang bisa mempertemukan atlet dari berbagai aliran beladiri.''Sangat menarik, ini adalah lembaga khas Indonesia,'' ujar Minarto, tokoh tinju nasional dari Lampung kala itu.

Karena sudah punya semangat yang sama, satu tekad dan satu tujuan itulah, banyak tokoh beladiri yang muncul dalam kepengurus PB TBI, di antaranya yang dari Jawa Tengah ada Gunawan Wijaya, Ikhwan Ubaidillah, DR Drs Hananto Prasetyo SH MH. Ada pula Drs Kuntadi Djajalana MSc tokoh tinju nasional.
Hananto, mantan tinju nasional, pemegang Dan V Kyokushinkai, dan ketua Pengcab Muaythai Banyumas mengatakan, tagetnya TBI harus sah dengan menenuhi syarat dan aturan yang berlaku, sehingga bisa menjadi anggota KONI,  BOPI, KOI dan instansi lainnya. Ini perlu dilakukan karena olahraga tarung bebas selain membina atlet amatir, juga memiliki atlet amatir profesional (ampro) dan profesional.


(I Nengah Segara Seni/CN39/SM Network)