• KANAL BERITA

Petarung Tapak Suci Rembang Raih Emas di Kejuaraan Asia-Eropa

PIAGAM DAN MEDALI: Tiga pendekar Tapak Suci Rembang dari SMK Muhamadiyah Pamotan memamerkan piagam dan medali emas yang diraihkanya dalam kejuaraan internasional Asia-Eropa di Bandung, 3 Februari lalu. (suaramerdeka.com / Ilyas al-Musthofa)
PIAGAM DAN MEDALI: Tiga pendekar Tapak Suci Rembang dari SMK Muhamadiyah Pamotan memamerkan piagam dan medali emas yang diraihkanya dalam kejuaraan internasional Asia-Eropa di Bandung, 3 Februari lalu. (suaramerdeka.com / Ilyas al-Musthofa)

PRESTASI membanggakan diraih SMK Muhamadiyah Pamotan. Dua siswa dan satu gurunya berhasil meraih medali emas dalam kejuaraan pencak silat Asia-Eropa yang digelar di Bandung, 31 Januari-3 Februari 2019, oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Adalah Putri (16) dan Nur Latifah (15), keduanya kelas XI, serta Rudi Syaiful November (24), guru sekaligus pelatih, yang berhasil meraih hasil maksimal dalam kejuaraan tingkat pelajar-mahasiswa itu.

Keberhasilan ketiga petarung asli Rembang itu tidak dilatari oleh kisah yang mulus. Banyak halangan dan ujian yang dihadapi ketiganya sebelum merasakan manisnya keringat kerja keras berlatih pencak silat. Putri misalnya. Siswa dari Dukuh Banyu Desa Kalitengah Kecamatan Pancur itu awalnya sama sekali tidak diperbolehkan orang tuanya ikut pencak silat. Orang tuanya yang berprofesi sebagai petani itu khawatir sang anak akan cedera fisik lantaran bertanding.

Upaya membujuk orang tua terus dilakukan Putri. Bahkan, sang pelatih datang langsung ke rumah untuk meyakinkan orang tua putri. Pada akhirnya, sang orang tua dengan rasa was-was memberikan izin Putri ikut kejuaraan di Bandung. Kepercayaan orang tuanya dibayar tuntas Putri dengan mengalahkan total 7 petarung dari provinsi lainnya. Ia yang turun di kelas C (50 kg), mengalahkan pesilat asal Cirebon di babak final.

“Saat tanding di Bandung, ibu telepon-telepon terus, khawatir. Setelah di final menang, saya beri kabar, dan ibu merasa bahagia. Sampai rumah, saya dijanjikan hadiah oleh ibu sepeda motor untuk sekolah. Tapi sekarang sepeda motornya belum datang,” kata sulung dua bersaudara ini.

Ia berharap, prestasi yang ditorehkannya bersama pelatih didengar oleh Bupati atau Gubernur. Harapannya simpel, ia hanya ingin dibantu fasilitas latihan oleh pemerintah agar meraih hasil optimal. Tentu saja jika boleh meminta, ia juga ingin mendapat beasiswa sekolah dan kuliah.

Dukungan Penuh

Lain lagi kisah dengan kisah Nur Latifah. Ia yang satu dukuh dengan Putri itu tertarik mendalami pencak silat setelah kerap melihat pertandingan. Ia mengaku mendapatkan dukungan penuh dari seluruh keluarga dalam menjalani pencak silat. “Di Bandung, total saya mengalahkan sembilan pesilat sehingga mendapatkan medali emas. Saya bersyukur, sebelum ini juga sudah pernah mendapatkan medali emas tingkat provinsi di kelas A (42 kg),” ujarnya.

Baik Latifah maupun Putri selama ini dilatih Rudi Syaiful November. Pria asal Desa Trembes Kecamatan Gunem ini, selain melatih, juga turun langsung bertanding di kelas C dewasa dalam kejuaraan di Bandung.

Prestasi maksimal pun diraih Rudi setelah di partai final berhasil mengandaskan perlawanan petarung asal Tegal. Menurutnya, hasil ini membanggakan lantaran kejuaraan itu diikuti oleh berbagai perguruan silat yang ada.

“Saya bersyukur mengenal silat. Saya terlahir dari keluarga secara ekonomi sederhana. Dari silat saya akhirnya bisa kuliah hingga sekerang semester 8, di Universitas Muhamadiyah Semarang, jurusan Teknik Elektro,” tandasnya.


(Ilyas al-Musthofa/CN26/SM Network)