• KANAL BERITA

Alex: Taekwondo Jateng Butuh Perhatian Gubernur

MANDIRI: Alex PELATDA Harjanto (tiga dari kiri baris belakang) bersama para atlet saat masih menjalani Pelatda Mandiri di Dojang Jatidiri, belum lama ini.  (suaramerdeka.com / dok)
MANDIRI: Alex PELATDA Harjanto (tiga dari kiri baris belakang) bersama para atlet saat masih menjalani Pelatda Mandiri di Dojang Jatidiri, belum lama ini. (suaramerdeka.com / dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Jateng saat ini sangat membutuhkan perhatian langsung Gubernur Ganjar Pranowo untuk ikut memecahkan masalah terkait persiapan menghadapi Pra-PON dan PON XX di Papua. Hal ini diungkapkan Ketua Umum Pengprov TI, Alex Harjanto, baru-baru ini .

Persoalan yang muncul dalam persiapan Pra-PON adalah habisnya sumber dana Pengprov yang selama lima bulan lalu telah menggelar Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) secara mandiri di Dojang Jatidiri. ‘’Saat ini pelatda sudah kami bekukan, kami tak punya dana lagi untuk kegiatan itu. Saya sangat khawatir jika persiapan menghadapi kualifikasi PON terhenti, kondisi anak-anak akan kembali pada posisi semula,’’ katanya.

Hampir satu bulan terakhir pelatda sudah dihentikan, untuk sementara para atlet dikembalikan ke daerah masing-masing. Dia mengakui, semangat para pengurus taekwondo Jateng sudah menggebu-gebu untuk mempersiapkan diri menghadapi kualifikasi PON. Karena itu, awalnya diadakan pelatda mandiri yang menguras dana ratusan juta rupiah.

Bukan hanya itu, untuk persiapan para taekwondoin Jateng ini, pihaknya juga memperbaik dojang yang menghabiskan lebih dari Rp 200 juta untuk melengkapi peralatan dan perlengkapan latihan. ‘’Dengan kondisi stagnan seperti ini kami prihatin dan sangat khawatir Jateng akan semakin jauh tertinggal dari daerah lain, khususnya Jabar, Jatim dan DKI sebagai pesaing utama di matras taekwondo,’’ ujarnya.

Saat ini ketiga daerah tersebut sudah mengirimkan atletnya untuk berlatih di Kora Selatan.  Alex mengakui, secara intern pihaknya sudah melakukan langkah-langkah strategis untuk menghadapi PON, baik menyangkut masalah teknis maupun nonteknis. Untuk masalah teknis, dengan pantauan yang intensif dia berharap kemampuan atlet tidak terlalu menurun selama mereka ada di daerah.

Tetapi menyangkut nonteknis,  dia khawatir atlet Jateng ‘’diganggu’’ daerah lain dengan janji-janji tertentu untuk tidak fight di arena pertandingan. Masalah nonteknis seperti ini sangat rawan jika Jateng kurang perhatian terhadap atlet. Aroma tidak fair seperti ini memang sering terjadi, khususnya kepada para atlet nasional. Jateng sendiri berupaya pengamankan tiga atletnya yang selama ini menghuni pemusatan latihan nasional, yakni Reynaldy Atmanegara, Shaleha dan Mutiara Habiba.

Mengenai bantuan dana dari KONI Jateng  melalalui Disporapar, Alex menyebutkan masih terlalu minim. Dia mencontohkan DKI dan Jabar serta Jatim, kebutuhan untuk pembinaan intensif atlet sangat besar. Dia mendapat informasi dari teman-teman daerah itu suntikan dananya snagat besar, sementara di Jateng sepertiganya saja tidak sampai.  

‘’Sulit bagi kami memenuhi kebutuhan gizi, vitamin dan lainnya bagi atlet Jateng. Belum lagi jika ada atlet cedera yang tentu membutuhkan dana khusus. Saya berharap pemerintah daerah cepat mengambil langkah agar persiapan yang sudah terencana dengan baik ini tidak sia-sia,’’ tandasnya lagi.


(I Nengah Segara Seni/CN26/SM Network)