• KANAL BERITA

Putri Jakarta Pertamina Energi Bukan Tim Super

Evaluasi Seri Pertama Putaran 1 Proliga 2019

SPIKE: Pemain asing Sidoarjo Aneka Gas Industri Arua de Faria Guimares melepaskan spike ke arah pemain Jakarta BNI 46  pada hari kedua Putaran 1 Pekan Pertama Proliga 2019 di GOR Amongrogo, Kota Jogja. (suaramerdeka.com / Gading Persada)
SPIKE: Pemain asing Sidoarjo Aneka Gas Industri Arua de Faria Guimares melepaskan spike ke arah pemain Jakarta BNI 46 pada hari kedua Putaran 1 Pekan Pertama Proliga 2019 di GOR Amongrogo, Kota Jogja. (suaramerdeka.com / Gading Persada)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Tim ini bukan tim super. Kalimat yang dilontarkan M Anshori cukup mengejutkan. Sebab, pelatih tim putri Jakarta Pertamina Energi tersebut seperti paham bahwa harus segera meminta anak asuhnya tidak terlalu jemawa dengan status juara bertahan Proliga.

Terucap usai timnya kalah dari  Jakarta BNI 46, 0-3, pada partai kedua Seri Pertama Putaran 1 Proliga 2019 di GOR Amongrogo Kota Jogja akhir pekan lalu (9/12), mantan pelatih timnas voli putri Asian Games itu harus segera mengevaluasi kelemahan yang masih ada di timnya. “Status juara bertahan membebani pemain karena anak-anak main tegang. Untung kami kalah di penyisihan bukan final four,” imbuh M Anshori.

Terlalu mengandalkan kekuatan pada ekstapriat asal Amerika Serikat Anna Stepaniuk kiranya harus bisa dihilangkan Jakarta Pertamina Energi. Tampil perkasa pada partai pembuka saat mengalahkan runner-up musim lalu Bandung Bank BJB Pakuan, 3-0 (7/12), Amasya Manganang dan kolega langsung melempem di partai terakhir seri pertama. Sebagai pemegang trofi Proliga 2018, tim ini tampak seperti baru mengenal voli saat kalah mudah 18-25, 17-25 dan 20-25 dari Jakarta BNI 46.

Strategi lawan dengan mematikan pergerakan Anna pun membuat Pertamina kesulitan meladeni permainan lawan. Bahkan kapten Jakarta BNI 46, Tri Retno Mutiara pun tampak terkejut dapat dengan mudah menang atas tim sekelas Jakarta Pertamina Energi. “Tidak nyangka juga menang mudah. Kami mikirnya laga akan ketat dan berat,” kata Mutiara.

Musim ini, manajemen Jakarta Pertama Energi memasang target tinggi dengan mengawinkan gelar juara putra dan putri. Sebab, diisi pemain-pemain top voli nasional, tim asal ibu kota itu selalu gagal menyandingkan gelar. Musim lalu, mereka hanya berada di tempat ketiga untuk putra meski tim putri akhirnya juara. Namun, kekalahan yang dialami tim putri kiranya bisa jadi cambuk bahwa target yang diusung tak mudah untuk terealisasi.  

Hal ini juga dirasakan betul tim putra Jakarta Pertamina Energi di seri perdana. Menghadapi dua tim debutan, tim besutan Putut Marhaento itu tak mudah untuk meraih dua kemenangan beruntun. Terlebih ketika menghadapi Jakarta Garuda di partai pembuka dimana Pertamina harus susah payah meraih kemenangan dengan skor 3-2. Untungnya, peforma Agung Seganti cs membaik di laga kedua dengan menang mudah 3-0 atas tim anyar lainnya, Sidoarjo Aneka Industri Gas.

“Garuda tampil luar biasa, karena anak-anak muda tampil luar biasa dengan semangat tinggi. Mereka punya defense bagus dan kami main lebih sabar. Ini jadi evaluasi untuk seri berikutnya,” sambung Putut.

Pada seri pembuka ini, juara bertahan putra, Surabaya Bhayangkara Samator masih belum ada kesulitan ketika mengalahkan peringkat kedua musim lalu Palembang Bank Sumselbabel, 3-0. Untungnya, Palembang memperbaiki penampilan dengan meraih kemenangan di seri ini saat menang 3-0 atas Jakarta BNI 46.

Nasib tragis dialami tim putri Bandung Bank BJB Pakuan seiring banyak ditinggal pemain pilarnya musim lalu seperti Aprilia Manganang. Berstatus runner-up, tim ini takluk 0-3 dari tuan rumah Jakarta Pertamina Energi. Seri kedua sendiri akan digelar di GOR Tridharma Gresik akhir pekan ini (14-16/12) dengan tuan rumah tim debutan Jakarta Garuda.


(Gading Persada /CN26/SM Network)