• KANAL BERITA

Kembali Geluti Lead dan Speed

Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono
Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

PAPAN  boulder sudah tidak asing bagi  Indah Wati. Atlet senior Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Solo tersebut memang lebih mendalami spesialisasi menaklukkan papan panjat untuk nomor boulder, sejak lebih dari tahun terakhir.

"Sejak menghadapi PON 2012 di Riau, saat pelatda Jateng saya diarahkan ke spesialisasi boulder. Sejak itu, saya lebih menggeluti papan boulder. Padahal, sebelum itu saya juga berlatih untuk nomor lead dan speed klasik,’’ kata Indah saat beristirahat usai latihan di kompleks Stadion Manahan, Kamis (2/8).

Sebetulnya atlet kelahiran Solo, 3 Juni 1985 pernah mengasah kemampuan pada tiga nomor di arena panjat tebing. Pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng 2009 yang diselenggarakan di Solo, seluruh kemampuannya itu ditampilkan dalam persaingan menghadapi rival-rivalnya.

"Tapi di nomor speed klasik, waktu itu saya hanya peringkat enam, sedangkan di papan lead cuma dapat medali seng (julukan untuk atlet peringkat empat-red). Makanya selain boulder, sekarang saya kembali belajar latihan lead dan speed," tutur istri Dandhi Iswanto tersebut.

Atlet putri yang baru saja meraih medali perunggu boulder umum putri pada kejuaraan terbuka nasional Piala Wali Kota Surabaya, dua pekan lalu tersebut pun tak segan bergabung dengan para pemanjat muda dalam latihan tersentral di kompleks Manahan. Ibu seorang anak, Nadhifa Syifa Khayyara itu menyatakan akan berusaha tampil maksimal dalam Porprov Jateng 2018 yang rencananya juga digelar di Kota Bengawan.

"Mungkin Porprov nanti merupakan ajang terakhir saya sebagai atlet. Sebab saat ini, anak mulai sering protes saat saya tinggal latihan. Dia ingin ikut ke tempat latihan, karena suka memanjat-panjat wall juga. Cuma kalau diajak, justru saya yang tidak bisa berlatih intensif," tutur peraih medali perunggu boulder tim putri pada PON Jabar 2016 itu.

Indah mengaku tidak mengarahkan, lebih-lebih memaksa buah hatinya untuk turut menggeluti olahraga panjat. Namun kemungkian lingkungan dan darah pemanjat mengalir ke anaknya tersebut, turut mempengaruhi. Apalagi suaminya, Dandhi Iswanto juga pernah berlatih panjat tebing saat masih kuliah, kendati tidak intensif latihan sebagai atlet.


(Setyo Wiyono/CN26/SM Network)