• KANAL BERITA

Jateng Kirim Taekwondoin ke Korsel

BERI ARAHAN: Alex Harjanto memberi arahan kepada para atlet pada Pelatda yang digelar mandiri oleh Pengda TI Jateng. (suaramerdeka.com / I Nengah Segara Seni)
BERI ARAHAN: Alex Harjanto memberi arahan kepada para atlet pada Pelatda yang digelar mandiri oleh Pengda TI Jateng. (suaramerdeka.com / I Nengah Segara Seni)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Pengda Taekwondo Indonesia (TI) Jateng menjadwalkan mengirim 10 atlet ke Korsel untuk pematangan teknik dan taktik dalam rangka persiapan PON XX.  Hal ini dikatakan ketua Pengda, Alex Harjanto saat menunggu para taekwondoin berlatih di pemusatan latihan (pelatda) dojang Gelora Jatidiri, kemarin.

Ada 20 atlet yang kini menghuni pelatda yang digelar secara mandiri oleh pengurus TI itu. Menurut Alex, pihaknya memang memprogramkan pelatda lebih awal untuk mendapatkan hasil maksimal di pesta olahraga nasional itu. "Ini memang berat, butuh dana besar lantaran biaya hidup di Korea sangat mahal. Langkah ini memang harus kami lakukan agar tidak tertinggal terlalu jauh dari daerah lain, khususnya Jabar, Jatim dan DKI," katanya.

Pelatih tim nasional untuk Olimpade Korsel tahun 1988 dan Olimpiade Bancelona 1992 ini merasa sangat prihatin dengan daya dukung, khususnya pendanaan, dalam upaya mencetak prestasi atlet Jateng.  Belum lagi sarana dan prasarana yang juga masih beli sendiri. "Bukan tidak ada dukungan, namun sangat kurang. Lihatlah matras ini, sudah harus diganti karena selain sudah haus juga berdebu. Sisi ini yang harus diperhatikan pemerintah agar Jateng tidak ketinggalan terlalu jauh," ujarnya.

Dia menyebutkan, untuk mengirim 10 atlet selama tiga bulan di Korsel membutuhkan dana ratusan juta rupiah. Ini dia lakukan walau harus 'mengemis' kepada berbagai pihak, terutama teman-temannya yang masih ingin berjuang untuk Jateng dalam percaturan olahraga nasional dan internasional.  "Ya di sana saya banyak teman, mungkin mereka mau membantu dengan memberi kemudahan untuk bergabung tempat latihan misalnya," katanya.

Alex bersama  pengurus Pengda TI sudah bertekad untuk mengangkat kembali prestasi atlet Jateng, khususnya di kelompok senior yang akhir-akhir ini ada tren menurun. Berbeda dengan kelompok yunior, hingga kini Jateng memang masih menjadi yang terbaik di berbagai turnamen maupun kejuaraan nasional. Hanya saja dia mengingatkan, untuk yunior seperti yang di PPLP, jika program dan penanganannya tidak sistematis, dikhawatirkan juga akan menurun.

Salah satu program yang dicanangkannya adalah dengan memperbanyak atlet menjalani kompetisi atau pertandingan. Karena itulah, para atlet lapis utama TI dimatangkan di Korsel, karena di sana sangat padat kejuaraan atau turnamen. Selain itu, Korsel sebagai asal taekwondo pasti memiliki tingkat perkembangan teknik yang sangat cepat.

Pengda TI ingin memperbanyak pengalaman bertanding untuk para atlet supaya insting mereka terasah dan feeling mereka makin peka. Elemen-elemen ini hanya bisa didapatkan dari ruang kompetisi yang padat dengan lawan yang lebih tangguh atau minimal seimbang.

Sementara Bambang Wijanarko yang juga baru pulang dari Korsel, memberi instruksi kepada para atlet di atas matras. Secara umum, dia menyebutkan kualitas teknis taekwondoin sudah bagus, namun masih tetap harus dilakukan perbaikan sesuai dengan tingkat perkembangan teknik terbaru. "Ada hal-hal yang kelihatan kecil, namun sangat prinsip yang harus diperbaiki supaya mendapatkan permainan yang optimal," katanya.


(I Nengah Segara Seni/CN26/SM Network)