• KANAL BERITA

Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Didorong Percepatan Investasi

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tahun 2018 yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional didorong oleh percepatan pertumbuhan investasi dan konsumsi rumah tangga.

Rahmat Dwisaputra Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah mengatakan, investasi tumbuh kuat didukung oleh tingginya investasi pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah.

Investasi di kuartal tiga 2017 mencapai 7,51 persen sedangkan di kuartal tiga 2018 naik menjadi 8,55 persen yaitu untuk investasi tol trans Jawa, bandara, pelabuhan dan bendungan. Hal itu dikatakannya saat menjadi pembicara seminar ekonomi dengan tema "Prospek Bisnis dan Investasi di Jawa Tengah 2019" di Hotel Aston Semarang, Rabu (12/12).

Sementara itu untuk konsumsi rumah tangga juga menguat didorong oleh terjaganya daya beli serta tambahan pendapatan berupa program sosial pemerintah dan kenaikan UMK.

Namun menurut Rahmat impor luar negeri yang terakselerasi secara signifikan di tengah ekspor luar negeri yang meningkat menjadi penahan laju pertumbuhan ekonomi tumbuh lebih tinggi. Untuk ekspor meningkat terbatas sedangkan impor meningkat signifikan. Triwulan tiga 2017 mencapai 4,73 persen dan meningkat 37,00 persen di triwulan tiga 2018.

Bank Indonesia pun bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya untuk terus mendorong investasi dan ekspor serta mendorong produktivitas sektor pariwisata untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.

Prasetyo Aribowo Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah menambahkan, target capaian investasi di Jawa Tengah pada triwulan tiga 2018 telah mencapai 89 persen yaitu Rp 41,8 triliun dari total target Rp 47,5 triliun.

Sisa 11 persen akan lebih banyak disumbang sektor infrastruktur dan energi seperti penyelesaian proyek energi PLTU Batang, PLTU Jepara, Cilacap kemudian beberapa penyelesaian ruas jalan tol. Realisasi investasi di Jawa Tengah mulai dari tahun 2011 sampai 2017 menunjukkan pertumbuhan positif dengan rata-rata pertumbuhan 56 persen pertahun. 

Sementara itu untuk proyeksi investasi 2019 sudah ada beberapa investor yang akan masuk ke Jawa Tengah, tinggal menunggu izin prinsip dan sebagian sudah mendaftar lewat aplikasi. Namun ada beberapa kendala salah satunya persyaratan Amdal di daerah seperti di Semarang.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip FX Sugiyanto menuturkan, efisiensi perekonomian dalam lima tahun terakhir telah membaik ditunjukkan oleh parameter Incremental Capital Output Ratio yang menurun dari 5,73 persen pada 2013 menjadi 5,51 persen di 2017. 

Namun juga terjadi penurunan peringkat daya saing, salah satunya tata kelola pemerintahan yang didalamnya ada aspek keberlanjutan fiskal. Menurutnya hal ini ironis mengingat pelayanan publik provinsi telah mengalami banyak perbaikan mulai dari pelayanan online dan transparan.

Adanya efisiensi pelayanan sistem Online Single Submission (OSS) yang terintegrasi dengan kabupaten kota tidak mudah, karena ada 35 kabupaten kota di Jawa Tengah mempunyai visi yang tidak selaras dengan visi gubernur.


(Cun Cahya, Imam Supriono/CN35/SM Network)