• KANAL BERITA

Semarak Masyarakat Mijen Bersama Suara Merdeka dalam Pesta Rakyat

Sekitar 15.000 warga tumpah ruah di Taman Jatisari, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Minggu (29/12) pagi. Ratusan gunungan ditata berjajar sesuai papan nama masing-masing kelurahan. Gunungan itu ada yang berbentuk ikon Kota Semarang yakni warak ngendok. Adapula gunungan berbentuk naga yang melingkari obor.

Pukul 06.30 gunungan-gunungan itu diarak menuju Kampung Sawah, Kelurahan Tambangan. Barisan terdepan ada Manggala Yudha (pemimpin kirab), prajurit patangpuluhan dari Kelurahan Tambangan, diikuti rombongan yang memanggul gunungan dari berbagai kelurahan di Kecamatan Mijen.

Barisan berikutnya yakni lima dokar atau kereta kuda yang ditunggangi oleh para OPD Kota Semarang. Disusul kemudian, Pasukan Laskar Tambak Yudha di belakang rombongan kereta kuda. Ratusan gunungan itu diarak dari Taman Jatisari menuju Kolam Pemancingan Gebyar Sumyah di RW 2, sebagian dibawa ke tengah sawah. Festival ini menjadi pesta rakyat bagi warga Mijen. 

Tiba di kolam pemancingan Gebyar Sumyah gunungan berisi hasil bumi itu lantas diperebutkan warga. Selain kirab, berbagai macam lomba seperti pertunjukan fesyen remaja, tarik tambang lumpur, tangkap bebek, hingga karapan kerbau digelar di tengah sawah.

Sementara di Gebyar Sumyah ada festival jajan pasar. Di akhir festival, pengunjung dihibur dengan penampilan kuda lumping dari Tambangan. Festival Sawah dan Gunungan Kecamatan Mijen ini diikuti semua kelurahan yang ada di Kecamatan Mijen. Setiap RW di Kecamatan Mijen, SMA dan LPMK masing-masing membawa satu gunungan. 

Warga Kelurahan Wonolopo membawa 4 gunungan, 52 tampah jajan pasar dalam festival tersebut. Warga juga ikut memeriahkan aneka permainan yang dilombakan di tengah sawah. Setiap ada momen festival para pelaku usaha mikro dapat ikut berjualan di sini. Tentu kegiatan ini bisa mendongkrak ekonomi warga.

Camat Mijen, Moh Agus Junaidi, mengatakan, festival yang mengandalkan suasana pedesaan ini menjadi salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan lokal. Kebudayaan itu di antaranya seperti pasukan kaligetas, pasukan patangpuluhan, kuda lumping dan lainnya.

Beberapa budaya dimunculkan kembali agar tidak tenggelam, baik di skala kota maupun nasional. Dia berharap, kegiatan semacam ini dapat meningkatkan pemberdayaan dan ekonomi masyarakat khususnya di Kecamatan Mijen.

Setelah festival ini berbagai kegiatan seperti festival layangan, lomba kicau burung digelar di tengah sawah. Suara Merdeka ikut meramaikan acara tersebut dengan menggelar acara Warga Guyub. Diisi dengan senam sehat dan cek kesehatan gratis bagi warga.

Adapun, Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengapresiasi Festival Kampung Sawah dan Gunungan. Seluruh kelurahan di Kecamatan Mijen ikut serta dalam festival sehingga acara berlangsung meriah. Meski dipersiapkan hanya dalam sepekan namun, mampu menghasilkan hiburan kesenian yang luar biasa. 

Ita, sapaan akrab wakil wali kota itu juga menyanjung Suara Merdeka yang menginisiasi kompetisi Lurah Hebat. Menurutnya, kompetisi itu mampu menggugah pemimpin di tingkat kelurahan untuk semakin kreatif dan inovatif di dalam memimpin wilayahnya.


(Imam Supriono/CN35/SM Network)