• KANAL BERITA

Nekat Memandu ke Yordan, CEO Bergaji PNS

Saat usianya masih belasan tahun, ia nekat menjadi pemandu umrah plus dan perjalanan wisata ke Yordania. Kini, di usianya yang ke 33 tahun, ia telah menjadi CEO Biro Perjalanan Umrah dan Haji Fatimah Zahra Semarang yang telah memberangkatkan lebih dari 150 ribu jamaah umrah. Meski menjadi pemilik, generasi kedua, namun ia rela digaji setara PNS per bulannya.

Tahun 2000 menjadi tahun yang terus dikenang Mochamad Rifky Azady. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas 3 SMP dan kali pertama menjadi pemandu jamaah umrah plus wisata ke Yordania. Padahal saat itu ia belum pernah pergi sama sekali ke Yordania.

Namun sejak saat itu Rifky semakin intens dengan dunia haji dan umrah. Usai pulang sekolah, ia selalu ngantor bersama kedua orang tuanya di biro perjalanan yang didirikan tahun 1992 tersebut. Tahun 2000 itu pula disebutnya sebagai momen pengembangan lantaran telah mendapatkan izin resmi dari pemerintah.

Sebagai generasi kedua, sulung dari tiga bersaudara ini mengaku harus hati-hati dalam pengembangan perusahaan milik keluarga. Perencanaan harus jelas dan manajemen keuangan harus tertata.

Bahkan sebagai CEO, ia rela digaji Rp 20 juta per bulan. Nominal itu ia sebut cukup, bahkan sudah bisa menabung. Sebagai perbandingan, nominal itu hampir sama dengan gaji dan tunjangan eselon II PNS Pemprov yang menjabat sebagai kepala dinas.

Sebagai CEO, Rifky menjalankan 85 persen perusahaan yang dulunya didirikan ayah dan ibunya. Ia total 100% memegang perusahaan sekitar tahun 2007 atau saat ia lulus kuliah dari Jurusan Ekonomi manajemen Undip.

Lantaran sejak remaja telah dididik ikut serta menjalankan Biro Perjalanan, Rifky paham semua lini. Mulai dari urusan administrasi, pembimbingan manasik, urusan tiket penerbangan, hotel, makan, hingga pembimbing di tanah suci. Meski pada awalnya ia tidak terlalu suka dengan bisnis tersebut.

Saat mendampingi jamaah umrah, ada saja pengalaman pahit dan lucu yang pernah didapat. Pernah ada sabotase dari biro perjalanan lain dengan cara mengambil paspor puluhan jamaah Fatimah Zahra. Akibatnya, jamaah tak bisa pulang meski akhirnya ada orang yang mengantar paspor jamaah ke hotel di Arab Saudi. Namun karena sudah mepet dengan jadwal penerbangan pulang maka kepulangan tertunda. Akhirnya perusahaan harus nombok Rp 800 juta untuk biaya hotel dan tiket penerbangan. Lantaran saat itu peak season. Untuk menutup biaya, keluarga harus menjual mobil.

Seiring bertambahnya jamaah yang diberangkatkan maka pihaknya terus meningkatkan SDM dan kualitas pelayanan. Apalagi 60% jamaah yang berangkat merupakan jamaah yang dulu pernah berangkat umrah juga. Inovasi pelayanan publik terus dilakukan. Seperti, tiap dua tahun sekali fasilitas koper diperbarui, begitu juga dengan warna dan motif baju seragam.

Pengenalan Fatimah Zahra ke masyarakat lebih banyak dari mulut-ke mulut. Saat ini ada 5.000-6.000 jamaah yang diberangkatkan tiap tahunnya dengan paket harga mulai dari Rp 24 juta.

Mulai tahun 2012, Fatimah Zahra membangun lokasi manasik haji yang berdiri di lahan seluas 4,3 hektare di Gunung Pati Semarang. Tujuan semula untuk manasik jamaah dari Fatimah Zahra sendiri. Namun, lantaran banyak permintaan dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji, masyarakat dan sekolah untuk manasik maka mulai 2017 dibuka untuk umum. Usaha ini dikelola oleh adik kandungnya yang menjabat sebagai direktur.

Lokasi manasik dibuat sebagaimana aslinya. Bentuk replika Masjidil Haram, Hijr Ismail, Kabah, Raudah dan lainnya. Di lokasi tersebut juga tengah dibangun kebun kurma.

Dalam waktu dekat, Fatimah Zahra juga akan membuka cabang di Solo. Lantaran saat ini telah dibuka rute penerbangan langsung dari Solo-Madinah. Ini dinilai sebagai hal yang menguntungkan jamaah dan perusahaan.

Cabang usaha lain yang juga dikembangkan adalah butik busana muslim. Usaha ini sebenarnya menjadi usaha keluarga yang paling awal. Baginya, menjalankan usaha Biro Perjalanan Umroh dan Haji Fatimah Zahra tak hanya sekadar bisnis dan amanah keluarga tapi merupakan ibadah untuk membantu orang lain ke tanah suci.


(Hanung Soekendro, Imam Supriono/CN35/SM Network)

Komentar