Kecanduan Media Sosial

Memantau media sosial selalu menjadi andalan ketika sedang bosan, sedang menunggu antrean atau ketika tidak ada pekerjaan di kantor. Sekadar meng-update berita terbaru atau menonton video singkat yang lucu, sosial media memang menjadi tempat yang informatif sekaligus menghibur.

Lalu bagaimana bila media sosial telah menjadi candu, bukannya menjadi hiburan, melainkan malah menimbulkan kecemasan? Bagaimana seseorang bisa dikatakan kecanduan sosial media?

Tentunya, apabila ia mengalami pola berulang yang dapat menimbulkan gangguan sehingga berdampak pada kehidupan personal dan relasinya dengan orang lain. Ia juga sering kehilangan kontrol yang ditandai dengan kepuasan segera (jangka pendek) disertai efek kerusakan lain yang tertunda (jangka panjang). Kecanduan sosial media secara lebih luas bisa disebut sebagai kecanduan internet atau smartphone.

Berdasarkan data dari Departemen Medik Kedokteran Jiwa RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta (2018), kecanduan smartphone semakin meningkat di kalangan dewasa muda dunia. Sejumlah 90 % di antaranya menggunakan sosial media pada telepon genggam mereka. Apa saja tanda-tanda bila seseorang mengalami adiksi terhadap internet dan smartphone?

Adanya pikiran berulang untuk memakai internet (preokupasi), jumlah penggunaan yang semakin meningkat (toleransi), kehilangan kontrol (tidak mengenal waktu), tetap menggunakan meski mengetahui adanya dampak negatif, menghindari lingkungan sosial, berbohong mengenai penggunaan internet, ada rasa tidak nyaman ketika tidak menggunakannya (withdrawal).

Kemudian pekerjaan mulai terganggu, terisolasi secara sosial dari keluarga dan teman, merasa takut ketinggalan informasi apabila tidak mengecek smartphone, panik atau cemas bila lupa membawa smartphone, serta menggunakan smartphone secara sembunyi-sembunyi.

“Masalah kecanduan sosial media itu sangat luas. Ada yang jadi memiliki gangguan atau candu karena sosial media, ada juga yang sebelumnya sudah memiliki gangguan, misalnya depresi atau gangguan kecemasan, lalu sosial media merupakan pemicunya,” jelas dr Natalia Dewi Wardani SpKJ, ahli penyakit jiwa dari RSDK Semarang.

Cemas dan Cemburu

Selain itu, ada jenis adiksi yang sering mengacak (tracking) postingan teman-temannya, ada juga yang mengalami cemas berlebihan; cemburu yang merujuk pada satu orang. Baik itu postingan liburan, pekerjaan, kehidupan sosial, hingga hal-hal sepele dalam sehari-hari.

Semua yang diposting, termasuk komentarkomentar yang masuk ke postingan orang tersebut, membuatnya cemburu. Postingan sosial media pada orang tersebut (yang biasanya dia kenal) dianggap selalu menimbulkan banyak apresiasi, seperti mendapat banyak likes dan komentar.

Setiap upload selalu ramai, selalu mendapat respons yang banyak. Sementara dirinya sendiri sering di-bully karena cenderung memposting kegalauan atau hal-hal yang suram. Hal tersebut merupakan gejala dari depresi. “Orang yang interovert biasanya cenderung nyinyir di sosial media. Orang yang kepribadiannya tidak fleksibel juga cenderung nyinyir.

Namun dua hal tersebut bukan merupakan gangguan jiwa, melainkan jenis kepribadian,” tutur dosen Undip Semarang itu. Ia memaparkan, kepribadian fleksibel atau kuat cenderung ingin tahu (curious), dan akan merespon layaknya orang dewasa. Sementara kepribadian tidak fleksibel biasanya akan nyinyir, merasa terganggu atau merasa cemas.

Natalia memberikan beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membatasi diri supaya tidak mengalami cemas atau adiksi terhadap media sosial. Pertama, dari semua postingan di sosial media tersebut, dilihat dan disesuaikan kebutuhan. Jadikan referensi, bukan sebagai hal yang mengancam atau membuat Anda cemburu. Kedua, hindari rasa tidak mau kalah.

Lihat sesuatu sebagai hal yang perlu atau kita butuhkan atau hal yang tidak perlu. Ketiga, sebagai orang tua, buatlah peraturan terhadap penggunaan gawai pada anak-anaknya. Tetapkan waktu tertentu sebagai jamnya bebas gawai. Atau menetapkan penggunaan internet kurang dari tiga jam sehari.

Keempat, bila sedang berlibur, usahakan untuk tidak sebentar- sebentar mengecek smartphone. Gunakan waktu yang ada untuk menikmati liburan. Terakhir, tingkatkan komunikasi dalam keluarga, sehingga mengobrol secara langsung terasa lebih mengasyikkan daripada mengobrol di media sosial . (Irma Mutiara Manggia-49)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar