BACA BUKU

Kisah Memilukan dari Kalimantan

Kali ini, saya hendak membagikan pengalaman membaca Danau Sembuluh karya Muhammad Yasir. Kumpulan cerita pendek (cerpen) ini sedikit-banyak telah mengubah sudut pandang saya tentang Pulau Kalimantan. Kalimantan yang sekarang sangat jauh dari apa yang saya dengar dahulu.

Dulu, saya mendengar lagu tentang Sungai Kapuas, sungai dengan air sebening berlian. Namun, kini, setelah membaca karya Yasir, muncul gambaran betapa keruh air sungai itu. Dan, masyarakat sekitar menggunakan air itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari acap kali tanpa menyaring lebih dulu.

Bagaimana itu bisa terjadi? Lewat 30 cerpen dalam buku ini, Yasir mengajak pembaca memahami kampung halamannya; ragam budaya dan kerusakan yang berlangsung, yang memunculkan kemarahan dia. Ada tiga cerita yang sungguh membuat saya merasa pilu ketika membaca.

Namun itu bukan berarti ke-27 cerita lain tidak menarik. Kisah pertama, ”Isun Mulang”, bercerita tentang kakak-beradik yang ditinggal mati orang tua mereka yang terlindas truk pengangkut kelapa sawit. Sang kakak harus bekerja, menghidupi diri dan adiknya. Suatu ketika ia jatuh sakit karena beban berat bekerja mendulang puya.

Dalam kisah itu, Yasir menggambarkan Isun tegak tegar demi sang adik. Padahal, dua malapetaka menimpa dia akibat aktivitas korporasi. Memang tak terjelaskan bagaimana perusahaan sawit mengganti rugi kematian kedua orang tuanya. Juga atas penyakit yang menghampiri dia. Kisah ini merupakan kritik pedas atas perlindungan dan keselamatan kerja di jantung Borneo.

Kisah kedua, ”Hutan Bukan Pasar”, menyodorkan beberapa perbedaan mendasar sebagai pembuka cerita. Bagian itu lalu dilanjutkan dengan bagian ketika ”para tamu” menapakkan kaki dan ambisi di tanah seberang itu. Kisah itu menjadi bagian yang ”terlalu mendidih”, sehingga saya merasa berubah menjadi uap.

Yasir sangat jujur (seperti dalam cerita lain) menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat di pedalaman Kalimantan menjadi sangat terpengaruh oleh kegiatan, yang mereka kadang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Memiriskan, karena para kapitalis mendapat ”sokongan” dari para tetua adat.

Padahal, mereka hidup lebih lama bersama alam ketimbang sang penulis cerita. Mungkin ungkapan idealisme suatu saat bakal luntur oleh kebutuhan sebenar-benar menjadi kenyataan.

Satu Penyesalan

Kisah ketiga yang memilukan saya adalah ”Enggang”. Dalam kisah yang menjadi penutup buku ini, Yasir menggunakan metafor binatang sebagai tokoh utama. Dia kisahkan dua ekor burung enggang, yang menjadi sampul buku ini, hidup di pinggir Sungai Kapuas; mereka bertemu dan berkeluarga.

Suatu ketika, sang pejantan sakit. Sang betina menggantikan tugas mencari makan. Mereka harus bertarung melawan asap akibat kebakaran hutan. Cerita ini menjadi favorit saya. Bagi saya, metafor burung enggang langsung menyinggung banyak sisi. Itulah keluarga yang terpecah, kematian, pembakaran hutan, perebutan lahan, juga cinta.

Satu hal yang cukup saya sesalkan dari buku ini adalah ketiadaan sudut pandang dari sisi berseberangan dari sang penulis (baca: pemerintah dan lawan). Tidak dia kisahkan, misalnya, apa alasan selain kapitalisme di balik pembukaan lahan di Pulau Kalimantan.

Bagaimana pula kehidupan masyarakat yang setidaknya memiliki akses sedikit lebih karena pengaspalan jalan dan lain-lain. Namun apa pun ”prestasi pembangunan” yang telah ditorehkan, saya rasa akan terbuang percuma ketika menimbulkan korban yang tidak hanya satu, dua, dan hitungan jari di kalangan masyarakat asli.

Sungguh, sangat memalukan bila buku ini sudah sampai di tangan aparat pemerintah, korporat/kapitalis, mahasiswa, atau siapa pun, tetapi ternyata tak juga terjadi perubahan di lapangan sekecil dan seremeh apa pun. Karena, saya yakin, tujuan Yasir menulis kisah-kisah ini adalah untuk membawa daerahnya, pedalaman Kalimantan, ke arah lebih baik. (Dheani Fauziah-44)

Judul : Danau Sembuluh
Penulis : Muhammad Yasir
Penerbit : Literasi Press Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2018
Ukuran : 13 x 19 sentimeter
Tebal : (x +) 214 halaman


Tirto.ID
Loading...
Komentar