Festival Musik Bambu Diharapkan Jadi Acara Tahunan

BATANG- Festival Musik Bambu Nusantara digelar di Jalan Veteran Batang, Sabtu (23/6). Acara ini digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Batang sebagai rangkaian kegiatan menyemarakkan Konferensi Cabang XVII yang akan diadakan pada 14-15 Juli 2018.

Festival yang diikuti 14 grup peserta ini dibuka Bupati Batang Wihaji.

Festival tersebut pertama kali digelar di Kabupaten Batang sebagai wujud apresiasi Nahdlatul Ulama, organisasi keislaman terbesar di Indonesia, terhadap seni tradisi yang telah hidup dan berkembang di masyarakat. Ketua panitia kegiatan, Ahmad Munir Malik mengatakan, Islam dengan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara pada zaman dahulu karena disebarkan dengan jalan damai dan tidak menafikan tradisi serta kebudayaan yang ada di dalam masyarakat. Semangat Islam Nusantara, ujar dia, terletak pada penghargaan kepada perbedaan dan penghormatan terhadap tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan syariat.

”PCNU Batang menggelar Festival Musik Bambu Nusantara ini sebagai bentuk penghargaan seni tradisi asli Nusantara. Apalagi, lagu wajib yang harus dibawakan oleh peserta yaitu Ya Lal Wathon yang berisikan semangat cinta Tanah Air,” tandasnya. Dalam sambutannya, Bupati Wihaji berterima kasih kepada PCNU Batang yang telah menyelenggarakan Festival Musik Bambu Nusantara.

Dirinya berharap, acara ini bisa menjadi event tahunan setelah syawalan karena bisa menjadi daya tarik wisatawan. ”Festival ini sangat sejalan dengan visi Pemkab Batang untuk menggerakan pariwisata melalui program Visit to Batang 2022 dengan tagline ”Batang Heaven of Asia”. Ini karena kesenian merupakan khazanah kebudayaan yang sangat menunjang industri pariwisata,” tuturnya.

Inovasi Lagu

Wihaji menambahkan, Pemkab berjanji akan memperhatikan perkembangan seni musik bambu tradisional sebagai bagian dari promosi pariwisata di Kabupaten Batang. Ia menyadari pagelaran musik semacam ini sudah ada di daerah lain.

Untuk membedakannya, ia menekankan setidaknya ada dua hal. Pertama, jenis musiknya yang lebih diterima di masyarakat Batang dengan menyesuaikan lagu hits yang sedang digandrungi tanpa melupakan lagu-lagu daerah.

”Bisa saja menampilkan inovasi lagu baru seperti lagu guyub rukun yang khas dari Batang. Kedua, ada inovasi penampilan yang dipadukan dengan beberapa tarian lokal Batang sehingga selain menampilkan kolaborasi antara musik dan tari, juga memperkenalkan tarian atau kesenian khas Batang seperti Babalu dan tari Simo Gringsing,” tuturnya.

Adapun para pemenang dari festival tersebut adalah Al Muhajirin dari SMA1 Wonotunggal (juara 1), Laras Hati dari Lokojoyo, Banyuputih (juara 2), An-Nur dari MTs Nurussalam Tersono (juara 3), Gema Sangkuriang dari Kemiri Barat, Subah (juara harapan 1), Bahana Qalbu dari SMA Islam Ahmad Yani Batang (juara harapan 2) dan Tari Bambu Sekar Alang dari Desa Gerlang, Blado (juara harapan 3). (H56-32)