Kupat-Lepet Pererat Persaudaraan

SM/dok : Gunungan ketupat
SM/dok : Gunungan ketupat

KETUPAT adalah penganan dari beras yang dimasak dalam anyaman daun kelapa (yang jika masih muda berwarna kuning disebut janur). Bentuk ketupat biasanya persegi empat. Namun bisa pula dengan variasi bentuk lain.

Fungsi dan rasa ketupat mirip lontong yang terbungkus daun pisang bulat memanjang, yakni sebagai pengganti nasi. Perbedaan rasa dan aroma ketupat dan lontong muncul lantaran pengaruh daun pembungkus yang berbeda. Adapun lepet masuk kategori kue basah atau jajanan, terbuat dari beras ketan terbungkus daun kelapa.

Bungkus daun kepala muda berbentuk memanjang mirip lontong, dengan pengikat merang(jerami) - yang kini acap digantikan tali raffia. Bentuk ketupat dan lepet adalah simbol lingga dan yoni. Mirip lumpang dan alu atau antan. Itulah simbol dalam ritus kesuburan, yang identik dengan masyarakat agraris. Sebagai simbol, ketupat-lepet adalah wujud keberlimpahan pangan. Namun bagi masyarakat Jawa, ketupat atau kupat juga memiliki makna khusus.

Kupat berdasar kirata basa merupakan kependekan dari ungkapan ngaku lepat, mengaku salah. Itulah wujud pengakuan atas kesalahan secara terhantarkan lewat penganan yang memiliki makna simbolik: mengaku salah. Ada pula yang mengartikan kupat sebagai singkatan dari laku papat, empat perbuatan atau tindakan. Pertama, lebaran. Itulah masa ketika puasa sebulan penuh selama Ramadan berakhir, bar, lebar. Puasa adalah menahan segala hasrat atau nafsu duniawi, termasuk menahan lapar dan dahaga. Ketika selama Ramadan, seseorang mampu berpuasa sebulan penuh, dia mencapai atau meraih kemenangan: menang melawan nafsu duniawi. Itulah kemenangan pribadi, yang dirayakan pada hari lebaran. Kedua, luberan yang merupakan cermin kemeluberan atau kebermelimpahan rezeki.

Perkara itu seyogianya dibagi dalam wujud sedekah, yang antara lain berupa pembayaran zakat fitrah. Ketiga, leburan yang diartikan sebagai lebur sudah semua kesalahan setelah saling memaafkan. Keempat, laburan yang berasal dari kata ”labur” dalam bahasa Jawa. Melabur adalah mewarnai dinding rumah dengan air kapur sehingga menjadi putih bersih - yang juga merupakan tamsil dari kebersihan atau kesusian lahir dan batin. Kata ”lepet” juga merupakan singkatan atau kirata basadari silep sing rapet, tutup atau kubur serapat-rapatnya.

Karena itulah, makna yang terkadung dalam hantaran berupa kupat-lepet adalah setelah seseorang mengaku lepat, mengaku bersalah, maafkanlah dan tutuplah rapatrapat kesalahan itu. Tak perlu lagi mengungkap, tak perlu lagi mengingat-ingat. Harapan yang terkandung: kehidupan bersama pulih dalam harmoni, dalam atmosfer persaudaraan. Hubungan antarkawan, antartetangga, antarsaudara pun menjadi makin erat, makin rapat, lengket bak lepet yang terbuat dari ketan.

Begitulah semestinya: ketika seseorang mengaku bersalah, maafkan dalam semangat dan tindakan lebar, luber, lebur, labur. Lalu, tutuplah rapat-rapat kesalahan itu agar tak terulang, agar tak lagi teringat, sehingga kehidupan bersama berlangsung lebih nyaman. (Gunawan Budi Susanto-44)


Berita Terkait
Loading...
Komentar