Pantangan Warga Dusun Ngino, Sleman

Bentuk Hormat pada Mbah Bregas dan Sunan Kalijaga

SM/dok : MENGELILINGI POHON : Pasangan pengantin menjalani prosesi mengelilingi pohon beringin di Dusun Ngino, Margoagung, Seyegan, Sleman, sebagai bagian dari ritual.(24)
SM/dok : MENGELILINGI POHON : Pasangan pengantin menjalani prosesi mengelilingi pohon beringin di Dusun Ngino, Margoagung, Seyegan, Sleman, sebagai bagian dari ritual.(24)

Beberapa daerah di Indonesia mempunyai tradisi unik. Salah satunya adalah Dusun Ngino yang terletak di Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DIY.

MASYARAKAT pedukuhan itu meyakini pantangan menanam daun sirih di sekitar rumah mereka. Keyakinan ini diilhami dari riwayat leluhur Dusun Ngino yang dikenal dengan nama Mbah Bregas. Konon semasa hidup, Mbah Bregas yang merupakan pengikut setia Sunan Kalijaga memiliki kegemaran nginang atau mengunyah daun sirih. Karena itu demi menghormati sosok pepunden mereka, warga pantang menanam daun sirih. ”Itu adalah kearifan lokal yang sampai sekarang masih dilestarikan dan berkembang di tengah masyarakat modern.

Percaya atau tidak, fenomena itu benar-benar terjadi, dan bisa menjadi potensi budaya untuk mendukung keistimewaan DIY,” ungkap Kepala Bidang Dokumentasi, Sarana dan Prasarana Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman Wasita, kemarin.

Bukan hanya pantang menanam daun sirih yang diyakini oleh penduduk Ngino. Mereka juga percaya larangan membuat sumur sebagaimana wejangan Mbah Bregas.

Dituturkan oleh Wasita, pantangan ini bermula dari kisah pertemuan Mbah Bregas dengan Sunan Kalijaga di sebuah daerah yang menjadi cikal-bakal Dusun Ngino. Kala itu, kedua figur pendakwah ajaran Islam ini bertukar pikiran banyak hal tentang agama. Diskusi pun bergulir hingga larut malam. Ketika sedang khusyuk berbincang, Sunan Kalijaga tiba-tiba beranjak pamit untuk mengambil air wudhu. Sang Sunan mengira sudah masuk waktu Shalat Subuh karena mendengar suara gemericik air. ”Beliau pikir, suara itu berasal dari warga yang sedang mengambil air wudhu untuk Shalat Subuh. Karena itu, Sunan Kalijaga hendak bergegas wudhu,” runut Wasita.

Tapi ternyata waktu itu belum masuk waktu shalat. Suara gemericik tersebut bukan berasal dari air wudhu, melainkan warga yang sedang menimba air sumur untuk menyirami tanaman. Dengan perasaan bersalah, Mbah Bregas menjelaskan hal itu kepada Sunan Kalijaga. Mbah Bregas lalu menegur orang yang mengambil air sumur pada dini hari itu. Dari cerita ini kemudian lahir pantangan bagi penduduk untuk memiliki sumur di rumah mereka. Hikayat itu dipercaya turun-temurun. Meski era teknologi sudah berganti serbacanggih, sosok Mbah Bregas masih tetap dihormati. Tiap tahun tepatnya hari Jumat Kliwon pada bulan Mei, masyarakat Dusun Ngino rutin menggelar upacara adat Mbah Bregas.

Selain untuk mengenang suri tauladan leluhur dusun, upacara adat ini juga dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki panen hasil bumi yang dilimpahkan. ”Tradisi ini sampai sekarang masih terus kami pertahankan. Orang tua maupun anak muda semua berbaur saat upacara adat Mbah Bregas,” kata sesepuh adat Ngino, Priyo Sujono (57).

Ikhwal pantangan membuat sumur, dia menjelaskan seiring dinamika sosial, saat ini ada sebagian penduduk yang memiliki sumur di rumahnya. Tapi mereka tetap tidak menggunakan senggot atau alat timba berbahan bambu saat mengambil air. Kondisi ini sedikit berbeda dari zaman dahulu yang sama sekali tidak ada bangunan sumur sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga mengambil air dari sendang atau belik yang ada di sekitar dusun. (Amelia Hapsari-19)


Berita Terkait
Komentar