Pasukan Koalisi Gempur Kubu Terakhir Houthi

ADEN- Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi menggempur Kota Hudaida, Yamen, Rabu (13/6), setelah kelompok pemberontak Houthi mengabaikan batas waktu pengunduran diri dari kota pelabuhan di Laut Merah tersebut.

Ini merupakan pertempuran terbesar dalam perang antara pasukan koalisi dan kelompok Houthi yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir. Laporan sejumlah media di kawasan Timur Tengah menyebutkan, posisi-posisi Houthi dibombardir dari laut dan udara.

Serangan dimulai dengan gempuran darat berskala besar yang disokong gempuran pesawat dan kapal angkatan laut. Serangkaian ledakan terdengar dari pinggiran kota pelabuhan itu, tambah media tersebut.

Hudaidah merupakan pintu masuk utama bagi bantuan kemanusiaan ke Yaman. Krisis kemanusiaan terbesar terjadi di negara itu dan lebih dari tujuh juta orang kini bergantung pada bantuan makanan. Hudaidah yang terletak sekitar 150 km sebelah barat daya ibu kota Sanaa merupakan kota pelabuhan satu-satunya yang masih dikuasai kelompok Houthi.

Menurut Al Arabiya, pasukan Yaman telah berhasil menguasai Nekheila, distrik selatan Hudaida. Sejumlah lembaga bantuan memperingatkan akan ada bencana kemanusiaan jika kota pelabuhan itu diserang. Potensi korban tewas diperkirakan bisa mencapai 250.000 orang. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa.

Beri Ultimatum

Sebelum serangan dilancarkan, Uni Emirat Arab (UEA) yang merupakan bagian dari koalisi Arab Saudi, telah memberikan ultimatum terhadap kubu pemberontak Houthi. Isinya, menyerah atau menghadapi serangan.

Menteri Luar Negeri UEA, Anwar Gargash, mengatakan bahwa koalisi telah kehilangan kesabaran lantaran upaya diplomatik tidak membuahkan hasil selang 48 jam setelah tenggat waktu berakhir. Menurutnya, koalisi menghendaki PBB mengendalikan pelabuhan itu, namun jika pihak Houthi tetap menolak mundur, koalisi siap menempuh aksi militer.

Pemerintah Yaman di bawah kepemimpinan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi merilis pernyataan resmi bahwa semua jalur politik untuk membujuk kelompok Houthi untuk keluar dari kota pelabuhan itu tidak membuahkan hasil.

” Selama ini, pemerintah telah melakukan cara-cara damai dan politis untuk menyingkirkan milisi Houthi dari Hudaida, namun selalu gagal,” bunyi pernyataan Pemerintah Yaman. Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi mengintervensi konflik di Yaman sejak Maret 2015 untuk mendukung Presiden Hadi.

Pasukan koalisi didukung oleh negara-negara Arab, termasuk UEA dan Sudan. Mereka menghadapi kubu pemberontak Houthi yang memperkuat komunitas Zaidi dari minoritas Syiah.

Perang sipil di Yaman telah menewaskan sekitar 10.000 orang selama tiga tahun terakhir dan, menurut PBB, menimbulkan bencana kemanusiaan paling parah di dunia. (aljazeera,bbc-sep- 25)


Baca Juga
Komentar