Masjid Darussalam, Kedunggudel, Sukoharjo

Di Sinilah Pangeran Diponegoro Atur Strategi

SM/Asep Abdullah : KHUSYUK BERIBADAH : Sejumlah jamaah tengah khusyuk beribadah di dalam Masjid Darussalam di Kampung Kedunggudel, Kabupaten Sukoharjo.(24)
SM/Asep Abdullah : KHUSYUK BERIBADAH : Sejumlah jamaah tengah khusyuk beribadah di dalam Masjid Darussalam di Kampung Kedunggudel, Kabupaten Sukoharjo.(24)

Masjid Darussalam menyimpan cerita panjang sejak zaman penjajahan Belanda. Masjid yang berdiri pada abad ke-14 itu menjadi tempat pertemuan Pangeran Diponegoro dan Raja Keraton Surakarta Paku Buwono (PB) VI untuk mengatur strategi melawan penjajah.

SEMILIR angin berkali-kali mengempaskan dedaunan pohon tanjung yang menjadi tetenger di halaman masjid di Dukuh Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo itu. Embusan angin seirama dengan lantunan azan Zuhur yang terdengar merdu dari muazin. Hilir mudik jamaah menambah hidup suasana masjid yang berjarak sekitar 200 meter dari aliran Bengawan Solo. Ketika memasuki ruangan utama, hasil karya akulturasi peradaban Islam, Jawa, Arab, dan Hindu terpampang.

Tiang-tiang dari kayu jati utuh yang berjumlah 16 buah diyakini berasal dari hutan jati Donoloyo di Wonogiri dan berumur ratusan tahun. Ornamen atau ukiran mimbar untuk khotbah yang ada sejak masjid berdiri seakan turut mengisahkan sejarah.

Begitu juga dengan mustaka masjid berlambang bunga Wijaya Kusuma. Karena keunikannya, kerap kali ada warga dari luar daerah yang menapak tilas perjalanan Pangeran

Diponegoro dalam merebut kemerdekaan singgah di masjid tersebut. Tokoh masyarakat Kampung Kedunggudel, Sehono menuturkan, berdasarkan penuturan para sesepuh secara turun temurun, Masjid Darussalam mengalami lika-liku yang cukup panjang sejak zaman Belanda. Tidak hanya menjadi pusat pengembangan Islam di tanah Jawa karena berada di jalur Bengawan Solo yang menyambung ke berbagai daerah di Jateng dan Jatim, tetapi masjid itu juga meninggalkan cerita sejarah yang menarik. ”Pangeran Diponegoro dan Raja Keraton Surakarta PB VI sering bertemu di masjid ini untuk mengatur strategi melawan penjajah,”ujarnya. Namun awalnya masjid yang berjarak sekitar lima kilometer dari pusat pemerintahan Kota Makmur (sebutan Sukoharjo) itu didirikan oleh Kiai Lombok dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia merupakan santri Sunan Kalijaga. Dalam perjalanannya, pada abad ke-14 Kiai Lombok diperintahkan untuk ikut menyiarkan agama Islam. Suatu ketika dia pun tiba di pinggir Bengawan Solo, di tempat yang merupakan cikal bakal Kampung Kedunggudel. ”Beliau babat alas. Membangun wilayah, masjid, dan peradaban,” tutur Sehono.

Menurut dia, tempat yang sebelumnya hutan itu diubah menjadi perkampungan sebagai pusat penyebaran Islam. Kala itu letaknya dikelilingi oleh aliran Bengawan Solo seperti bentuk huruf O, sebelum aliran sungai diluruskan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Waktu berjalan, banyak saudagar yang tinggal di Kedunggudel. Hal ini terlihat dari sejumlah warisan budaya, seperti pusat pembuatan kain batik, jenang, dan makanan tradisional lain. ”Sampai saat ini pembuatan kain batik masih ada,”ucapnya.

Tak Mempan Dibom

Seiring roda waktu berputar, lanjut Sehono, Pangeran Diponegoro yang merupakan putra dari Sultan Hamengkubuwana III juga singgah di masjid tersebut. Dalam catatan sejarah yang diteliti olehnya, Diponegoro sering bertemu secara sembunyi-sembunyi dengan PB VI di masjid untuk mengatur strategi melawan pemerintah kolonial. Namun akhirnya tercium oleh Belanda yang kemudian berusaha menghancurkan masjid. ”Dibombardir, tetapi tidak ada bom yang meledak. Hanya dua yang pecah. Itu pun tak menghancurkan bangunan masjid,”jelasnya.

Dia menambahkan, pada masa PB VIII sekitar tahun 1837, masjid direnovasi. Peresmian masjid hasil renovasi menjadi momentum kebangkitan umat Islam setelah berakhirnya Perang Diponegoro. Hingga kini, masjid itu terpelihara dengan baik. Bahkan sumur ratusan tahun yang diyakini menjadi waragat atau tempat menyimpan harta untuk keperluan perang masih terjaga. Meskipun sangat disayangkan ada tombak yang dicuri oleh orang tidak bertanggung jawab. ”Yang lain masih terjaga, meskipun beberapa bagian luar dipugar karena termakan usia,”papar dia.

Ketua Takmir Masjid Darussalam Muryanto menuturkan, selama Ramadan masjid lebih ramai dibandingkan hari biasa. Sejak matahari terbit hingga terbenam digelar berbagai kegiatan, seperti kajian Islam, tarawih, semaan Alquran, Taman Pendidikan Alquran, hingga buka bersama sebagai ajang mempererat silaturahmi antarwarga.

Selain itu, banyak orang dari luar daerah yang sering iktikaf di sana. Mereka juga berziarah ke makam Kiai Lombok di sebelah barat masjid. ”Kami akan selalu menjaga karena ini warisan leluhur,”jelas Muryanto. (Asep Abdullah-19)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar