Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Banyumas

Saksi Kerukunan Tiga Aliran

SM/Susanto : SEUSAI SHALAT: Warga Cikakak, Kecamatan Wangon seusai Shalat Jumat di Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas.(24)
SM/Susanto : SEUSAI SHALAT: Warga Cikakak, Kecamatan Wangon seusai Shalat Jumat di Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas.(24)

JIKA ingin melihat jejak Islam Jawa di Banyumas, tak lengkap kalau tak berkunjung ke Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon. Di desa yang berlokasi 30 kilometer arah barat daya Kota Purwokerto itu bisa ditemui artefak, situs, hingga eksistensi ribuan warga Islam Jawa yang sarat kebatinan dan tasawuf.

Di bawah perbukitan hutan suaka monyet ekor panjang yang disebut Taman Kera Cikakak inilah, masjid situs purbakala saksi dinamika sejarah Islam itu berdiri.

Tiang tunggal (saka) kayu jati tua berukir setinggi delapan meter dan berangka Arab 1288 masih kuat menyangga atap kubah lancip masjid. Hingga kini bentuk dan sebagian komponen bangunan dijaga keasliannya. Di desa berpenduduk sekitar 7.500 jiwa ini, memasuki Ramadan atau Lebaran, warga muslim terbagi atas pengikut ketetapan pemerintah, pengikut kalender Jawa Alip Selasa Pon (Asapon), dan Alip Rebo Wage (Aboge). Dengan perbedaan metode penghitungan kalender, Cikakak merupakan fenomena desa dengan tiga versi Ramadan dan Lebaran. ”Mau puasa atau Lebaran menurut perhitungan Asapon, Aboge, atau ikut pemerintah, semua tak masalah. Yang penting bisa hidup rukun, gotong royong, dan cukup pangan-sandang-papan. Zaman Soekarno masih sama, satu Lebaran, tetapi sejak zaman Soeharto mulai berbeda. Ada yang Lebaran dulu, baru kemudian kami pengikut Aboge ,” kata Madisman (91), warga saksi tiga puasa dan Lebaran di Cikakak.

Berbeda dari pengikut Lebaran versi pemerintah, para pengikut Aboge atau Asapon meyakini awal bulan Jawa didasarkan pada perhitungan Jawa Aboge atau Asapon. Perhitungan waktu terbagi dalam siklus windu atau delapan tahunan yang setiap tahun disebut tahun ‘’kuruf’’, yaitu tahun Alip, He, Jim Awal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jim Akhir. Tiap tahun atau bulan mempunyai rumus perhitungan yang tetap. ”Kalau rumus menghitung hari pasaran awal bulan sama, namun jika Aboge maka yang menjadi rumus pokok adalah awal tahun Jawa, yaitu 1 Syura atau Muharam adalah hari pasaran Rebo Wage, sementara Asapon adalah hari pasaran Selasa Pon. Makanya selisih satu hari. Bulan puasa tetap lengkap 30 hari,” jelas Sulam, juru kunci Masjid Saka Tunggal.

Selain perhitungan kalender Aboge yang menjadi acuan waktu beribadah dan aktivitas keseharian, jamaah masjid itu juga masih menjalankan tradisi yang dipercaya sebagai warisan pendiri masjid yaitu Kiai Toleh atau Mustolih. Sebelum Ramadan tiba, pada bulan Rajab, ribuan warga sekitar dan luar Banyumas mengikuti Jaro Rajab atau prosesi penggantian pagar bambu yang mengelilingi makam Kyai Toleh, rumah juru kunci, dan kompleks masjid sepanjang 1.000 meter. Pada bulan Syakban, tradisi sadranan, yaitu berziarah ke makam leluhur dan berkirim makanan kepada keluarga dan juru kunci, juga masih terjaga.

Di masjid yang konon didirikan sebelum Walisanga datang ini, relasi sejarah agama dan budaya Banyumas, Cirebon, dan Pajajaran masih terlihat kuat. Ini terlihat dari berbagai cerita lisan yang menyertai sejarah yang melingkupi Masjid Saka Tunggal. Sesuai cerita lisan, masjid yang sebelumnya beratapkan ijuk dan berdinding kayu ini didirikan pada hari Jumat Kliwon. Ulama dari Cirebon turut membantu pendirian masjid.

Kumandang Shalawat

”Mereka datang memikul tumpeng pakan sewu yang konon bisa mengenyangkan perut 1.000 orang. Namun menjelang sampai di masjid, bunyi beduk bertalu dan masjid telah rampung berdiri. Akhirnya pikulan dari batang kayu wuni itu ditancapkan terbalik dan situs wuni sungsang ini dulu ada di sekitar lokasi masjid ini,” kata Ikhsan (66), salah seorang warga. Disebutkan oleh Ikhsan, banyak artefak peninggalan yang masih utuh dan terjaga di Masjid Saka Tunggal. Selain saka tunggal, masih terjaga pula mimbar kotbah yang mimbarnya konon berasal dari Demak dan Cirebon. Selain itu ada tongkat kotbah dan beduk peninggalan masa lampau yang masih digunakan sebagai sarana ibadah hingga sekarang. Selain artefak, pengunjung Masjid Saka Tunggal juga akan merasakan nuansa keagamaan masa lampau yang khas. Setiap Jumat dan Idul Fitri, shalat ditandai dengan kumandang shalawat dari seorang bilal dan empat muazin (pengumandang azan) dengan nada mirip tembang macapat.

Mereka mengenakan jubah putih panjang, bersarung, dan memakai ikat kepala dari kain batik wulung (hitam keunguan). ”Tak berbeda dari muazin, imam, dan khatib pun menggunakan pakaian yang sama dan melantunkan khotbah dengan bahasa Arab seluruhnya. Tempat khotib ditutup kelambu putih sehingga tak terlihat. Lantunan shalawat nabi dan zikir khas juga mengiringi awal dan akhir ibadah Jumat di masjid ini,” jelas Farid Dimyati (30), warga lainnya.

Sebagai bagian jejak Islam Jawa di Banyumas, struktural tetua adat, sesepuh atau tokoh penjaga ajaran masih terjaga secara turun temurun di Cikakak. Di kompleks masjid di kabupaten yang sarat perlintasan budaya Jawa dan Sunda ini terdapat tiga juru kunci yang memegang peran agama, penjaga ajaran tarekat, dan berbagai tradisi selamatan Saka Tunggal. Mereka menempati tiga rumah di kanan-kiri masjid dengan arsitektur khas Jawa Banyumas yang didominasi kayu. ”Di sini ada tiga juru kunci, dhuwur, tengah, dan lebak (atas, tengah, bawah). Biasanya di rumah mereka, warga sekitar atau tamu dari luar daerah menghadap dan bersilaturahmi tiap hari tertentu. Ada pula yang meminta doa restu untuk keperluan tertentu,” ujar Farid. (Susanto- 19)


Berita Terkait
Komentar