Harmoni Islam-Hindu yang Terjaga

Masjid Laweyan Solo

SM/Setyo Wiyono : BERIBADAH : Masyarakat beribadah di Masjid tua Laweyan Solo. (55)
SM/Setyo Wiyono : BERIBADAH : Masyarakat beribadah di Masjid tua Laweyan Solo. (55)

Masjid ini konon dibangun pada masa Kerajaan Pajang. Dan dalam usianya yang hampir 500 tahun masjid ini masih berdiri kokoh dan berfungsi baik.

BUKAN Masjid Agung Keraton Surakarta, juga bukan Masjid Al Wustho Pura Mangkunegaran. Namun masjid tertua itu adalah Masjid Laweyan atau dikenal dengan Masjid Ki Ageng Henis.

Masjid tua ini memiliki banyak sejarah menarik tentang Solo. Masjid Laweyan, sebagaimana dengan namanya, memang berada di wilayah Laweyan. Laweyan adalah nama wilayah kelurahan dan kecamatan di Surakarta. Letaknya berada di sisi barat daya pusat kota. Dibandingkan Masjid Agung dan Al Wustho, Masjid Laweyan boleh jadi memang kalah tenar. Namun, bukan berarti keberadaan tempat ibadah ini kalah menarik.

Apalagi usianya ditengarai jauh lebih tua dibanding kedua masjid tersebut. ”Masjid Laweyan berdiri atas inisiatif Ki Ageng Genis (Henis) pada masa Kerajaan Kasultanan Pajang tahun 1548-1568,” ujar Heri Priyatmoko, sejarawan muda Solo.

Satu lagi yang menarik adalah bahwa keberadaan masjid ini masih berfungsi dengan baik hingga sekarang. Artinya, meski usianya sudah tua, masjid itu masih bisa difungsikan sebagai tempat ibadah.

Khususnya bagi masyarakat Laweyan dan sekitarnya. Sebuah fakta yang sangat menarik adalah bahwa Masjid Laweyan ini ternyata dulunya adalah sebuah pura. Pura untuk beribadah umat Hindu itu kemudian dialihfungsikan menjadi masjid. Semua terjadi karena hubungan baik dan harmonis antara Ki Ageng Henis dan tokoh Hindu kala itu, Ki Ageng Beluk. ”Masjid Laweyan sejatinya adalah bentuk kompromi Islam yang diwakili Ki Ageng Genis dan Hindu yang diwakili Ki Ageng Beluk. Meski sebagai pendatang, semangat Islam yang ramah Ki Ageng Henis bisa diterima dengan baik,” ujar Heri Priyatmoko.

Menurut dia, peristiwa sejarah itu membawa pesan tentang kehidupan yang harmonis antarumat beragama. Sebab Ki Ageng Genis yang membawa paham Islam diterima oleh Ki Ageng Beluk dan pengikutnya yang menganut paham Hindu. Kedua tokoh dan para pengikut hidup rukun secara berdampingan. ”Masjid itu kemudian ramai oleh pengikut Ki Ageng Henis. Meski demikian ritual kungkum umat Hindu di sungai Laweyan (samping masjid) tetap berjalan baik. Itulah bukti harmoni,” terang dia.

Sekadar catatan, Masjid Laweyan didirikan pada 1546. Dengan kata lain, usia masjid tersebut sudah hampir 500 tahun. Ki Ageng Henis dan Ki Ageng Beluk merupakan tokoh-tokoh ternama di Laweyan pada masa Kerajaan Pajang, yang dipimpin Sultan Hadiwijaya dan menjadi penerus Kerajaan Demak.

Dengan sejarah yang seperti itu, wajar jika arsitektur masjid berbeda dengan masjid-masjid lain. Khususnya dalam perpaduan antara arsitektur Islam dan Hindu yang sekaligus menjadi saksi bisu sejarah masjid tersebut. Dan itu masih bertahan hingga kini.

Sekarang

Meski sudah berusia nyaris 500 tahun, bangunan masjid masih berdiri kokoh, sekokoh aktivitas religi lingkungan masjid yang masih hidup dengan baik hingga sekarang. Termasuk saat memasuki Ramadan seperti sekarang. Ya, memasuki Ramadan seperti sekarang, kehidupan masjid tua itu semakin semarak. Bahkan itu sudah terlihat ketika kaki belum memasuki halaman masjid.

Dari jauh, lingkungan masjid sudah terasa meriah oleh hiasan warna warni dengan teraan tulisan pesan moral tentang Ramadan. ”Kami menyemarakkan Ramadan tahun ini dengan banyak kegiatan religi. Sebut saja madrasah Ramadan, mabit anak, bakti sosial, iktikaf, dan tentu tak lupa takbiran serta halalbihalal,” ujar Sutanto, takmir masjid.

Menjelang bulan Puasa, kawasan masjid ramai sadranan. Namun sadranan tidak dipusatkan di masjid, melainkan di makam yang terletak tak jauh dari masjid. Karena yang dimakamkan para leluhur bangsawan Keraton Surakarta, maka yang sering melakukan sadranan juga para bangsawan dari keraton. ”Biasanya, kami menggelar sadranan setiap Ruwah menjelang bulan Puasa,” ujar Kanjeng Pangeran Raditya Lintang Sasongka, salah seorang bangsawan dari Keraton Surakarta. (Wisnu Kisawa-31)


Berita Terkait
Komentar