Napas Budaya Karimunjawa

Matahari terbenam dari tepi pantai Karimunjawa
Matahari terbenam dari tepi pantai Karimunjawa

Kepulauan Karimunjawa bukan cuma soal pesona alam, yang dikenal bak surga di Laut Jawa. Kehidupan masyarakat dengan budaya bertani dan menjala ikan pun punya daya tarik tersendiri. Dan, itulah yang membuat saya berkehendak menyeberang ke kepulauan itu.

Perjalanan selama empat jam saat menyeberang dari Pantai Kartini Jepara menggunakan kapal motor penyeberangan (KMP) jenis feri berkapasitas 150 penumpang ke Pelabuhan Karimunjawa terasa tak terburu-buru.

Bagi penumpang yang sering mabuk laut, kapal itu cukup menenangkan selama dalam perjalanan. Begitu turun dari kapal, saya melajukan sepeda motor selama satu jam menuju ke Dusun Telaga, Pulau Kemujan. Kepulauan Karimunjawa di Kapubaten Jepara merupakan kecamatan yang mempunyai 27 pulau. Sepuluh pulau berpenduduk sekitar 10.000 orang.

Pulau Kemujan berada di utara Pulau Karimunjawa, dengan pemisah selat kecil yang lebih mirip sungai. Saya melewati Bandar Udara Dewadaru. Hampir setengah panjang landasan bandar udara saya tempuh, sepeda motor saya belokkan ke kanan, memasuki Pantai Bunga Jabe. Kawasan itu mempunyai penginapan berkonsep ramah lingkungan.

Penginapan berbentuk rumah kecil yang disebut rumah kurcaci. Saya tidak segera beristirahat di rumah itu. Pantai yang dikelola Bambang Zakaria, Yarhan Ambon, dan David Burhan Opick itu berada di tengah permukiman warga keturunan Bugis. Bunga Jabe adalah bahasa Bugis yang berarti bunga putri malu.

Warga penghuni menempati rumah panggung kayu. Anak-anak warga didampingi Opick saat itu sedang mempersiapkan pertunjukan ketemprak. Kesenian itu mereka adopsi dari seni ketoprak, teater, dan emprak -- kesenian khas Jepara.

Mereka membangun kesenian itu didampingi pegiat seni pertunjukan, Widyo ''Babahe'' Leksono. Mereka mempersiapkan penampilan selama sebulan. Lakon soal Candi Prambanan mereka persiapkan untuk berpentas pada Festival Memeden Sawah Karimunjawa 2018 di Dusun Cikmas.

Itulah satu-satunya area persawahan di Karimunjawa. Pertunjukan berlangsung Sabtu (5/5) malam. Anak-anak yang terlibat pementasan tidak hanya dari keturunan Bugis. Beberapa keturunan Madura. Karimunjawa memang dihuni lima suku, yakni Jawa, Madura, Bugis, Bajo, dan Mandar.

Tampak sepeda motor beroda tiga dengan bak terbuka dihias memedi sawah atau orangorangan berbahan jerami. Alat musik gamelan, antara lain saron, bonang, kendang, gong, mereka tata. Sore hari instrumen itu mereka mainkan untuk mengiringi arakarakan pada festival, sedangkan pada malam hari mengiringi pertunjukan ketemprak. Saat arak-arakan, anak-anak yang berpentas ketemprak menjadi penabuh gamelan.

Kali Kedua

Arak-arakan dimulai dari pertigaan Dusun Cikmas yang merupakan jalan utama. Perjalanan darat dari pelabuhan menuju Bandar Udara Dewandaru melewati jalan utama itu. Tokoh masyarakat, gunungan, memedi sawah karya petani, serta masyarakat Karimunjawa beriringan berjalan sekitar 1 kilometer menuju sawah.

Para wanita dan anak kecil mengenakan bedak dingin di wajah. Kostum mereka adalah pakaian keseharian petani. Perempuan berkebaya, jarik, dan bercaping. Pria berkaus, kemeja, celana kain, dan bercaping pula.

Festival Memeden Sawah kali ini adalah kali kedua. Sebelumnya dilaksanakan pada April 2017. Ritual budaya itu melibatkan masyarakat petani Karimunjawa. Itulah hasil kerja masyarakat Karimunjawa, Yayasan Pitulikur Pulo Karimunjawa, dan Kelompk Tani Sopo Nyono. Arak-arakan ditutup dengan pemasangan memedi sawah di persawahan, lalu mereka makan bersama.

Arak-arakan selesai, saya menyempatkan diri mengunjungi Pantai Tanjung Gelam. Di pantai itu, wisatawan acap berkumpul pada sore hari. Cerita yang beredar, proses matahari tenggelam di pantai itu menjadi pemandangan tiada dua di Karimunjawa. Di pantai itu pula ada Batu Topeng. Susunan batu di pinggir pantai itu jika dilihat dari laut berbentuk seperti topeng.

Pada malam hari, ketemprak berpentas, disaksikan masyarakat dan wisatawan. Tingkah anak-anak di panggung kerap membuat penonton tertawa. Pementasan tidak berakhir di area persawahan saja. Keesokan hari, ketemprak mendapat kesempatan berpentas lagi pada kegiatan yang diorganisasikan tim Green Peace dengan nama ''Hajatan Anak Pulau''.

Pada kegiatan di Pantai Bunga Jabe itu, sebagian anak baik lelaki maupun perempuan yang menjadi pemain ketemprak berdandan seperti pendekar. Acara diawali pertunjukan para pendekar anak-anak. Gamelan ditabuh, jurus-jurus pencak silat Baruga dari Bugis ditampilkan. Salah satu guru adalah Bambang Zakaria.

Pria yang berbusana bak Kapten Jack Sparrow dalam film Pirates Caribbean itu menjadi pengiring musik. Ketua Yayasan Swadaya Masyarakat Alam Karimun (Akar) itu biasa dipanggil Bang Jack. Itulah kegiatan dan warna budaya yang masih terjaga di Karimunjawa. Terus hidup di antara napas yang menghangatkan kehidupan antarmanusia. (Aristya Kusuma Verdana-44)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar