Gayeng Bareng

Emosi Cinta

Oleh Adi Ekopriyono

PADA bulan suci penuh rahmat, Ramadan ini, marilah kita bicara soal cinta. Bukan cinta sembarang cinta, melainkan emosi cinta. Cinta yang dilandasi kasih sayang kepada sesama manusia, siapa pun manusia itu.

Ada dua kata. Emosi dan cinta.

Jangan keliru paham dulu tentang kata "emosi". Selama ini sering muncul pemahaman yang tidak tepat. Emosi sering dipandang sebagai faktor yang selalu negatif, yang harus dihindari. Misalnya, emosi sekadar diidentikkan dengan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, pesimisme, atau hal-hal negatif lain.

Emosi apa pun sebenarnya dapat diarahkan untuk menggerakkan langkah positif, meraih cita-cita, menggapai prestasi. Dalam kamus, emosional diartikan sebagai penuh perasaan. Jadi hal-hal yang berkait dengan perasaan, itulah emosional. Berarti tidak selalu negatif.

Ada pula yang berpendapat, emosi bisa negatif, bisa pula positif. Jadi istilah baper (bawa perasaan) pun bisa negatif, bisa positif. Apa pun jenis emosinya, kuncinya terletak pada seberapa jauh seseorang mampu mengendalikan atau mengelola emosi. Semua emosi dapat dimanfaatkan menjadi energi positif.

Contoh, seorang murid yang di-bully teman-temannya. Ia marah, tapi kemarahannya justru membuat ia bersemangat belajar meraih nilai bagus, mengalahkan teman-teman yang mem-bully.

Contoh lain, seorang karyawan yang tidak mendapat upah layak, lalu kecewa. Ia mampu mengelola kekecewaan itu, kemudian membuka usaha (berwiraswasta) untuk membuktikan mampu mencari nafkah yang lebih dari sekadar menjadi karyawan.

Bayangkan, betapa dahsyat jika langkah-langkah kita didorong emosi cinta. Bukankah hidup yang dilandasi cinta niscaya mendatangkan kedamaian, kesejukan, kemaslahatan bagi umat manusia?

***

EMOSI cinta mengalahkan segala-galanya. Amor vicit omnia, begitulah ungkapan Latin kuno.

"Bukan saja membuat kita mampu mendaki gunung dan menyeberangi samudra, emosi cinta pun sanggup membuat kita berkarya di luar batas kemampuan yang kita sadar," tulis Anthony Dio Martin dalam Emotional Quality Management (2003).

Cinta dalam bahasa Latin disebut amoratau caritas. Bahasa Yunani membedakan cinta dalam tiga istilah, yaitu philia, eros, dan agape. Philia berkonotasi cinta dalam persahabatan. Eros (dan amor) adalah cinta berdasar keinginan. Agape(dan caritas) merupakan tipe cinta yang tidak mementingkan diri sendiri.

Filsuf Yunani, Plato, menyebutkan semua tipe cinta adalah cinta pada keindahan. Bentuk yang sempurna adalah cinta pada bentuk abstrak keindahan itu. Aristoteles meneruskan pengertian cinta platonis sebagai keinginan pada yang sempurna (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 2000).

Cinta, apa pun jenisnya, memerlukan keikhlasan dan kesabaran. Hanya orang yang ikhlas dan sabar yang mampu mempraktikkan cinta dalam kehidupan seharihari.

Inti ikhlas adalah tidak mengharapkan imbalan apa pun, kecuali rida Allah. Tentu hal itu pun berlaku dalam hal ibadah. Ungkapan Jawa menyebutkan, ngibadah karana Allah. Beribadah semata-mata karena Allah, bukan karena manusia, bukan karena mengharap pahala, bukan karena kepentingan lain.

Kata "sabar" berasal dari bahasa Arab shobaro, yang berarti menahan. Sabar adalah menahan diri dari segala macam bentuk kesulitan, kesedihan. Sabar itu menahan diri menghadapi segala sesuatu yang tidak disukai dan dibenci.

Makna lebih luas, sabar adalah menahan diri agar tidak mudah marah, berkeluh-kesah, benci, dendam, tidak mudah putus asa, melatih diri dalam ketaatan dan membentengi diri agar tidak melakukan perbuatan keji dan maksiat. Kesabaran itu sikap dan perilaku yang dilandasi kemenyatuan pikiran, jiwa, dan raga. Kata Ki Ageng Suryamentaram: saiki, neng kene. Kata kaum postmodernis: kekinian dan kedisinian.

Orang yang sabar selalu mampu mengendalikan pikiran, jiwa, dan raga agar menyatu, tidak "mengembara" sendiri-sendiri. Kesabaran tidak berbatas. Kesabaran yang terbatas, sesungguhnya bukanlah kesabaran.

***

EMOSI cinta adalah perpaduan antara keikhlasan dan kesabaran. Puasa memupuk keikhlasan dan kesabaran. Raga yang lapar dan dahaga akan memantik kepekaan jiwa seseorang untuk berinteraksi dengan pikiran, mengendalikan kehidupan. Ketika raga lapar dan dahaga, pikiran lebih jernih, jiwa lebih bersih.

Puasa bukan sekadar menahan diri untuk tidak makan dan minum, melainkan menekan emosi negatif, mengubah menjadi energi positif.

Emosi cinta adalah energi positif, yang dapat menggerakkan langkah siapa pun untuk mencapai cita-cita luhur. Termasuk mencapai cita-cita mendekat dan meraih rida Allah.

Maka, marilah kita pupuk emosi cinta kita agar hidup ini lebih bermakna.

"Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Semua hasratkeinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta," kata Khalil Gibran. (44)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar