Jaga Keseimbangan Alam, UKM Pesos Tanam Mangrove

MENANAM bibit mangrove di sekeliling pulau? Mendengarnya saja sudah terbayang asyiknya. Lalu bagaimana dengan jelajah hutan mangrove dengan menaiki perahu? Hmm, sepertinya tak kalah seru....

Kendati matahari menyengat, para sukarelawan UKM Peduli Sosial (Pesos) Universitas Diponegoro tetap semangat. Hari itu, Sabtu (5/5), mereka terlibat dalam Gerakan Tanam Mangrove (Grove) 2018.

Grove merupakan agenda tahunan Divisi Lingkungan Alam UKM Pesos. Sebagai info, UKM yang lahir 11 Januari 2013 ini punya enam divisi, yakni Kesehatan, Pendidikan, Komunikasi, Budaya dan Seni, Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), dan Lingkungan Alam. Tahun lalu, Grove mengambil tempat di Pantai Mangunharjo, Mangkang, Semarang.

Memasuki tahun kedua, Grove pindah area. Kali ini UKM Pesos menyasar ke Desa Tapak Tugurejo, Tugu, Semarang. Secara lokasi, dari pusat kota Semarang, Desa Tapak Tugurejo lebih mudah dijangkau.

Namun, bukan itu yang membuat Grove menggeser lokasi. ”Selain membantu keseimbangan alam melalui penanaman mangrove, saat ini Desa Tapak sedang dicanangkan sebagai destinasi wisata. Jadi, dengan mengadakan acara di sana kami sekaligus memperkenalkan potensi wisata desa itu,” jelas Humas UKM Pesos, Yulli Diah Dwi Lestari.

Ketua Divisi Lingkungan Hidup Dibyo Prasetyo mengaku terkesan dengan penerimaan warga Desa Tapak terhadap kegiatan Grove. ”Mereka sangat terbuka pada kegiatan semacam ini. Saat Grove, warga membantu dari segi penyediaan kapal, konsumsi, dan tempat istirahat,” tuturnya.

Selain warga, UKM Pesos menggandeng Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Komunitas Prenjak selaku pencinta lingkungan dan penggiat tanaman mangrove, serta bekerja sama dengan pihak sponsor.

Adapun jumlah peserta, semula Grove menargetkan 150-an orang. ”Tapi karena keterbatasan waktu, kami kurang gencar mempromosikan Grove. Akibatnya hanya 65 peserta yang mendaftar,” Ketua Grove 2018 Zidhan Mustafa menjelaskan. Beruntung, kuantitas peserta tak mengurangi esensi acara.

Menyusuri Hutan Mangrove

Prinsip ”Sekali mendayung, dua pulau terlampaui” tercapai pada Grove tahun ini. Betapa tidak, tak cuma berkesempatan menanam bibit mangrove, peserta dapat bonus tak kalah seru: menyusuri hutan mangrove menggunakan perahu.

Tiap perahu yang berisi 8-10 peserta menembus lorong hutan mangrove. Suasana tak terlalu gelap karena cahaya matahari masih bisa menembus kerimbunan mangrove tersebut. Selama 30 menit perjalanan, barulah mereka sampai di lokasi penanaman, yakni Pulau Tirang. Tiba di sana, peserta lantas melakukan tugasnya untuk menanam mangrove di sekeliling pulau. Dari 6.000 bibit yang terkumpul, hanya 4.000 yang tertanam lantaran keterbatasan lahan di pulau tersebut.

Sisa bibit lainnya bakal ditanam UKM Pesos di lain waktu. Proses penanaman tak berlangsung lama. Ini karena beberapa hari sebelumnya panitia sudah lebih dulu memasang penyangga (ajir) agar bibit mangrove tidak mudah goyah. ”Pemasangan ajir itu sangat menghemat waktu. Ketika hari penanaman, peserta tinggal fokus menanam bibit mangrovenya,” tutur Yulli.

Menurut Yulli, kendala saat penanaman sebatas medan yang berupa pasir. Lantaran pasir, proses penggalian ”mudah-tak mudah”. Terlebih karena berlokasi di pulau, arus air muncul dari segala arah. Ini membuat bibit mangrove mudah terombang-ambing. Namun selebihnya, proses penanaman berjalan lancar.

Meski, perlu diingat bahwa kemudahan proses menanam mangrove tidak berbanding lurus dengan tingkat bertahan hidup bibitbibit tersebut. Dari total yang ditanam, 35 persen bibit bisa tetap bertahan sudah termasuk menggembirakan.

Maka, sebagai wujud tanggung jawab, dalam beberapa bulan ke depan UKM Pesos akan melakukan pengecekan ke lokasi penanaman.(Sofie Dwi Rifayani-53)


Tirto.ID
Loading...
Komentar