BI Kaji Suku Bunga Acuan

Dolar AS Sempat Tembus Rp 14.100

Darmin Nasution
Darmin Nasution

JAKARTA - Dolar AS menembus Rp 14.100 sebelum akhirnya ditutup di level Rp 14.055, kemarin. Data perdagangan Reuters menyebutkan Rabu siang mata uang Paman Sam itu menyentuh posisi tertinggi di level Rp 14.105.

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan dalam waktu dekat Bank Indonesia (BI) akan me-review atau mengkaji kebijakan suku bunga acuan 7 Days Repo Reverse Rate.

”Iya bisa bergerak, tapi saya berharap BI akan rapat dewan gubernur (RDG) bulanan, rasanya besok,” tutur dia di kompleks Istana, Jakarta, kemarin. Darmin menyebutkan dalam RDG bulanan itu, Bank Sentral akan melakukan tindakan-tindakan yang mene kan nilai dolar AS yang tinggi. 

Salah satunya, me-review kebijakan suku bunga acuan. Rabu pagi dolar AS sudah mengambil ancang-ancang penguatan pada posisi Rp 14.070, lebih tinggi dari Selasa Rp 14.017.

Pada sesi siang, dolar AS berada di kisaran Rp 14.105. Penguatan dolar AS tidak hanya dirasakan rupiah, yen Jepang juga ikut melemah hingga menyentuh level 110,260 pada pukul 10.55 WIB.

Nilai tukar dolar AS terhadap yen Jepang menyentuh level 110,340. Penguatan dolar AS juga dirasakan ringgit Malaysia yang saat ini berada di level 3,954.

Nilai tukar dolar AS terhadap ringgit Malaysia sebelumnya 3,9600. Nilai tukar dolar AS terhadap dolar Singapura saat ini berada di level 1,3418 atau melemah dari sebelumnya yang berada di level 1,3452.

Dolar AS terhadap dolar Hong Kong berada di level 7,8498 dari sebelumnya 7,8499. Nilai tukar dolar AS terhadap dolar Hong Kong bergerak fluktuatif.

Lantas, apa sebenarnya dampak pelemahan rupiah bagi perekonomian Indonesia? Nilai tukar salah satu instrumen yang dipakai baik oleh pemerintah maupun swasta untuk mendukung berbagai aktivitas ekonomi, di antaranya sumber pendanaan, perdagangan lintas negara, dan pariwisata.

Ketika terjadi pelemahan rupiah, bisa memberikan dampak positif atau negatif bagi perekonomian nasional. Tim riset CNBC Indonesia menyebutkan ketika rupiah melemah, bisa berdampak pada peningkatan jumlah utang yang harus dilunasi karena rupiah lebih rendah harganya dibandingkan dengan dolar AS. Pelemahan rupiah membuat beban peminjam makin besar.

Bagi pemerintah, akan membebani APBN karena telah menetapkan asumsi nilai tukar pada APBN 2018 di kisaran Rp 13.400 per dolar AS. Selisih kurs membuat pemerintah harus mengeluarkan dana lebih besar untuk melunasi pokok dan bunga utang yang sudah jatuh tempo.

Di sisi lain, bisa menganggu pembangunan ekonomi karena dana yang seharusnya untuk pembangunan terserap untuk membayar utang.

Bagi swasta, pelemahan akan membebani finansial sehingga menghambat proses produksi. Dampaknya, menurunkan tingkat produktivitas dan lebih luas lagi, pertumbuhan ekonomi nasional tertahan.

Namun, pelemahan rupiah sebenarnya menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan surplus perdagangan. Surplus dapat lebih besar jika mampu menggenjot tingkat ekspor mereka lebih tinggi lagi, terutama ke negara-negara mitra dagang utama, yakni Tiongkok, Australia, dan AS.

Di antara komoditas ekspor yang dapat dimaksimalkan selain minyak dan gas adalah CPO. Indonesia bersama Malaysia merupakan pengekspor utama CPO di dunia dengan pangsa pasar hampir 50 persen.

Di samping ekspor, tingkat impor perlu diwaspadai. Harga barang impor bisa jauh lebih mahal. Keadaan akan membebani masyarakat karena mereka harus membayar lebih mahal akibat pelemahan rupiah.

Pelemahan rupiah juga menjadi momentum untuk mendapatkan keuntungan dari para wisatawan mancanegara. Jumlah uang ditukarkan oleh mereka akan lebih besar dan berpotensi meningkatkan tingkat konsumsinya. (B6,dtc-18)


Berita Terkait
Komentar