Masjid Taqwa Sekayu

Kebersamaan di Tengah Kota

SYAR KUNO-KINI

SM/Maulana M Fahmi  -  BERDIRI KOKOH : Pelataran bangunan Masjid Taqwa Sekayu, Semarang, Rabu (16/5). (24)
SM/Maulana M Fahmi - BERDIRI KOKOH : Pelataran bangunan Masjid Taqwa Sekayu, Semarang, Rabu (16/5). (24)

Masjid Taqwa yang terletak di Kampung Sekayu, Kota Semarang ini termasuk yang tertua. Masjid ini didirikan oleh seorang ulama bernama Kiai Kamal dari Cirebon.

SEKUMPULAN anak laki-laki sedang bermain bola plastik di depan pelataran Masjid Taqwa Sekayu. Ada juga anak perempuan mengenakan baju dan jilbab merah muda sedang asyik berkeliling dengan sepedanya yang berwarna senada. Kegiatan bermain para anak-anak itu seketika berhenti tatkala azan berkumandang dari masjid itu.

Mereka lalu pulang ke rumah masing-masing. Tak lama kemudian, anak-anak tersebut keluar rumah dengan membawa peralatan salat.

Mereka menuju masjid dan bersiap melaksanakan salat berjamaah. Seusai melaksanakan salat berjamaah, mereka bersiap kembali untuk mengaji. Sore hari tidak hanya dihabiskan untuk bermain saja, tetapi juga mempelajari agama dengan mengaji bersama-sama.

Hal itulah yang tertanam dalam diri anak-anak di Sekayu yang termasuk Kecamatan Semarang Tengah. Keberadaan Masjid Taqwa Sekayu dimanfaatkan dengan baik oleh warga sekitar dan menjadi kunci kebersamaan di wilayah tersebut.

Sebelum berganti nama menjadi Masjid Taqwa, masjid itu bernama Pekayuan. Ketua Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Sekayu Achmad Arief mengatakan, meski sudah terhitung tua, masjid tersebut masih sering digunakan warga beraktivitas.

”Meskipun sudah berumur, masyarakat masih sering menggunakan Masjid Taqwa untuk beraktivitas. Setiap sore ada TPA Al-Islam. TPA itu ada jenjang kelasnya, seperti selayaknya belajar mengaji di tempat lain,” ujar pria yang akrab disapa Arief, Rabu (16/5).

Dia menambahkan, berbagai kegiatan seringkali dilaksanakan. Remaja masjid, Karang Taruna, pihak kelurahan, serta masyarakat saling bersinergi untuk mensukseskan kegiatan yang ada di masjid maupun di kampung Sekayu.

Sementara itu, memasuki bulan Ramadan, berbagai kegiatan telah dipersiapkan, diantaranya tarhib Ramadan, kerja bakti di sekitar masjid, sahur on the road, bagi-bagi takjil, bakti sosial, zakat fitrah, hingga tadarus Alquran.

”Jadwal dan keseluruhan kegiatan sudah dipersiapkan sejak jauh hari, tinggal pelaksanaannya saja. Remaja masjid di sini memang aktif jadi kami tidak pernah sepi kegiatan.

Salah satu yang khas di sini adalah pelaksanaan salat tarawih. Jika mengikuti salat tarawih di sini, masyarakat bisa memilih ingin mengerjakan salat 11 atau 23 rakaat,” tutur Arief. Setelah 11 rakaat, imbuh dia, akan ada tausiah.

Jika masyarakat ingin mengikuti salat tarawih 11 rakaat, mereka bisa pulang setelah tausiah selesai. Sementara itu, bagi masyarakat yang ingin mengerjakan 23 rakaat bisa melanjutkannya secara berjamaah.

Mengalami renovasi berulang dan terakhir kali pada 2006, beberapa bagian dari masjid tersebut masih asli, diantaranya mustaka, pintu utama, dan ukiran kayu tiang di dalam masjid. Selain itu, di samping kiri tempat imam salat, terdapat makam Kiai Kamal.

”Saya berharap, dari anak-anak di TPA nanti bisa meneruskan. Mereka bisa kembali ke Sekayu dan membantu progam-program yang ada. Apalagi ke depan wilayah Sekayu akan dijadikan objek wisata religi.

Masjid ini sudah bersertifikat, kegiatan terencana, tamu banyak, kegiatan rutin dari anakanak, ibu-ibu, maupun bapak-bapak juga ada. Tinggal bagaimana menjaga masjid ini,” papar dia. (Resla Aknaita Chak-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar