Tradisi Padusan di Kolam Renang Tirtomoyo

SOLO - Menyambut Ramadan 1439 H, tradisi padusan biasa dilakukan masyarakat untuk menyucikan diri.Kota Solo yang tidak memiliki umbul atau mata air yang dibendung menjadi kolam, memanfaatkan kolam renang yang berada di tengah kota. Kolam Renang Tirtomoyo yang terletak di Jalan Menteri Supeno,Manahan, Banjarsari, Solo, merupakan tempat alternatif masyarakat Solo. ”Sebagai tradisi masyarakat, kolam renang Tirtomoyo Manahan biasa menjadi alternatif melakukan budaya tersebut. Secara bentuk memang tidak sebaik di Boyolali dan Klaten,” jelas Kasi Pengembangan Usaha Perumda Air Minum (PDAM) Kota Surakarta, Ratmoko, Rabu (16/5).

Menurutnya, fasilitas milik Pemkot Surakarta itu memberikan alternatif bagi masyarakat yang biasa melakukan tradisi padusan menjelang puasa sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh ke mata air yang biasa digunakan padusan. ”Kami memberikan alternatif lain bagi masyarakat Solo. Kami kembalikan kepada masyarakat untuk memilih, sehingga tradisi dalam menyucikan diri sebelum puasa itu bisa tetap dilakukan,” ujar Ratmoko.

Berbeda dengan umbul pada umumnya, di kolam Tirtomoyo itu pengunjung didominasi anakanak hingga remaja. Walau begitu orang tua yang sekedar mengantarkan anak juga ikut berenang di kolam yang kerap digunakan untuk perlombaan dan latihan atlet renang tersebut.

Tidak Banyak

Lebih lanjut, Ratmoko megakui, jumlah pengunjung pada padusan tahun 2018 itu tidak sebanyak 2017. Pada 2017 jumlah pengunjung mencapai lebih kurang 3.000 orang, sedangkan tahun ini hanya setengahnya. ”Tahun 2018 sekitar 1.200 pengunjung yang datang. Kami buka mulai pukul 08.00-17.00, namun pengunjung tidak sebanyak tahun 2017 lalu. Sebab, masa liburan sekolah belum datang, selain itu peristiwa bom bunuh diri di Surabaya, menjadi salah satu faktor berkurangnya pengunjung,” jelasnya.

Namun dirinya tetap optimistis, peristiwa tersebut tidak membuat masyarakat Solo takut beraktivitas diluar rumah. Salah seorang warga Jebres Tumino mengatakan, dia dan keluarga selalu menyempatkan melakukan tradisi tersebut. Selain menguri-uri budaya yang ada, kegiatan dia lakukan untuk berolahraga sembari bersenang -senang. ”Dalam menyambut puasa umat muslim harus bahagia.

Maka dari itu kebiasaan saya dan keluarga melakukan padusan itu kami anggap sebagai hiburan dan juga olahraga. Sehingga dalam melakukan puasa ini kami tidak terbebani dengan rutinitas sehari-hari,” ungkapnya. (ihm-21)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar