Kekeringan Mengancam Lahan Petani

Puncak Diprediksi Agustus

KLATEN - Musim kemarau mulai mengancam lahan pertanian di Kabupaten Klaten menyusul mulai menyusutnya debit air sungai. Penyusutan disebabkan sudah sebulan tidak ada hujan.

”Pasokan air mulai kurang ke lahan,” ungkap Giman, petani padi warga Desa Japanan, Kecamatan Cawas, Rabu (16/5).

Dikatakannya, sudah sepekan ini air mulai sulit di daerahnya setelah tidak turun hujan sekitar sebulan. Meski belum macet total tetapi untuk mencari air harus menunggu antrean setelah lahan di hulu cukup. Berkurangnya air itu disebabkan debit air di Sungai Dengkeng pun sudah berkurang setelah tidak hujan sebulan. Padahal selama ini lahan padi di Kecamatan Cawas sebagian mengandalkan pasokan dari sungai itu. Pasokan utama berasal dari Bendung Tukuman yang dialirkan ke desa-desa di sekitarnya. Sungai Dengkeng merupakan sungai terbesar di wilayahnya.

Saat musim penghujan menjadi pusat penampung air dari bebagai wilayah. Bahkan kadang menyebabkan banjir. Namun saat masuk musim kemarau air tidak ada dan mengering. Beberapa hari terakhir mendung tetapi belum ada hujan kiriman. Sarimin, warga Desa Juwiran, Kecamatan Juwiring mengatakan di desanya air masih mencukupi. Sepanjang tahun air tidak pernah kering karena berasal dari mata air Cokro di Desa Daleman, Kecamatan Tulung yang mengalir lewat Kecamatan Polanharjo dan Juwiring. ” Namun sudah ada beberapa desa lain yang menggunakan pompa,” katanya.

Musim Tanam

Daerah yang sudah menggunakan pompa, kata Sarmin, seperti Desa Juwiring dan Kanaiban. Di wilayah itu air dari bendung saat mulai kemarau kadang tidak sampai ke lahan di bawah. Sebagian petani menggunakan pompa disel untuk menyedot air di sumur dalam. Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pemkab Klaten, Harjoko mengatakan meskipun sudah tidak ada hujan tetapi kekeringan belum mempengaruhi pasokan di lahan. Berkurangnya debit dinilai wajar sebab hujan sudah tidak turun sebulan. ”Diperkirakan puncak kemarau nanti di bulan Agustus,” jelasnya. Saat bulan Agustus, lahan rawan kekeringan sebab masuk musim tanam (MT) III di semua wilayah. Petani harus mulai berhitung dalam penggunaan air mulai saat ini. Rawa Jombor yang memasok air ke Kecamatan Bayat, Trucuk dan Cawas posisinya masih aman.

Belum ada pengurangan debit signifikan. Pasokan air saat hujan dari Sungai Bajing, Gebyok, Duwet, Sedon dan Winong masih ada di rawa. Pada bulan Juli sampai Agustus kemungkinan baru akan dialirkan sebagai suplisi ke lahan di bawahnya untuk persiapan tanam di MT III. (H34-21)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar