Megengan, Tradisi Sambut Ramadan

MENYAMBUT Ramadan, ribuan warga menyaksikan tradisi Megengan yang digelar Pemkab Demak di Alun-alun, kemarin. Tradisi tersebut diisi dengan selamatan, dan dimeriahkan sejumlah pertunjukkan kesenian tradisional seperti tari zippin, rebana, sendratari Haryo Penangsang Mbalelo, dan sendratari Suko-suko Megengan.

Bupati Demak Muhammad Natsir, membuka Megengan dengan memukul beduk, disaksikan semua pejabat Pemkab Demak dan jajaran Forkopimda. Hadir pula para ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Usai pembukaan dan menyaksikan hiburan kesenian, mereka menikmati aneka kuliner khas Demak, yang berjajar di sepanjang tepi Jalan Sultan Fatah.

Bersiap Berpuasa

Makanan tersebut di antaranya makanan khas dari Desa Doreng yaitu nasi doreng, nasi rawon, rames, lontong opor, lentok, sate kerang, sate keong, sate kambing serta seafood. Terdapat pula kudapan trancam, keluban, pecel, jajanan pasar, jamu coro, jambu Jawa serta aneka makanan rebus hasil bumi. Bupati Muhammad Natsir mengatakan Megengan yang digelar setiap tahun menjelang Ramadan, dimaksudkan sebagai pertanda bagi kaum muslim, untuk bersiap-siap berpuasa, menahan semua hawa nafsu dan fokus menjalankan ibadah. Tradisi tersebut, imbuh Kepala Dinas Pariwisata, Rudi Santosa merupakan ungkapan syukur dan gembira menyambut bulan Suci.

Dalam bahasa Jawa, Megengan bermakna menahan. Yang berarti sebagai suatu peringatan memasuki bulan Ramadan di mana umat Islam diwajibkan untuk berpuasa menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga demi mendapatkan ridla Allah Swt. ”Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Walisongo, dan hingga kini masih bertahan,” terangnya. (Hasan Hamid-42)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar