Ulama Panutan Umat

Mengenang Kiai Nuh Pageraji

Oleh Akhmad Saefudin

BAYI kecil Muhammad Nuh lahir di Mekkah tahun 1900. Ketika itu seorang ibu muda tengah menunaikan ibadah haji dalam keadaan hamil tua. Setelah merasa kuat menempuh perjalanan jauh, bayi Nuh pun dibawanya pulang ke Tanah Air.

Di kemudian hari, pemuda Nuh kembali ke Tanah Suci untuk menuntut ilmu. Sebelum kembali mukim di Mekkah, ia terlebih dulu menimba ilmu di sejumlah pesantren, antara lain Pesantren Termas (Pacitan), Krapyak (Yogyakarta), dan Cirebon.

Sanad ilmu Alquran diperoleh pemuda Nuh dari KH Munawwir Krapyak. Teman seangkatan semasa di Krapyak antara lain KH Arwani Kudus. Ayah Kiai Nuh, KH Abdurrohim, adalah pengasuh pesantren di daerah Karangjati Sampang.

Adapun Kiai Abu Amar Karangjati yang dikenal sebagai hafizul Quran (Penghafal Alquran) pada masa itu, tak lain adalah adik kandung Kiai Nuh. Kiai Nuh sendiri mulai menekuni dakwah di masyarakat sejak tahun 1935. Selanjutnya, merintis Pondok Pesantren Daarul Hikmah di Desa Pageraji Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Di hari-hari biasa santrinya sekitar 30 orang.

Beberapa hari menjelang bulan suci Ramadan jumlahnya bisa membengkak hingga sepuluh kali lipat. Para santri datang dari berbagai daerah untuk mengaji Alquran serta tabarukan (ngalap berkah) pada KH Muhammad Nuh (Kiai Nuh). Pemandangan tersebut tersua di pesantren setempat pada tahun 1940-an hingga 1986.

Kiai Nuh (1900-1986) termasuk ulama langka. Almarhum dikenal hafizul Quran sekaligus ahli hikmah. Menurut KH Zainurrohman Pasiraja, almarhum adalah hafizul Quran generasi pertama yang asli putra daerah Banyumas.

Saat mengisi pengajian, Kiai Nuh tak sekadar memberi penjelasan tentang maksud suatu ayat. Beliau tak segan-segan mengijazahkan pada para santri saat menjumpai ayat-ayat hikmah. Pengalaman seperti ini dirasakan Kiai Afif Sahri Kedungbanteng di tahun 1974, saat dirinya mengaji Alquran pada Kiai Nuh.

Di balik kehidupan Kiai Nuh, banyak hal yang patut dicontoh dan diteladani. Sekadar catatan, Kiai Nuh punya kebiasaan bangun dini hari untuk salat tahajud dan zikir hingga menjelang Shubuh. Setelah salat Shubuh, beliau mulai mengajar Alquran hingga pukul tujuh pagi. Semasa hidupnya, Kiai Nuh termasuk salah satu ulama rujukan bagi umat.

Tidak sedikit orang yang sowan beliau untuk mendapat pemecahan dan jalan keluar atas berbagai persoalan yang mereka hadapi. Selain dikenal penyabar, Kiai Nuh juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Ketika hendak bepergian ke luar daerah, misalnya, setiba di terminal bus beliau tak segan-segan menyambangi pengemis untuk memberi sedekah.

Saat berkunjung ke rumah orang tua wali santri, Kiai Nuh hampir dapat dipastikan selalu membawa oleh-oleh sebagai tanda kasih. Tak jarang Kiai Nuh menenteng gula merah untuk santri-santri yang dikunjunginya. Demikian kenang Ustaz Mahbub, putra bungsu almarhum. Bertukar pikir dengan sesama ulama adalah kebiasaan yang acap kali dilakukan almarhum.

Kiai Muzni Karangcengis, Kiai Umar Jalil Bobosan, Kiai Sodik Pasiraja, Kiai Sholeh Pancasan, Kiai Chusnan Sidabowa, dan Habib Jaífar Kranggan adalah beberapa ulama sezaman yang sering berkumpul dan berdiskusi dengannya. Kiai Nuh meninggal dunia pada Ahad Manis 11 Dzulhijjah 1407 (17 Agustus 1986) pada usia 86 tahun. Almarhum menurunkan 16 orang putra, enam di antaranya ajal cilik alias wafat semasa kecil.

Kiai Nuh terbilang kreatif dalam memberi nama putra-putrinya. Pasalnya, semua anaknya diberi nama inisial M, yakni Maímur, Maírifah, Mahsus, Mastur, Maslahah, Marfuíah, Mahrus, Maítuf, Marchum, dan Mahbub. Meskipun telah berpulang ke haribaan Allah sejak tiga dekade silam, kharisma beliau masih terasa hingga kini.

Sepeninggal almarhum, pengelolaan Pesantren Daarul Hikmah dilanjutkan oleh anak-anaknya. Program Tahfiz Alquran diasuh oleh KH Marchum bin Nuh; sementara itu, KH Maítuf bin Nuh mengampu kajian kitab kuning. (20)


Baca Juga
Komentar